Banyak hal bisa terbantu atas dasar pertemanan, tapi tak sedikit pengalaman atas dasar relasi ini juga melahirkan kerugian-kerugian. Seperti yang saya alami akhir-akhir ini. Saya merasa tertipu atas barang investasi berharga yang tertitip pada teman dekat.

Awalnya, sebagai sepasang suami-istri yang sudah mempunyai dua anak, investasi bukan hanya cita-cita, tapi sudah harus berwujud nyata. Untuk itu kami berdiskusi tentang jenis barang investasi. Emas sempat jadi perbincangan. Tapi karena berbagai alasan, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada sapi.

Pilihan barang investasi ini, sebenarnya lebih pada alasan kultural. Ya, kami berdua kebetulan Pasutri dengan background masa kecil dari desa. Dan sapi diantara aktor sentralnya.

Saya semenjak SD merawat sapi : nyapu tlethong, menyapu kotoran sapi kala pagi sebelum berangkat sekolah dan ngaret, cari rumput kalau hari libur sekolah. Kalau istri, menurutnya dia sering menggembala, sering nuntun sapi menyusuri pematang sawah yang baru dipanen.

Intinya, sapi memiliki sejarah istimewa, ikut andil dan dekat dalam catatan sejarah perjalanan hidup kami masing-masing. Bahkan saya masih ingat di kampung halaman. Sapi merupakan simbol kekayaan seseorang. Kandangnya, biasa diletakkan di halaman depan rumah. Sama halnya posisi garasi dengan isi mobil atau motor era sekarang.

Nah, atas dasar itulah kami memilih sapi sebagai barang investasi bersama. Setidaknya saya dan istri memiliki bekal pengetahuan atas barang yang kami investasikan.

Saya mau pelihara sendiri? Tentu tidak. Kebetulan ada teman yang profesinya sebagai pemelihara sapinya orang. Dan kami mau menitipkan rawat sapi padanya. Lebih tepatnya, teman ini sekampung di tanah rantau. Istilah sekampung ini hanya merujuk bahwa kami satu pulau. Teman ini, sejak saya kenal beberapa tahun sebelumnya, dia pekerja keras nan ulet. Saban hari, Pagi dan sore cari pakan sapi dan diantara aktivitasnya itu, dia biasa juga kerja proyek bangunan.

Tahun berganti. Saya hijrah, pindah kerja ke kabupaten lain. Meskipun begitu, pada sapi dan teman sekampung tadi, dugaan saya tak berpindah sedikit pun. Bahwa sapi saya berada ditangan ahlinya, seorang teman sekampung yang pekerja keras dan profesional dibidang per-sapi-an.

***

Sampai akhirnya, dengar kabar bahwa teman sekampung tadi tiba-tiba menghilang!. Ia tak lagi berdomisili di sana. Tak ada informasi pasti soal keberadaannya. Pada si pembawa kabar, saya hanya ajukan pertanyaan. Masih ada sapi di sana?. “Sudah tidak ada, sudah habis dibagi-bagi kata orang sekitar,”.

Mendengar itu, saya hanya memejamkan mata, membayangkan bagaimana dia adalah pekerja keras yang kuat. Saya coba hubungi nomor HPnya, Ndak aktif, saya cek lagi kontak terakhir, saya WA, juga tak terkirim.

Saya membolak-balikkan pertanyaan dalam diri, mana mungkin seorang pekerja keras bisa menipu? Kalau dia bisa mendapatkan uang dengan jalan begitu, kenapa selama ini dia bekerja dengan begitu gigih, membanting tulang bertahu-tahun? Apalagi saya sudah bertahun-tahun kenal, akrab, sekampung lagi.

Saya mencoba memberitahu istri dengan pelan. ”Coba cek ulang, siapa tahu dia hanya pulang kampung sementara,”katanya.

Saya kroscek lagi untuk memastikan. Jawaban tetap sama. Tiada yang tahu di mana rimbanya, bahkan pada pesannya ditambahi dengan foto lahan kosong: tak ada sapi, tak ada kandang. Sembari melihat-lihat ulang foto, saya hanya bisa tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, hah...

Tiba-tiba ingatan saya juga terhempas ke beberapa tahun sebelumnya. Saya, tepatnya kami berdua juga merasa tertipu oleh teman dekat. Seingat saya kejadian seperti ini sudah yang ketiga kalinya.

Pertama, pada seorang teman saya memberinya sejumlah uang tanda jadi pembelian sebuah perumahan. Ternyata perumahan yang dijanjikan tak pernah jadi dibangun dan uang tanda jadi itu tentu saja menguap begitu saja. Saya pernah mencoba menanyakan, tapi diberi jawaban klise, nanti dan nanti. Saya berhenti menanyakan, sampai sekarang.

Kejadian kedua hampir serupa. Bedanya saya membantu menjualkan rumah tetangga pada teman, tapi karena uangnya teman ini belum cukup, saya memberi tambahan uang muka. Belakangan, ternyata rumah tersebut tidak jadi dibeli. Sesuai perjanjian awal, tentu uang muka tersebut raib juga.

***

Ditipu teman sendiri!. Mungkin saja karena kewaspadaan yang runtuh pada ‘rasa teman’. Atau bisa saja logika saya yang tak lagi bisa beroperasi normal, takluk pada ‘rasa dekat’. Di sinilah ruang pertahanan diri saya terbuka. Tak sampai pada prasangka bahwa teman, orang yang selama ini dekat menghadirkan sesuatu yang merugikan.

Apakah pertemanan identik dengan hal buruk?, tentu tidak. Saya diantara orang yang tidak bisa ‘hidup’ tanpa teman. Saya dapat kerja karena teman, masalah banyak terselesaikan karena bantuan orang sekitar, dan dapat pasangan hidup juga karena teman dekat. Bahkan kalau misal beberapa hari tidak ada teman yang datang ke rumah, saya biasa sengaja memanggilnya untuk sekedar ngopi dan ngobrol.

Pertemanan bagi saya adalah investasi sosial yang tak tertandingi dibanding investasi barang yang masih terus saya rancang. Bahkan, pertemanan adalah investasi yang akan saya wariskan pada anak cucu mendatang.

Lha penuturan pengalaman pertemanan tak menyenangkan sebelumnya?. Meskipun pada teman, ini bukti bahwa saya masih butuh waktu kalau memaafkan, apalagi untuk melupakan. Pengalaman itu pula yang membuat saya menjadi ragu dan bahkan kapok menjalin pertemanan yang kemudian membumbuinya dengan urusan pragmatis, bisnis dan semacamnya, karena dampaknya lebih sering tidak mengenakkan.

Mending saya berteman atas dasar urusan hahahihi saja, ringan, lebih santai dan saling membahagiakan. Ngumpul, ngopi, cerita-cerita ringan sembarang yang penting bisa tertawa bersama. Hal yang semoga bisa menjadi momen sela di tengah ketegangan menghadapi pandemi yang masih saja menggila.