Kelebihan tumpukan lemak pada tubuh tentu sangat mengganggu, selain berimbas pada penampilan, juga menimbulkan rasa nggak nyaman saat melakukan mobilitas. Apalagi saat mengenakan pakaian yang kurang elastis, tentu akan sangat kesulitan saat berusaha melakukan gerakan-gerakan yang titik tumpunya berada di bagian paha atau perut.

Jadi, tubuh dengan tumpukan lemak yang pas tentu menjadi impian hampir bagi semua orang, tak terkecuali saya.

Sebagai lelaki dengan tinggi 165 dan berat 70 kg, tentu tubuh saya tidak termasuk dalam kategori ukuran proporsional. Jika menggunakan indikator kalkulator Body Mass Index (BMI), maka idealnya tinggi 165 seharusnya berada pada kisaran 58 kg sampai 63 kg. Tidak kekecilan, juga tidak kebesaran.

Memang, nasib orang yang punya gen bertubuh gemuk. Jika nggak kuat ngontrol pola makan, tubuh akan sangat cepat menumpuk lemak. Beda nasib dengan orang yang memiliki gen tubuh kurus, kemampuan metabolisme yang lancar, makan sebanyak apa pun nggak akan banyak memengaruhi berat badan mereka.

Nah, alhasil, penampilan saya yang kurang ideal itu sering menerbitkan komentar miring dari teman kantor atau kawan setongkrongan, "Kamu gendutan yah, mirip bapak-bapak padahal belum nikah.”

Awalnya saya nggak peduli, karena bagi saya, usaha untuk menurunkan berat badan adalah hal yang menyusahkan. Pasalnya saya termasuk orang yang suka makan dan malas bangun pagi untuk melakukan aktivitas olahraga

Namun, komentar jelek yang terus mengarus membuat saya tergerak untuk mencoba melakukan diet secara ketat. Tentu saja, yang harus saya lakukan pertama kali adalah membulatkan tekad dan niat, sehingga dalam menempuh jalan yang sulit itu saya nggak akan mengibarkan bendera putih di tengah jalan.

Memanfaatkan mesin pencari Google dan YouTube, saya kemudian mencari metode diet yang paling efektif untuk menurunkan berat badan. Dan dari banyaknya kesan positif warganet, pilihan saya pun jatuh pada metode diet ala Dedi Corbuzier, “Obsessive Corbuzier's Diet” atau OCD. Metode diet dengan cara intermittent fasting atau berpuasa pada kondisi waktu tertentu.

Nah, dari empat jendela makan yang ada, saya memilih jendela makan ketiga. Jika jendela makan pertama seseorang hanya punya waktu delapan jam waktu bebas makan, lalu jendela makan kedua hanya enam jam waktu bebas makan, maka jendela makan ketiga hanya punya empat jam waktu bebas makan, lebih toleran dari jendela makan keempat yang hanya memperbolehkan seseorang makan sekali dalam sehari.

Jika sudah memasuki waktu bebas makan, maka seseorang diperbolehkan mengonsumsi makanan sesuka hati, tapi tidak dalam batas berlebihan. Di luar batas waktu makan itu, seseorang hanya boleh mengandalkan air mineral yang pada dasarnya nggak mengandung kalori.

Selain memilih jendela makan yang cukup ekstrem bagi pemula seperti saya, saya juga mengimbangi diet ini dengan olahraga rutin. Jogging lima putaran lapangan sepak bola tiap pagi sebelum berangkat ngantor.

Awalnya memang sulit untuk tetap konsisten dalam menjalani program ini. Apalagi saat menyaksikan orang terdekatmu makan makanan enak pas di luar waktu bebas makan, tentu godaan untuk ikut berpatisipasi sangatlah besar. Belum lagi jika harus bangun pagi setiap hari untuk berolahraga, pasti terasa berat bagi orang yang nggak terbiasa melakukan aktivitas ini.

Namun, impian memperoleh tubuh ideal selalu jadi pemantik agar rasa malas hilang dari peredaran isi kepala. Setelah selama hampir sebulan saya rutin menjalani program ini, hasilnya melebihi ekspektasi saya. Berat badan yang awalnya berada di angka 70 kg, sekarang merosot ke angka 65 kg.

Itu berarti dengan progam diet ini, plus olahraga rutin, saya bisa mengurangi berat badan saya sebanyak 5 kg. Hasilnya, saya merasa baju yang saya kenakan terasa lebih longgar, mobilitas pun jadi lebih enteng.

Namun, dalam kondisi berbahagia menikmati hasil dari perjuangan ini, nyatanya kembali menerbitkan omongan-omongan miring. Beberapa rekan kerja menganggap jika berat badan saya yang turun dratis disebabkan karena stres oleh beban kerja yang berlebihan.

Alasan mereka sederhana, sebagai pegawai baru yang terlalu kerajinan kerja, bahkan kadang harus mengerjakan pekerjaan di luar uraian tugas –nasib berada di lingkungan kerja yang sebagian pegawai seniornya suka malas-malasan-. Mereka sering menyaksikan saya kerja hingga larut malam, juga melihat atasan sering mempercayakan pekerjaan tertentu pada saya.

Dari situ, mereka lantas mengambil kesimpulan jika beban kerja membuat saya stres, dan berimbas pada penurunan berat badan.

Beda kepala, beda persepsi. Selain menganggap saya stres mikirin kerjaan. Ada juga rekan kerja yang mengatakan hasil diet ini nyatanya makin membikin penampilan saya jadi buruk.

Menurut mereka pipi saya yang awalnya terlihat pas-pasan, semakin terlihat tirus, membuat wajah saya terlihat tampak lebih tua. Untuk hal itu saya akui. Program diet yang saya lakukan nyatanya telah merampas banyak lemak di beberapa bagian tubuh saya, termasuk bagian pipi

Nah, selain stres dan penampilan wajah yang merosot, ada juga rekan kerja yang beranggapan jika, penurunan berat badan saya dalam tempo sesingkat-singkatnya disebabkan oleh pemakaian narkoba.

Saya duga, pernyataan mereka dengan mudah meluncur karena kebiasaan mereka menyaksikan napi kasus narkoba di Lembaga Pemasyarakatan, tempat saya bekerja cenderung bertubuh kurus. Sehingga, dengan mudah mereka mengasosiasikan kondisi mereka dengan keadaan yang saya alami.

Namun, terlepas dari komentar-komentar miring mereka tentang, hasil program diet yang saya jalani, satu hal yang pasti jika, penampilan wajah saya setelah berhasil menurunkan berat badan nyatanya terlihat kurang baik.

Akhirnya, saya kemudian memutuskan untuk berhenti menjalankan program diet dan menggantinya dengan program pola hidup sehat. Makan secukupnya, dan rajin olahraga. Dan hal itu saya lakukan hingga saat ini. Meskipun berat badan saya kembali naik, tapi…

Yah….

Peduli amat.