Sebetulnya saya tidak ngeri melihat darah saat sapi atau kambing sedang disembelih. Bahkan, sejak kecil saya selalu menunggui momen-momen hewan-hewan tersebut akan disembelih oleh jagal. Idul Kurban merupakan momen yang selalu saya tunggu bersama teman-teman sepermainan.

Menyaksikan penyembelihan hewan kurban merupakan kehabagiaan tersendiri. Dimulai saat hewan-hewan kurban itu diturunkan dari pick up atau truk. Ada saja kejadian yang lucu, saat hewan kurban akan diturunkan. Entah itu sapinya lepas atau ada yang enggan untuk turun.

Biasanya hewan kurban diantar oleh penyedia hewan ke lokasi penyembelihan, 1 (satu) hari sebelum Idul Kurban. Sehingga ada kesempatan bagi saya dan teman-teman untuk memberi hewan kurban makan, berupa rumput atau daun-daunan.

Dan momen yang ditunggu adalah saat penyembelihan. Biasanya saat momen ini kami sangat kegirangan. Bahkan sampai diingatkan bahkan diteriaki oleh panitia agar jangan menggangu atau mendekat. Katanya akan membuat hewan kurban stress. Kalau stres bisa-bisa akan mengamuk saat digiring dan dirobohkan.

Tetapi Idul Kurban tahun 2018 menjadi momen yang menegangkan sekaligus membahagiakan. Betapa tidak, Idul Kurban tahun itu menjadi awal mula saya menjadi jagal dadakan. Dan Alhamdulillah sampai sekarang masih dipercaya untuk menjadi jagal musiman khusus penyembelihan hewan kurban.

Saat Idul Adha tahun 2018 atau 1439H tersebut, sebetulnya saya tidak masuk menjadi panitia kurban.  Tetapi Alhamdulillah menjadi shohibul kurban saja. Selang beberapa hari setelah rapat panitia kurban, saya diberitahu teman yang menjadi panitia bahwa saya nanti akan masuk menjadi tim jagal hewan kurban.

Saya dimasukkan secara dadakan saat rapat panitia karena ada salah satu penjagal yang pindah domisili sehingga perlu ada penggantinya. Bersama dengan 3 (tiga) orang lainnya saya dicatat oleh panitia secara resmi menjadi anggota tim jagal.

Selang beberapa hari setelah rapat panitia kurban dan sampai menjelang kurban pun saya belum diberi tahu secara resmi oleh ketua panitia bahwa saya masuk menjadi salah satu anggota tim jagal. Tetapi sebetulnya saya sudah mengetahuinya dari teman.

Sebagai jaga-jaga bahwa informasi dari teman saya tadi memang benar, kemudian saya googling mencari tahu tata cara menyembelih hewan kurban yang baik dan benar. Saya lihat video dari youtube, bahkan saking pengen belajar, saya download beberapa video tersebut dan saya putar berulang-ulang.

Saat penyembelihan pun datang dan saya belum dapat informasi kalau saya masuk anggota tim jagal. Baru setelah acara pembukaan dimulai dilanjutkan dengan doa bersama, saya dipanggil oleh ketua tim jagal untuk merapat bersama anggota tim jagal lainnya untuk berbaris dan berdoa bersama.

Saat acara doa tersebut, jantung ini berdegung kencang. Lha bagaimana tidak, ini seperti bekerja tanpa ada persiapan dan briefing sebelumnya. Semacam bertarung di medan perang tanpa ada kemampuan yang mumpuni walaupun sudah dipersiapkan senjatanya.

Setelah selesai doa, tim jagal berumpul untuk berbagi tugas. Saya diberikan seperangkat alat jagal, seperti pisau sembelih menyerupai pedang dan stik pengasahnya. Grogi dan bingung saat menerima alat tersebut. Kemudian aaya minta diberikan briefing atau arahan singkat tentang tata cara penyembelihan.

Kemudian saya diminta untuk melihat dahulu anggota lain saat menyembelih sapi dan kambing. Beberapa sapi dan kambing telah selesai disembelih. Saya masih bingung dengan tata cara penyembelihan walaupun sudah melihat langsung. Dan akhirnya kepala tim jagal memanggil saya untuk segera menyembelih.

Saya mencoba menawar kepada kepada tim jagal. “Pak, saya belum pernah menyembelih dan bagaimana kalau saya coba sembelih kambing dulu”, kata saya. “Gak papa Mas. Untuk latihan, bisa sembelih kambing dulu. Nanti saya pandu”, ujar Pak Ketua Tim Jagal. Lega rasanya, saya tidak harus sembelih sapi.

Lha wong megang kambing saja jarang bahkan tidak pernah apalagi megang sapi dan ini harus menyembelih pula. Keberanian saya benar-benar diuji dan saya memilih untuk ambil peran dengan modal nekad. Saat penyembelihan kambing pun tiba.

Salah seorang panitia melepas ikatan kambing dari pohon dan menuntun menuju lokasi penyembelihan. Kemudian beberapa orang membantu memegangi kepala dan kaki kambing. Dan kambingpun sudah dalam posisi siap untuk disembelih.

Ketua Tim Jagal memberikan arahan dimana posisi pisau sembelih diletakkan dan bagaimana cara menyembelihnya. Saya dengarkan dengan seksama diiringi dengan degup jantung yang semakin cepat. Akhirnya tiba waktunya saya untuk menyembelih baca doa untuk menyembelih hewan kurban versi singkat.

Kemudian bles…bles..bles…saya sembelih kambing dan ada teriakan dari Pak Ketua, “Ayo mas, sedikit lagi ke bawah, turunkan lagi”. Dan akhirnya ia bilang, “Sudah cukup mas, angkat pisaunya.” Lega rasanya prosesi penyembelihan berjalan dengan lancar.

Dan pada saat itu saya berhasil menyembelih 22 kambing dibagi berdua bersama dengan angggota tim lainnya. Senang dan lega rasanya bisa mengemban amanah yang cukup berat bagi saya yang newbi ini. Dengan bekal nekad tanpa punya ketrampilan dan pengalaman sebelumnya. Memang hidup ini adalah pilihan dan untuk memilihnya perlu kenekadan level dewa.