18631_68710.jpg
http://ini-berita1.blogspot.co.id/
Budaya · 4 menit baca

Pengalaman Lucu Diajar Ustaz Wahabi

Saya termasuk orang yang telat menyadari betapa pentingnya menguasai bahasa Arab. Setidaknya itu diperlukan untuk membaca kitab-kitab gundul sebagai referensi penunjang selain bahasa Indonesia dan Inggris dalam kegiatan perkuliahan. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke Kampung Inggris, Pare―lagi―di mana di sana merupakan sebuah pusat pembelajaran berbagai bahasa internasional, bukan hanya Inggris.

Setelah berkeliling dan menimbang-nimbang, terputuskanlah untuk mengambil kursus di sebuah tempat yang menyatu erat dengan sebuah masjid. Saya sudah tahu kalau baik imam salat maupun pengajar bahasa Arab-nya adalah seorang wahabi, tetapi karena tempat kursusan ini adalah yang termurah plus terbanyak pertemuannya dari semua tempat yang saya kunjungi. Maka saya putuskan untuk mengikhlaskannya.

Pikir saya, tak apalah. Yang akan saya serap kan ilmu bahasanya, bukan pemahaman agamanya. Tapi unfortunately, manusia memang tidak pernah bisa melepaskan keyakinan atau pemahamannya―karena saking erat―saat berinteraksi dengan siapa pun.

Pak ustaz, sebutlah begitu karena betapapun ia adalah guru saya, senantiasa membuat “kelucuan-kelucuan” yang kadang membuat saya tak bisa menahan ketawa, tetapi di sisi lain hampir saja membuat saya tak kuat untuk meninggalkan tempat itu saking gemez dan kezel-nya. Di antaranya ulah-ulahnya, yaitu:

Pertama, perlu diketahui bahwa terasa sekali di tempat kursusan ini sebisa mungkin murid-murid yang berbeda jenis kelamin tidak perlu atau diperbolehkan melakukan interaksi. Maka perempuan ditempatkan di barisan belakang dan hampir tidak ada laki-laki yang (boleh) menoleh ke mereka. Di sini, melihat apalagi berbincang dengan perempuan sangatlah tabu. Jika dilakukan, seakan kita telah berbuat dosa yang amat besar.

Ada kejadian lucu saat sesi perkenalan yang mana setiap orang harus maju ke depan ruangan (menghadap temannya yang lain). Tidak ada yang berbeda sampai giliran para murid perempuan memperkenalkan dirinya.

Saat itu pula, kira-kira sang ustaz berkata seperti ini, “Yang perempuan tidak usah maju, perkenalan cukup di tempat duduknya saja karena ditakutkan saat kalian berjalan ke depan, akan mengenai bahu laki-laki.” Dan juga ucapan-ucapan yang mengarah bahwa perempuan tidak harus show up atau dilihat sama lawan jenisnya.

Lah bujut buneng. Apa-apaan ini, pikir saya. Sebegitu buruknya-kah makhluk yang bernama wanita ini? Atau sebaliknya, sebegitu kotornya-kah pikiran para lelaki ketika memandang wanita?

Ironinya, hal ini amat kontras dengan dirinya sendiri yang sudah pasti selalu dapat melihat murid perempuannya itu selama masa pembelajaran. Dan, for your information, saya memang agak sulit untuk mengungkapkannya, tetapi banyak guyonan dari pak ustaz ini sering menyinggung ke hal-hal yang berbau cabul.

Tentu pemahaman demikian (mengenai perempuan) amat erat dengan kerangka berpikirnya orang-orang wahabi konservatif patriarkis seperti yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah di mana perempuan dianggap sebagai sesuatu yang “buruk” yang perlu “ditutupi”.

Kejadian lucu kedua ialah saat proses pembelajaran awal mengenai defisini al-kalam (istilah untuk menyebutkan sebuah susunan kata yang memiliki makna sempurna). Tiba-tiba ia bertanya, “Apa itu ilmu kalam?”

Karena mayoritas murid di sini adalah lulusan pondok pesantren atau Madrasah Aliyah, wajar jika banyak yang salah menjawab (mereka kira ilmu kalam sama dengan definisi al-kalam yang sedang dibahas) karena ilmu kalam mungkin belum dipelajari.

Lalu ustaz itu menyuruh saya untuk juga memberi jawaban. Spontan, karena ilmu kalam sudah lazim dipelajari di kampus-kampus, khususnya yang berjurusan keislaman, saya bilang saja itu adalah sebuah ilmu yang mempelajari mengenai ketuhanan, keimanan, dll, atau kadang disebut dengan ilmu teologi.

Salah,” katanya. Kok salah? Setahu saya memang seperti itu. Yang terakhir ini cuma gerutu saya dalam hati.

Lalu ia berkata, “Ilmu kalam itu ini..” sambil mengarahkan telunjuknya ke kepala “Ilmu logika,” tuturnya. Saya mengerutkan dahi, “Bukannya ilmu logika itu bahasa arabnya adalah al-ilmu al-manṭiq?” Tapi saya tak mau ambil repot, ya sudah lah. Sakarepmu.

Ujarannya ternyata masih bersambung. Ia melanjutkan, “Tuhan kok dilogikakan, dirasionalkan. Aneh banget itu. Tuhan itu diimani.” Dipikir-pikir, pernyataan ini juga amat kontras dengan kebiasaan orang-orang wahabi―termasuk dirinya―yang mudah meledek konsep ketuhanan agama lain yang menurut mereka tidak rasional, misalnya saja mengenai trinitas, dll.

Lalu, entah kesambet apa, ia menghubungkan hal tersebut dengan sebuah klaim absurd, “Ini nih ulahnya orang-orang liberal. Apa tuh...her...her...” Sekali lagi saya jawab spontan, “Hermeneutik.” Betul katanya.

Ini kekonyolan apa lagi, gumam saya. Apa hubungannya ilmu ketuhanan dengan liberal dengan hermeneutika. Yang terakhir saya sebut ini kan hanya merupakan salah satu metode untuk menafsirkan sebuah teks, yang belakangan juga dipakai oleh beberapa sarjana untuk menafsirkan Alquran menggunakan pendekatan sosio-historis. Apa hubungannya dengan ketuhanan?

Bahkan, sepanjang bacaan saya, produk hermeneutik biasanya merupakan sebuah hukum (fikih) kontekstual sebagai usaha untuk menjawab persoalan-persoalan modern. Jadi pusing kepala Barbie.

Tapi dari kejadian ini, setidaknya saya dapat menghasilkan tiga buah asumsi. Pertama, para sarjana muslim progresif belum bisa menyampaikan apa itu hermeneutika―dan kegunaannya―kepada masyarakat umum, sehingga disalahpahami atau dicurigai oleh kalangan konservatif.

Kemungkinan kedua ialah sebenarnya para sarjana modern ini telah menyampaikannya dengan benar, tetapi kalangan konservatif (termasuk wahabi Indonesia) tidak dapat memahaminya dengan baik.

Atau dugaan ketiga ialah karena keeksklusifannya, meski hermeneutika telah dimengerti, tetap tidak dapat diterima. Dengan berangkat para poin taksiran mana yang sebenarnya menjadi problem, sesungguhnya jurang di antara kalangan liberalis dan konservatif dapat diminimalisir.

Hal lucu selanjutnya ialah mengenai bahasa. Berkali-kali ia menyebutkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang termulia karena itu adalah bahasanya Allah dan para penduduk surga, sekaligus bahasanya manusia penutup para nabi (Muhammad saw), tetapi sembari menjelek-jelekkan bahasa lain, khususnya bahasa Indonesia dan Inggris.

Saya pribadi meragukan klaim ini karena bahasa, betapapun Arab, adalah ciptaan manusia yang terikat oleh nilai-nilai profan, seperti kebudayaan, peradaban, maupun zaman. Saya yakin setiap bahasa memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Memang boleh saja orang mengklaim bahasa A adalah yang terbaik, tapi itu sifatnya subjektif, dan yang paling penting, tak perlulah sembari menjelek-jelekan bahasa lain. Memangnya ada sebuah indikator yang dapat menilai kualitas suatu bahasa sehingga bahasa tertentu lebih baik daripada bahasa lainnya? Atau kalau pun ada, apakah telah tersepakati secara universal?

Alhasil, saya jadi semakin bersemangat untuk belajar di sini, karena setiap harinya selalu mendapat hiburan gratis dari pak stadz. Ya, sebuah hiburan yang sekaligus membuat miris hati.