Pertama, kata ‘literasi’ yang saya gunakan bukan bermakna gerakan ‘meningkatkan ketekunan membaca saja’ (apa gunanya cuma tekun membaca?), melainkan sebagai ‘kecakapan menggunakan pengalaman terlibat pembelajaran dalam keseharian’. 

Definisi ini sangat mirip dengan definisi OECD. Memang organisasi multilateral yang berkantor di Paris itu berpengaruh kepada saya secara tertulis. Hal ini tampak kentara dari setiap artikel tentang ‘literasi’ yang saya terbitkan, boleh dibilang selalu terdapat referensi kepada OECD.

Kedua, menulis paper (untuk jurnal dan/atau prosiding) adalah cara belajar saya, yang kebetulan gemar menulis serta untuk saat ini sudah tidak terikat dengan pendidikan formal (saya masih malas kuliah strata dua). Cara ini bukan otentik dari saya, melainkan ditiru dari model pembelajaran sorogan yang dialami sebagai santri pondok pesantren. 

Bedanya kalau pembelajaran sorogan dilakukan dengan menyajikan secara lisan kajian terhadap teks kitab kuning, dalam menulis paper saya menyajikan secara tertulis dan/atau lisan. Penyajian lisan itu yang terjadi ketika mengikuti kolokium.

Ketiga, Syarofis Siayah (Ofis) pernah menyampaikan ungkapan paling mengesankan kepada saya bahwa al-Qur’an menggunakan kata ‘aql dalam bentuk fi’il mudhori’, bukan fi’il madhi dan ism, sebagai pesan bahwa ‘aql harus dipekerjakan terus menerus, tak boleh berhenti apalagi sekadar dibendakan. 

Ketika saya elaborasi lebih lanjut, beberapa ayat al-Qur’an yang menggunakan fi’il mudhori’ tampak punya kecenderungan ‘harus terus menerus’. Misalnya ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’inu. Karena ungkapan Ofis itu, saya bisa menemukan keselarasan antara teks al-Taubat ayat 122 dengan hadits uhtlub al-‘ilma min al-mahdi ila al-lahdi dan gagasan literasi (sesuai makna yang disampaikan di atas).

Ketiga hal tersebut tampak perlu disampaikan lebih dahulu untuk mengurangi kegagalpahaman terhadap kegemaran saya menulis paper. Setiya Utari menjadi sosok pertama dan utama yang mengarahkan dan membimbing saya, secara khusus, untuk aspek pertama yakni ‘literasi’. Buk Ut memulai dengan menyarankan kepada saya agar mengerjakan topik ‘literasi saintifik’ untuk skripsi saya.

Selepas wisuda, Buk Ut kemudian ‘memasang badan’ untuk siap menjadi pembimbing berlanjut ketika saya menulis paper, meski dalam keadaan tidak kuliah secara formal. Nah, di sinilah letak aspek kedua, atau dapat dikatakan saya sorogan kepada Buk Ut.

Kedua aspek tersebut adalah bentuk konkret dari perilaku sesuai dengan aspek ketiga yang saya sebutkan. Kebetulan karena saya punya kegemaran menulis, bentuk konkretnya muncul dalam bentuk penulisan paper. Berdasarkan hal ini, saya kerap menyebut Surotul Ilmiyah punya kapling permanen dalam perjalanan saya. Ini terjadi karena Ilmy adalah orang yang secara teknis mengajari saya menulis artikel, mulai berita, esai, feature, sampai jurnal akademik.

Itu adalah intro singkat—maunya, tapi kepanjangan jadinya—terkait beberapa ungkapan yang saya peroleh sejak come back home mengikuti Seminar Nasional Fisika VI (SiNaFi VI) pada 24 November 2018 sampai as if it’s your last ketika kembali terlibat sebagai pemakalah dalam Seminar Nasional Fisika V (SiNaFi 5.0) pada 23 November 2019 lalu. SiNaFi IV berhasil membuat saya kembali punya semangat untuk kembali menulis paper akademik seiring hanya menulis artikel populer saja sepanjang 2018. Sementara SiNaFi V adalah hilir dari riset pada 2019 sekaligus hulu untuk plan riset pada 2020.

Di antara dua SiNaFi itu, saya mengikuti 3 kolokium lain dan menerbitkan 4 jurnal. Ketiga kolokium tersebut ialah di Universitas Negeri Suarabaya (Unesa) pada 23 Maret 2019, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) pada 21 Agustus 2019, serta Universitas Negeri Malang (UM) pada 5 Oktober 2019. 

Sementara keempat jurnal diterbitkan oleh Journal of Biology Education (JoBE) pada 26 Juni 2019, Assimilation: Indonesian Journal of Biology Education (AIJBE) pada 30 September 2019, Thabiea : Journal of Natural Science Teaching pada 02 Oktober 2019, serta Tarbawy: Indonesian Journal of Islamic Education pada 29 November 2019. Secara keseluruhan, 5 kolokium dan 4 jurnal tersebut sama-sama terkait dengan literasi.

Banyak orang yang memuji ketika saya menunjukkan beberapa paper, baik secara pribadi maupun secara umum melalui status WhatsApp, Instagram Story, maupun cuitan Twitter. Tidak sedikit pula yang mencaci karena saya cuek terhadap keuntungan finansial yang diperoleh dari penulisan paper

Padahal dengan menunjukkan beberapa paper, saya tidak sedang mencari pujian atau cacian. Saya sudah berada dalam keadaan tak melayang ketika dipuji dan tak tumbang ketika dicaci. Beberapa paper tersebut sengaja saya tunjukkan karena beberapa keperluan.

Pertama dan utama, untuk memperlihatkan bahwa saya butuh bantuan. Kalau dibaca secara rinci, paper saya banyak yang bermasalah, mulai dari penyusunan preposisi, pemilihan metodologi, sampai penyampaian opini. Karena itulah saya berharap memperoleh bantuan teknis dalam beragam cara, seperti bimbingan, korespondensi, atau mitra bestari. 

Sayang, banyak orang yang memuji atau mencaci justru mendadak sibuk ketika saya minta bantuk (dalam beragam cara itu). Walau begitu, ada juga orang yang blas tidak pernah memuji atau mencaci, melainkan justru memberikan bantuan minimal dalam bentuk kritik dan/atau saran. Mereka yang dari kelompok kedua inilah yang namanya lebih mudah saya ingat.

Kedua, secara umum paper saya membahas tentang pendidikan, khususnya praktik pembelajaran. Dalam hal ini, Setiya Utari adalah inspirator utama saya, yang melalui disertasi doktoral menunjukkan bahwa praktik pembelajaran perlu dasar riset. Disertasi Buk Ut yang diterbitkan pada 1 November 2010 sendiri berupaya untuk menyusun program perkuliahan untuk membekali pelajar dalam merencanakan kegiatan eksperimen fisika di sekolah menengah.

Beruntung saya dapat mengikuti perkuliahan terkait ‘merencanakan kegiatan eksperimen fisika di sekolah menengah’ di kelompok Buk Ut selama 2 kali: Laboratorium Fisika Sekolah (LabFiSek) I dan II. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perkuliahan yang dilakukan oleh Buk Ut selaras dengan riset yang ditulis sebagai disertasi doktoralnya. Pengalaman itulah yang menginspirasi saya untuk memiliki dasar riset untuk praktik pembelajaran. Beruntung juga skripsi saya mengarah kepada hal ini.

Lebih beruntung lagi ialah Buk Ut menjadi Pembimbing I, yang secara khusus meminta saya agar menghubungi Muhamad Gina Nugraha (Pak Gin Gin) untuk memintanya sebagai Pembimbing II atas dasar bakal “... lebih pengertian ke kamu.” Nah, Pak Gin Gin inilah yang kali pertama memaksa saya agar ikut kolokium SiNaFi II berdasarkan data penyusunan instrumen untuk skripsi. Paksaan yang paling berfaedah kayaknya, heuheuheu.

Andai ketika mengikuti perkuliahan LabFiSek itu Pak Gin Gin sudah memaksa saya, mungkin saya dapat menulis paper terkait fenomena teramati dalam perkuliahan LabFiSek I dan II. Fenomena itu ialah perbandingan peserta perkuliahan LabFiSek II yang jumlahnya anjlok dibanding LabFiSek I. Maryam Musfiroh, yang pindah ke kelas lain, menyampaikan bahwa dirinya kesulitan mengikuti perkuliahan Buk Ut sekaligus merasa iri dengan kelompok dosen lain yang lebih mudah. 

Sedangkan Adi Lukman Ghofur keukeuh memilih tetap di kelas Buk Ut, menyebut bahwa dirinya ingin mengikuti ‘perkuliahan yang benar’. Kedua opini inilah yang bisa menjadi titik tolak untuk menulis paper terkait fenomena di neraka perkuliahan LabFiSek I dan II.

Pak Gin Gin sendiri termasuk inspirator untuk ‘memiliki dasar riset untuk praktik pembelajaran’. Melalui paper-nya yang menceritakan proses penyusunan lembar kerja untuk salah satu perkuliahan, Pak Gin Gin menunjukkan dua hal kepada saya. Pertama, seperti Buk Ut, yaitu praktik pembelajaran perlu didasari oleh riset. Kedua, tidak perlu ragu untuk menerbitkan riset yang tampak gagal.

Dulu ketika Pak Gin Gin membimbing saya dalam menyusun skripsi, dirinya juga berulang kali mengingatkan saya terkait hasil yang tampak gagal. Selama seperangkat metode sudah tepat, terutama instrumen, hasil yang tampak gagal itu justru menjadi fokus paling perlu untuk dibahas. 

Dari sinilah saya woles ketika mendapati nilai negatif ketika mengerjakan paper untuk SiNaFi V. Lha masak saya meminta 100 lebih siswa mengisi kembali 3 instrumen sampai hasilnya positif semua? Memangnya mereka mau?

Inspirator lain untuk ‘memiliki dasar riset untuk praktik pembelajaran’ adalah Irma Rahma Suwarma (Buk Irma). Kali pertama saya mengetahui Buk Irma sejak semester pertama kuliah strata satu di UPI. Buk Irma sebenarnya menjadi pendahulu dibanding dosen lain terkait bantuan teknis, karena dirinya lah yang memberikan saya buku Fisika untuk perkuliahan Fisika Umum (pada waktu itu saya masih harus mengikuti mata kuliah ini). Namun, baru sejak Desember 2014 saya mulai mengintai Buk Irma yang mulai menggemuruhkan pembelajaran STEM.

Sampai 2019 ini saya melihat Buk Irma konsisten bermain di STEM, yang track-nya nyaris kerap saya tiru untuk literasi saintifik serta literasi finansial. Bentuk konkret tiruannnya ialah STEM Camp yang disampaikan oleh Buk Irma melalui tesis Ph.D. adalah dasar yang saya pakai ketika mengisi kegiatan libur di pondok pesantren. 

Kegiatan tersebut seperti membuat teropong dari bambu, menghitung keliling bumi dari pondok, sampai menentukan daya serap pohon terhadap polusi udara di sekitar pondok. Beruntung dalam satu kesempatan kami sempat membahas spontan pembelajaran STEM. Pembahasan yang mengatasi kebingungan saya terkait letak ‘T’ dan ‘E’ dalam ruang lingkup STEM.

Ada lagi inspirator terkait riset yang saya lakukan: Judhistira Aria Utama (Pak Aria). Cerita yang disampaikan terkait takdir menjadi dosen bertempat di Laboratorium Bumi dan Antariksa (LBA) UPI seakan menjadi dorongan pertama ketika saya berhasrat turut mengembangkan Pondok Pesantren Ath-Thullab tanpa bermaksud menyaingi semua almamater tempat saya belajar formal. 

Mungkin karena persoalan kesamaan interest atau malah zodiak, banyak gagasan Pak Aria yang saya pakai, mulai posisi Matematika untuk pembelajaran lain, polusi cahaya, sampai ‘keuntungan finansial menekuni ilmu dasar’.

Penjelasan Pak Aria terkait garis geodesik juga menunjukkan kepada saya bahwa terdapat ruang dalam pembahasan fiqh ibadah. Soalnya pada zaman BlackPink ini banyak orang menganggap bahwa pembahasan fiqh ibadah sudah mandek. Padahal tidak demikian. Begini contoh imajinasi penting-nggak-penting, yang belum terbahas tuntas dalam fiqh ibadah.

“Roseanne Park (Rosé) yang tinggal di Seoul terbang pada pukul 15:00 ke Los Angeles pada 10 April 2019. Rosé menyeberangi samudera Atlantik sekitar 20 jam dan tiba di LA pada tanggal yang sama, 10 April 2019 pada pukul 16:00. Dalam perhitungan kasar, Rosé seakan hanya terbang selama 1 jam saja. Namun, bila dicermati, dirinya ‘kehilangan’ waktu hampir satu hari. ‘Kehilangan’ ini terjadi akibat perbedaan zona waktu antara Seoul dan Los Angeles yang terpaut selama 17 jam.”

Pertanyaan:

Bagaimana waktu sholat Dhuhur dan Ashar yang sudah Rosé lakukan sebelum terbang dari Seoul? Karena setelah tiba di Los Angeles, dirinya masih memiliki waktu Ashar pada hari yang sama walau sudah terbang selama 20 jam.

Bagaimana dengan sholat yang terlewat selama Rosé “kehilangan” waktu tersebut?

Kasus serupa, dengan kerumitan ekstra, terjadi ketika Rosé kembali dari Los Angeles ke Seoul. Rosé berangkat dari Los Angeles pada 13 April 2019 dan akan sampai di Seoul pada 15 April 2019. Selama melakukan perjalanan udara, Rosé tidak mengalami tanggal 14 April 2019 karena melintasi zona waktu yang berbeda. Pertanyaan tambahan: bagaimana dengan waktu sholat pada tanggal 14 April 2019?

Kasus sejenis demikian akan kian rumit ketika tanggal penerbangan terjadi pada bulan Romadhon. Seandaianya Rosé berangkat dari Los Angeles pada 16 Romadhon, dirinya akan sampai di Seoul pada 18 Romadhon. Artinya Rosé telah “kehilangan” 17 Romadhon. Pertanyaan kian rumit: bagaimana status puasa yang mestinya dialami oleh Rosé pada 17 Romadhon?

By the way, Pak Aria pula yang dulu sempat menyampaikan kepada saya ketika kami terlibat kegiatan Cakrawala UPI. “Saya belum pernah menemukan mahasiswa UPI yang tulisannya (penggunaan diksi, ars) seperti kamu.” ungkapnya ketika kami membahas artikel populer dan akademik. Entah jujur atau tidak ungkapan Pak Aria, yang jelas dirinya adalah penulis yang artikelnya banyak saya baca sebelum kuliah di UPI.

K.Sb.Lg.071219.14:15