Kemarin siang (9/6), saat saya sedang memasuki gudang rumah, tiba-tiba saya mendengar suara “kresek-kresek” dari sudut ruangan. Saya mencoba mencari-cari ke arah sumber suara, barangkali akan ada seekor hewan yang bisa saya temukan.

Dari pengalaman saya yang sudah-sudah, biasanya suara itu kalau tidak ditimbulkan oleh cicak, ya tikus. Dan dalam waktu sekejap saja saya sudah menemukan sumber suara itu. Ternyata ia berasal dari tas kresek yang berisi tumpukan piring-piring warisan dari nenek.

Karena masih diliputi rasa penasaran, saya pun terus mencoba mengamati isi dalam bungkusan kresek itu. Benarlah dugaan saya, saya mendapati ada seekor binatang yang berekor panjang. Dugaan saya, sudah pasti itu adalah tikus. Saya terus memandangi kresek yang masih berbunyi “kresek-kresek” secara perlahan itu sambil menunggu hewan itu keluar.

Setelah menunggu selama beberapa saat, saya dibuat terkejut bukan main. Ternyata sosok hewan yang saya nanti-nantikan akan keluar dari dalam tas itu bukanlah tikus, melainkan seekor ular yang dengan penuh tenangnya ia merayapi mulut kresek sambil menjulur-julurkan lidah.

Walahdalah. Dalam angan-angan saya, jelas ini adalah masalah yang serius jika tidak segera diatasi. Apalagi di rumah saya ada anak-anak kecil yang biasa bermain-main di sana.

Saya mencoba menenangkan diri sambil mengingat apa yang pernah dikatakan oleh bapak saya tentang hewan yang bergaris lurus dari punggung hingga ujung ekor itu. Beliau yang seorang petani dan seringkali berhadapan dengan hewan itu, pada suatu kesempatan pernah bercerita pada saya bahwa sebenarnya hewan ular itu takut dengan manusia. Buktinya adalah mereka akan selalu menghindar ketika berpapasan dengan kita.

Dengan kondisi saya yang sudah agak tenang setelah mengingat-ingat wejangan dari bapak ini, saya pun mencari sapu dan cikrak yang berganggang untuk menghalau ular itu agar ia keluar dari dalam gudang menuju ke tempat yang lebih lapang.

Alhamdulillah, usaha saya untuk menghalau ular itu agar keluar dari gudang pada akhirnya berhasil, meski sebelumnya saya harus berusaha harus menggiringnya dengan penuh ketenangan dengan sapu rumahan itu.

Beberapa kali saya sempat memasukkan ular yang seukuran jari kelingking itu ke dalam cikrak, sehingga saya pun berinisiatif untuk mengamankannya ke dalam timba.

Saya pun dengan sigap segera meminta isteri saya untuk membantu mencarikan kaleng bekas wadah cat untuk menampung ular yang sedang nyasar ke dalam rumah itu untuk sementara waktu.

Setelah ia mencarikan timba dan saya berhasil memasukkan ular itu ke dalamnya saya pun segera memindahkannya ke dalam wadah cat yang berukuran lebih kecil dan menutup bagian atasnya.

Oleh karena tutup cat itu tidak dapat menutup secara rapat maka saya pun mengikatnya dengan tali rafia agar tutup itu tidak sampai bergeser apalagi terbuka sehingga ular itu pun akan keluar dan meloloskan diri.

Begitu proses demi proses yang cukup mendebarkan ini usai, saya pun berencana untuk memindahkan anak ular yang malang itu ke habitat aslinya, yakni di area persawahan.

Saya membungkus kaleng bekas cat yang berisi ular itu dengan kresek besar agar memudahkan saya saat membawanya dengan sepeda motor menuju area persawahan.

Sepeda motor saya pacu secara perlahan dengan tas kresek berisi anak ular yang saya tempatkan pada cantolan sisi kanan bawah kendaraan.

Saat membawa ular itu, dalam hati saya tetap saja berdegup tak karuan. Saya merasa khawatir jangan-jangan tutup kaleng itu akan sedikit bergeser sehingga ular pun akan keluar dan menggigit kaki saya. Tapi, syukurlah apa yang saya bayangkan itu tidak sampai terjadi.

Saat saya telah sampai di area persawahan, saya mencari lokasi yang agak rimbun di mana ular itu sekiranya akan merasa nyaman pada saat menempati habitat barunya. Saya pun pada akhirnya menemukan sebuah parit yang di pinggirnya terdapat pohon waru yang cukup rindang.

Sepertinya tempat ini cocok untuk melepasnya, gumam saya.

Dengan tetap memperhatikan protokol kehati-hatian, saya pun berencana melepas ular itu di sana. Ikatan tali rafia saya lepas. Tutup kaleng cat saya buka dengan penuh kewaspadaan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah saya merasa proses ini berlangsung dengan lancar tanpa terjadi apa-apa pada diri saya, maka badan cat pun saya gulingkan secara perlahan. Sejurus kemudian, saya melihat ular kecil itu merayap keluar dari dalam kaleng cat dengan begitu tenangnya. Ia terus saja merayap dan semakin menjauh dari jangkauan mata saya.

Setelah peristiwa itu saya menjadi teringat tentang populasi ular sawah yang saat ini jumlahnya terus menurun secara drastis, sehingga keadaan ini pun berimbas pada semakin merajalelanya tikus-tikus liar yang menyerang tanaman milik para petani di daerah kami.

Pada musim tanam kemarin, bahkan banyak diantara petani di daerah kami yang mengeluhkan gagal panen gara-gara tanaman mereka diserang oleh hama yang terkenal dalam film kartun sebagai sosok Jerry ini.

Padahal, segala upaya telah mereka lakukan untuk menghalau dan membasmi binatang ini. Mulai dari memasang perangkap hingga menaburi racun tikus di sekitar lubang rumah mereka. Namun, tetap saja, usaha mereka itu seakan nirguna tanpa hasil.

Barangkali dengan hadirnya kembali sosok ular sebagai pemburu alami dari hewan pengerat ini akan semakin bisa menurunkan populasi mereka yang dampak berikutnya juga akan meningkatkan hasil panen dari para petani. (*)