Pengalaman adalah sesuatu yang telah seseorang lalui dan memberikan bekas tersendiri bagi diri orang yang menjalaninya, bekas yang dimaksud tentu saja adalah bekas yang baik ataupun bekas yang buruk.

Pengalaman bisa datang kapan pun  di mana pun, terkadang pada keadaan yang tak terduga pun pengalaman bisa saja terjadi bagi diri seseorang.

Salah satu hal yang bisa kita jadikan sebuah pengalaman adalah bagaimana hidup mengajari kita tentang banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan itu sendiri. 

Betapa indah dan pahitnya pembelajaran yang diberikan hidup tentu saja sudah menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi diri kita.

Tentu saja pengalaman seseorang akan berbeda dengan pengalaman orang lain, hal ini dikarenakan semua orang punya cara masing-masing dalam menjalani kehidupan yang dimilikinya.

Dengan perbedaan pengalaman yang dimiliki ini, bukanlah tidak mungkin seseorang bisa mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain, hal ini sangat berkaitan dengan konsep pengalaman yaitu untuk direnungkan dan untuk diceritakan sebagai bahan renungan.

pada tulisan yang singkat ini setidaknya ada dua pengalaman yang ingin saya ceritakan yang bertujuan untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan pembelajaran bagi diri saya dan mungkin diri orang lain yang sewaktu-waktu membaca tulisan ini.

Pertama, pengalaman ini penulis dapatkan ketika sedang salat Jumat dihalaman masjid pada sebuah pondok pesantren. ketika itu khatib Jumat sedang menyampaikan khotbahnya, di sebelah penulis duduk beberapa anak yang kira-kira berumur 10 tahunan.

Kiranya ada  tiga anak yang salat tanpa didampingi orang tuanya dan ada satu orang anak yang duduk di samping bapaknya (total ada empat orang anak).

pada saat khatib berkhotbah, tampak tiga orang anak yang tidak didampingi orang tuanya ini bermain-main dan tidak menghiraukan khotbah yang disampaikan, hal ini menurut saya adalah hal yang wajar terjadi karena ketidaktahuan mereka tentang pentingnya khotbah sebagai salah satu rukun salat Jumat. 

Tetapi yang menjadi perhatian penulis adalah seorang anak yang didampingi bapaknya ini seakan menahan diri untuk tidak ikut bermain karena tahu bapaknya ada disampingnya.

Seketika itu penulis berpikir satu hal secara tiba-tiba, seorang anak yang didampingi bapaknya itu tahu bahwa bermain ketika khatib sedang ber khotbah adalah suatu kesalahan,  dia tidak mau berbuat kesalahan itu di depan orang tuanya, saya yakin anak itu akan ikut bermain dengan teman-temannya jikalau bapaknya tidak berada disampingnya.

Saya pikir ini adalah suatu penghormatan dari anak itu kepada bapaknya (di samping ada rasa takut dari anak itu kepada bapaknya). 

Bahwa bentuk penghormatan dari seorang anak kepada orang tuanya adalah memperlihatkan sesuatu yang baik didepannya  dan berusaha untuk tidak memperlihatkan keburukan yang bisa kita hindari dihadapan mereka.

Saya pikir nilai penghormatan ini sudah mulai terkikis didiri anak muda zaman sekarang, di mana mereka dengan santainya memperlihatkan sesuatu yang sebenarnya buruk dihadapan orang tua mereka tanpa adanya rasa penghormatan dan bersalah atas tindakan mereka.

Saya beri contoh sederhana, dewasa ini kita melihat bagaimana dengan mudahnya seorang anak membawa pacarnya kehadapan orang tua mereka, padahal konsep salah dari berpacaran ini sangatlah jelas disampaikan oleh ulama kita (terutama bagi yang beragama Islam). 

Anak muda tahu kesalahan mereka tetapi mereka tidak malu mempertontonkan kesalahan mereka dihadapan orang tuanya.

Saya merasa jikalau nilai penghormatan yang terjadi pada diri anak kecil yang tidak mau bermain ketika bapaknya berada disampingnya ini dipertahankan dalam jiwa semua anak muda, maka jiwa hormat mereka terhadap orang tua akan selalu terjaga sampai kapan pun.

Tentu saja konsep ini tidak membenarkan seorang anak berbuat kesalahan di belakang orang tuanya, sama sekali tidak. Tetapi ini adalah tentang konsep penghormatan yang diberikan seorang anak kepada orang tuanya.

Terlepas dari itu, seorang anak setidaknya selalu berusaha untuk menjalankan semua perintah orang tuanya baik di dalam  di luar pengawasan orang tuanya.

Kedua, pengalaman ini penulis dapat ketika mengajar di pondok pesantren dimana penulis lulus di dalamnya. Ketika itu penulis mengajar salah satu pelajaran pondok dikelas sembilan atau tiga SMP.

Mungkin salah satu rahasia umum dari sebagian banyak pondok pesantren adalah banyaknya santri yang tidur ketika KBM berlangsung.

 Penulis adalah salah satu dari guru yang sangat membenci perbuatan ini(tidur ketika KBM berlangsung), maka ketika penulis mengajar sebisa mungkin untuk mencegah santri untuk tidur ketika itu.

Mungkin karena minimnya pengalaman penulis dalam mengajar(karena ketika itu penulis masih termasuk guru muda di pondok) maka penulis menganggap bahwa membuat santri untuk terus terjaga ketika KBM adalah hal yang mudah, itu tergantung dari diri masing-masing guru dalam menegur santrinya.

Akan tetapi pada kenyataannya, hal ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Ketika itu penulis sangatlah gencar untuk menegur santri yang tidur dikelas selama pembelajaran, tetapi dari sekian banyaknya teguran yang penulis sampaikan kepada santri, ada beberapa dari mereka yang masih berani untuk tidur.

Hal ini sontak membuat penulis marah dan bingung dengan kejadian ini, bagaimana bisa mereka dengan mudahnya tidur sedangkan guru didepan mereka sudah memberikan peringatan keras dan berulang kali untuk tidak tidur ketika KBM berlangsung.

Sepulangnya ke kamar, penulis mulai berpikir penyebab dari hal itu. Setelah beberapa kali berpikir, saya mendapatkan penyebab yang masuk akal mengenai penyebab hal ini. 

Dari semua guru yang mengajar tidak semuanya yang menekankan untuk tidak tidur ketika pembelajarannya berlangsung, bahkan diantara mereka malah mempersilahkan santri untuk tidur(ini berdasarkan pengalaman penulis ketika menjadi santri).

Hal inilah yang mungkin menyebabkan kebiasaan buruk yang merebak di kalangan santri, mereka terbiasa tidur ketika KBM berlangsung bahkan ketika guru yang mengajar itu tidak memperbolehkan mereka untuk tidur seperti guru-guru yang lain.

Tentu saja ini hanyalah sebuah spekulasi penulis sebagai guru muda pada sebuah pondok pesantren, dan tentunya ini tidak terjadi di semua pondok dan santri, hanya segelintir di antara semua pondok pesantren. 

Akan tetapi tidaklah salah juga kita mengutarakan pendapat kita sebagai bentuk kritisisme terhadap apa yang terjadi di hadapan kita, dan saya meyakini bahwa kritik yang disampaikan tentu saja untuk kebaikan bersama.

Ini setidaknya pembelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman yang datang tanpa diundang dan terjadi secara tiba-tiba, saya meyakini bahwa semua yang terjadi di hadapan kita bisa kita jadikan pengalaman dan pembelajaran, jikalau kita ingin bermuhasabah dan merenungi semua hal itu.