Akhir-akhir ini publik ramai membicarakan kasus penipuan oleh Alimama dan JD Union. Dua nama tadi adalah aplikasi ‘penghasil’ uang yang mendompleng merek Alimama –iya namanya emang unik, tapi itu beneran bagian dari Alibaba grup –dan JD Union. Singkatnya, ini adalah investasi bodong yang pake topeng nama perusahaan besar.

Sistem yang dipakai aplikasi abal-abal ini adalah skema Ponzi yang sumber penghasilannya berasal dari uang member yang baru masuk. Begitu terus sampai ga ada member baru lagi sehingga membuat bisnis ini runtuh. Pas udah mau koid, si aplikasi ini ghosting aka tiba-tiba ngilang sambil bawa uang member. Jadi ga cuma gebetan kamu aja ya yang bisa begini. Xixixixi.

Well, skema Ponzi tersebut dibungkus dengan istilah belanja pintar oleh kedua aplikasi tadi. Jadi tugas harian para member adalah cuma pencet-pencet sebanyak 60 kali untuk melakukan order fiktif barang yang dijual di marketplace. Katanya sih buat naikin volume penjualan. Kira-kira miriplah dengan bisnis jasa klik postingan di medsos dari segi kemudahan dan kemagerannya.

Hanya yang membedakan adalah besaran komisi yang diterima. Bisnis kaleng-kaleng ini memberikan komisi yang lumayan besar, berkisar dari 2%-7% dari deposit. Ya kira-kira kalau anda setor 10 juta pas jadi member bisa dapet 400 ribulah sehari. Jadi dalam 25 hari udah balik modal. Menggiurkan bukan? Jelas. Makanya saya yang sarjana cum pengangguran ini  jadi tertarik. Plak.

Beban ‘kerja’ yang ringan, komisi yang besar, serta balik modal dalam waktu singkat sebenarnya adalah hal yang too good to be true dalam bisnis. Malah boleh dibilang mustahil.  Tapi hal tersebut mungkin sudah tidak menjadi pertimbangan para korban lagi karena berbagai motif. Dari yang sekedar iseng-iseng berhadiah sampai yang serius seperti untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, membangun rumah atau untuk modal nikah.

Ya gimana gaes, lagi pandemi gini insting bertahan hidup yang ada di otak primitif manusia jadi lebih peka, sedang logika di bagian korteks jadi tumpul. Apalagi yang literally harus buat bertahan hidup, buat makan. Maka Alimama dan JD Union tipu-tipu itu seakan jadi oase yang menyegarkan.

Aplikasi ini sebenarnya baru berjalan beberapa bulan, tapi sudah mampu menghimpun jutaan member dengan total deposit puluhan  miliar rupiah. Terang saja cepat sekali perkembengannya karena selain komisi dari belanja harian, member juga mendapat persenan kalau bisa mengajak orang untuk bergabung. Familiar sekali yak sistemnya.

Nahasnya, per tanggal 19 September 2020 aplikasi JD Union sudah ga bisa diakses lagi. Kemudian sehari setelahnya Alimama menyusul. Kompak bukan main. Ketika menyadari kenyataan ini, tentu para member seperti habis makan odading Mang Oleh yang rasanya anj*** banget itu. Astaghfirullah.

Semakin menjadi miris ketika banyak yang mengeluhkan kenelangsaan mereka bahwa modal yang dipakai bukan dari uang dingin (uang panas). Ada yang dari uang belanja, uang hasil hutang, atau uang tabungan.

FYI, uang dingin adalah uang bebas yang memang disisakan untuk tidak dibelikan apa-apa. Biasanya setelah dikurangi biaya tagihan, anggaran rumah tangga, tanggungan, tabungan dan lain-lain. Hiks.

Pada titik ini, besar harapan agar masyarakat luas melek manajemen keuangan. Selain sebagai investasi, literasi tentang ilmu ini juga dapat meningkatkan awareness untuk tidak mengambil langkah yang salah dan merugikan. Seperti penggunaan uang panas untuk investasi.

Saya sebagai salah satu penyintas bisnis –yang sudah saya tahu resiko terburuknya –ini sempat kaget ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri bukti transfer untuk deposit sejumlah tiga miliar rupiah.

“Ya ampun om, seharusnya jadi downline saya aja eman-eman sekali”, batin saya.

Akan tetapi hal yang patut disyukuri untuk melegowokan rasa kehilangan tiga miliar tadi –dan semoga berakhir baik –adalah kasus ini mulai mendapat atensi dari media. Para korban pun sudah melakukan koordinasi untuk melakukan pelaporan di polda wilayah masing-masing.

Jika mentoknya tiga miliar ga bisa balik, paling tidak masyarakat luas bisa lebih waspada dan teredukasi perihal bisnis yang secara tidak langsung sudah mendiskreditkan status what so called orang berpendidikan ini.

Lha bagaimana tidak, sebenarnya kalau mau melakukan riset kecil-kecilan (baca: googling) tentang aplikasi Alimama dan JD Union palsu, akan menemukan banyak ulasan baik dalam bentuk tulisan atau video yang menyebutkan kedua aplikasi tadi terindikasi scam.

Dari kasus ini, kita semua dapat belajar bahwa meskipun sekarang maling rumah pada jobless karena banyak yang stay #dirumahaja, akan tetap selalu ada mastermind macam The Professor –karakter utama dalam serial Money Heist –di dunia permalingan yang muncul dengan ide brilian untuk mengakhiri masalah pelik karena pemasukan mereka yang lagi seret.

“Kita maling via online aja yuk gaes”. Kira-kira begitu bunyi idenya.