Nggak hanya manusia yang datang ke kedai kopi tempat saya bekerja, tetapi kucing-kucing entah milik siapa juga sering banget datang. Biasanya sih datang dan pergi serta silih berganti, tetapi di antara banyak yang berkunjung itu, sempat ada beberapa yang ogah pulang. Bener-bener yang ogah pulang dan menganggap kedai kopi tempat saya bekerja adalah rumah mereka.

Karena rata-rata pegawai di kedai kopi tempat saya kerja itu otaknya rada out of the box—termasuk saya juga—setiap kucing yang setia datang pasti diberi nama. Dulu ada kucing yang kami beri nama Sapi, karena tubuhnya mayan gede, berwarna putih, dan ada totol-totol hitamnya. Ingatan saya tentang kucing bernama Sapi itu samar-samar, karena benar-benar nggak ada kesan yang meninggal sama sekali dari kehadirannya. Dia berhenti berkunjung.

Beberapa waktu kemudian, muncul kucing kecil berwarna oren yang sangat lincah. Lucu sekali karena gemar lompat sana lompat sini, pun banyak pengunjung senang dengan kucing perempuan satu itu. Kami berinama Domba. 

Kalau ada yang tanya kenapa nama kucing itu Domba, waduh, saya juga bingung. Pokoknya dia itu Domba. Nah, si Domba ini nggak mau pulang sama sekali. Pokoknya tinggal di kedai kopi terus selama berminggu-minggu. Sepertinya dia nggak punya rumah lagi di luar sana, makanya kami perbolehkan menginap sementara waktu.

Karena seiring waktu dia mulai dewasa dan lebih banyak mengganggunya, pada akhirnya salah satu pegawai memutuskan buat mengadopsi Domba secara pribadi. Dia membawa Domba pulang ke kosnya, dan dipelihara bersama kucing-kucing yang dia miliki di kos. Lama berselang, kini saya tahu bahwa Domba sudah punya anak yang lucu-lucu.

Berbulan-bulan berlalu sejak Domba nggak di kedai kopi, rasanya sangat sepi. Sampai akhirnya muncul kucing kecil mirip Domba tapi nggak lincah sama sekali, dan malah kayak kucing yang hilang motivasi. Kerjaannya hanya tidur. Mengeongnya juga lemah, lirih, nan rapuh. 

Sepertinya banyak kejadian buruk yang menimpa kucing kecil itu. Dia kami berinama Belalang, dan dipanggil Bela. Sama seperti Domba, pada akhirnya dia lebih banyak merepotkannya. Kali ini giliran saya yang membawanya pulang ke kos. 

Ya, saya memang nggak menyediakan tempat yang layak. Saya biarkan Bela berbaur dengan kucing-kucing tetangga yang sering main ke kos. Lama berselang, Bela sepertinya diajak kawin lari sama salah satu kucing petualang dan memutuskan hengkang dari kos saya. Ah, selamat menempuh hidup baru, Bela.

Sekali lagi, kedai kopi mengalami kondisi di mana nggak ada kucing setia. Berbulan-bulan, bahkan hampir satu tahun. Sampai suatu ketika, datanglah kucing preman. Kucing itu cowok dan memiliki tato di tangan kirinya. Tentunya bukan tato sungguhan, melainkan motif hitam di bagian lengan.

Kucing preman itu sudah dewasa, berbulu putih dengan corak hitam di sana sini. Dia cowok yang tampangnya gagah perkasa, sayangnya suaranya nggak gagah sama sekali. Dia kayak kucing yang ditakdirkan pilek abadi. Serak-serak bangsat gitu. 

Bahkan kerap dia mencoba mengeong, tapi suaranya nggak keluar sama sekali. Kadang kalau suaranya keluar, alih-alih mirip suara kucing, malah mirip suara monyet. Makanya, kucing preman satu itu kami berinama Monyet, atau beberapa pegawai perempuan menyebutnya lebih lucu lagi dengan sebutan ‘Onyet’.

Di antara Sapi, Domba, dan Belalang, Monyet adalah kucing paling beruntung, sekaligus paling memelas. Beruntung karena dia benar-benar kami rawat dengan baik, mulai dari rajin dimandiin seminggu sekali, makan tiap pagi dan sore, minum susu sisa-sisa proses froathing kalo bikin cappuccino, bahkan tidur di sofa area istirahat pegawai. 

Tapi selain keberuntungan itu, sebenarnya dia memiliki trauma masa lalu. Saat pertama kali datang ke kedai kopi, kumisnya dicukur habis. Entah bedebah mana yang dengan kurang ajar memotong kumis kucing, pun entah dengan tujuan apa. Laknatlah kalian semua. 

Juga, si Monyet ini dulu takut banget sama manusia. Dia hanya bisa mengeong dengan suara monyet dari kejauhan, lantas kalau didekati, dia bakal kabur. Biasanya kucing yang kayak gitu pernah disakiti sama manusia di masa lalu.

Tetapi semenjak menjadi penghuni setia kedai kopi, dia tampak lebih bahagia. Pagi hari dia bangun tidur dan bermanja-manja ke siapa saja yang sedang jaga, setelah itu makan, setelah itu siangnya minum susu, terus tidur sampai menjelang sore, lantas ketika sore hari tiba, dia kerap lari sana sini, manjat pohon, lari-lari di genteng, dan kesusahan turun. Kalau sudah begitu, saya harus rela mencoba membantunya turun dengan selamat.

Seiring waktu, tubuh Monyet yang sempat kurus, kini sudah gemuk. Kumisnya juga sudah tumbuh panjang mendekati sempurna, dan terutama sekali, dia sudah nggak takut sama manusia lagi. Barangkali kami berhasil menghilangkan trauma masa lalu kucing malang satu itu.

Kehadiran Monyet barangkali membawa berkah bagi kedai kopi tempat saya bekerja. Setelah berbulan-bulan dihantam kehancuran gara-gara pandemi, tiba-tiba kedai kopi mulai ramai ketika Monyet datang. Semakin ramai dan hampir mendekati ramainya beberapa bulan lalu sebelum pandemi.

Ya, mau nggak mau saya dan semua pegawai menyangkutpautkan kedatangan Monyet dengan kembali ramainya kedai kopi. Toh ternyata, tingkah manja dan periang Monyet juga membuat banyak pengunjung senang. 

Kalau kemudian Monyet mulai kurang ajar mau naik meja, dia bakal langsung kami panggil dengan iming-iming makanan, kami ajak dia ke area istirahat pegawai, dan kami tutup pintunya. Kalau udah kayak gitu, dia tau apa yang harus dia lakukan. Makan, terus tidur di sofa yang empuk sampai pintu nanti dibuka.

Ah, kalau ternyata memang benar kehadiran kucing membawa berkah, kalau gitu, mending sekalian undang aja kucing sekomplek buat main ke kedai kopi. Sapa tau makin ramai kedai kopinya. Ya iya, ramai kucing maksudnya.