Suatu ketika di kelas. Pelajarannya Fiqih dengan buku ajarnya kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd (Averroes). Materinya seputar akad nikah: apakah ikrar pernikahan itu harus memuat redaksi “nikah” atau “kawin” ataukah tidak mesti memuat kata-kata tersebut? Saat itulah saya mengalami sesuatu yang tak terduga dan luar biasa nikmatnya. Setidaknya itu yang saya rasa.

Awalnya saya paparkan bahwa Imam Syafi’i menyatakan akad nikah wajib memuat redaksi “nikah” (“kunikahkan engkau dengan anakku...”) atau “kawin” (“kukawinkan engkau dengan anakku...”). Sementara itu, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah membolehkan penggunakan redaksi lain, seperti “kuhadiahkan engkau anakku...”, “kusedekahkan anakku ini...” dan lain-lain.

Setelah paparan itu beserta penjelasan argumen masing-masing faqih yang berselisih pendapat, tetiba saya mendengar suara rilih namun jelas terang-benderang dalam pemahaman saya, entah dari mana asalnya. Suara itu menggambarkan suatu konsepsi dan mendorong saya sangat kuat untuk mengutarakannya kepada santri-santri yang menyimak pelajaran. Konsepsi tersebut berbunyi sebagai berikut:

Apa bedanya nikah dan kawin? Istilah “kawin” identik dengan makna hubungan seksual, sehingga semua makhluk hidup bisa melaksanakan perkawinan. Sementara istilah “nikah” hanya berlaku bagi manusia. Hal itu karena hubungan seksual makhluk religius sekaligus makhluk sosial ini tidak dapat berlangsung kecuali mendapat pengakuan secara resmi.

Lembaga agama dan lembaga sosiallah yang meresmikan hubungan tersebut. Peresmiannya mewujud dalam bentuk suatu prosesi simbolik atau kita menyebutnya upacara akad nikah. Bukan cuma soal pernikahan, hidup manusia dipenuhi dengan upacara-upacara, sejak ia lahir hingga meninggal dunia. Dengan demikian, upacara merupakan pembeda manusia dari makhluk lainnya sekalipun para ahli Biologi menggolongkannya dalam kingdom animalia.

Konsepsi ini memperluas cakupan prinsip umum yang menyatakan “manusia adalah hewan yang berpikir”. Sebab, faktanya hewan juga melakukan aktivitas berpikir. Pikiran seekor kucing peliharaan, misalnya, mampu menghubungkan suara majikannya yang sedang membuka bungkus makanan dengan perut yang kenyang. Seketika mendengar suara itu, ia segera bergerak menghampiri makanan yang tersedia lalu melahapnya.

Jelas ada proses berpikir sang kucing dari mendengar suara bungkus makanan hingga muncul inisiatif untuk makan. Tentu saja, proses tersebut muncul karena kebiasaan. Begitu pula yang nampak dari eksperimen-eksperimen ilmiah para ilmuwan yang melibatkan hewan. Jadi, hewan juga berpikir.

Lalu apa yang membedakan proses berpikir manusia dengan binatang? Para antropolog mengatakan keistimewaan pikiran manusia adalah adanya keterlibatan bahasanya yang unik. Hewan juga punya bahasanya sendiri, tapi bahasa manusia memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Ini selaras dengan buah pikir para filsuf muslim tentang adanya daya imajinasi (al-mutakhayyilah) dalam akal manusia.

Dalam kasus akad nikah, melalui bahasa sebagai sistem simbol, manusia melahirkan konsepsi imajinatif tentang hubungan seksual dan kemudian mengomunikasikannya kepada sesamanya dalam bentuk upacara. Selanjutnya lahirlah pengakuan terhadap hubungan seksual tersebut sehingga tatanan sosial antar sesama manusia tetap terjaga. Demikianlah upacara membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya.

***

Konsepsi yang saya uraikan di atas memang sederhana dan boleh jadi sudah ada kajian terkait hal itu yang mungkin belum saya ketahui keberadaanya. Namun yang menjadikannya istimewa adalah pengalaman memperolehnya.

Pengetahuan tersebut hadir tiba-tiba dan tidak pernah bertempat di benak saya sebelumnya. Tentu saja konsepsi yang utuh itu tidak hadir begitu saja. Ia boleh jadi terbangun dari kerangka-kerangka pengetahuan yang sudah saya miliki lalu menampakkan diri dalam waktu sekejap secara langsung dan jelas. Sama halnya seperti teks yang dibaca pembaca berita televisi atau seperti bisikan seorang ajudan kepada Bupati yang sedang berpidato.

Orang mungkin akan mengatakan pengetahuan yang saya peroleh itu adalah ilham. Namun kenyataan bahwa saya mengalaminya bukan sekali itu saja, melainkan sering terjadi di tengah-tengah aktivitas mengajar, membuat saya percaya itu pengalaman yang tidak biasa. Karena pengalaman itu, saya bahkan berusaha meyakinkan guru-guru muda agar bekerja lebih bersemangat bermodalkan kebijaksanaan lama: mengajar justru akan menambah ilmu.

Lebih-lebih, ada kepuasan dan kenikmatan meliputi kalbu setiap kali suara-suara itu muncul. Rasa puas dan nikmat yang kemudian melahirkan rasa penasaran akan dari mana pengetahuan itu muncul dan siapa yang membisikkannya ke dalam jiwa. Mungkinkah pengalaman kehadiran pengetahuan yang tiba-tiba itu adalah pengalaman mistik? Sama sekali bukan.

Seyyed Hossein Nasr jauh-jauh hari dalam Living Sufism (terj. 1985) telah memperingatkan agar berhati-hati menggunakan istilah “mistik”. Menurutnya, mistik (mystique) bertalian dengan rahasia-rahasia Tuhan, pengetahuan yang bercampur cinta, sumber pemikiran yang pancarannya memperjernih pikiran dan memberi pengetahuan tentang tarekat kerohanian, terikat pada metode-metode dan teknik-teknik kerohanian yang bersumber dari wahyu, bukan kepada mimpi kabur atau tingkah individualistis dan khayalan atau pseudo-okultisme.

Pengalaman saya saat mengajar jelas bukan pengalaman mistik karena tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, terlebih saya bukanlah seorang sufi atau yang sedang meniti jalan para salik. Akan tetapi, pengalaman kehadiran pengetahuan saya itu setidaknya memiliki ciri-ciri serupa pengalaman mistik. Karena itulah, saya hanya menggunakan istilah “mistik” dengan tanda petik.

William James dalam The Varieties of Religious Experience (1982) menyebut empat ciri pengalaman mistik: pertama, situasinya lebih berupa keadaan perasaan daripada keadaan intelek, sehingga uraian manapun sebenarnya tidak memadai untuk mengisahkannya dalam kata-kata. Ungkapan terbaik terkait hal ini, menurut saya, adalah cara kerja pengalaman mistik itu misterius.

Kedua, meskipun lebih mirip situasi perasaan, bagi orang yang mengalaminya situasi mistik juga adalah situasi berpengetahuan. Jadi, sekalipun pengalaman mistik difahami khalayak umum bersifat subjektif, bagi yang mengalaminya pengalaman itu sungguh objektif. Begitulah Muhammad Iqbal menyatakan dalam The Reconstruction of Religious Thoughts in Islam (terj. 2016).

Ketiga, keadaan mistik terjadi sekejap saja kecuali pada kesempatan-kesempatan yang jarang terjadi. Meski demikian, ia bisa datang kembali berulang-ulang dan setiap kedatangannya dapat dikenali dengan mudah.

Keempat, karena dapat terjadi berulang kali, datangnya situasi mistik dapat dikondisikan dengan beberapa tindakan pendahuluan yang disengaja. Dalam kata lain, orang bisa mendapat pengalaman mistik dengan terlebih dahulu menempuh metode-metode tarekat tasawuf. Meski begitu, ketika situasi mistik muncul, orang yang mengalaminya sadar bahwa ia merasa direngkuh dan dikuasai oleh suatu kekuatan yang lebih tinggi, entah dari mana dan oleh siapa.

Demikianlah apa yang saya alami menampilkan ciri-ciri serupa pengalaman mistik sebenarnya. Di antara hal-hal yang membuat pengalaman saya itu bukanlah pengalaman mistik adalah, sebagaimana Muhammad Iqbal sebutkan, persentuhan intim dengan Diri Lain yang Unik. Saya tidak percaya diri untuk mengatakan pengalaman “mistik” saya ada hubungannya dengan Tuhan.

Terlepas dari semua ini, berdasarkan pengalaman saat mengajar santri-santri, seperti uraian di atas, saya hanya ingin mengatakan bahwa jika perolehan pengetahuan secara langsung dan misterius ketika mengajar itu mungkin, maka kita bisa percaya pengalaman mistik bagi seorang yang meniti jalan spiritual itu mungkin.

Selain itu, jika pengalaman “mistik” saat mengajar bisa saja terjadi, maka kita juga bisa percaya bahwa di tengah tuntutan standarisasi, ribetnya birokrasi kepegawaian dan pendapatan yang kadang tidak sepadan dengan kebutuhan hidup, menjadi guru adalah profesi yang mulia dan memiliki kenikmatan tersendiri. Kenikmatan bergelut dengan ilmu dan pengetahuan.[]