Penulis baru saja menonton video seminar yang cukup panjang, ketika Basuki Tjahaja Purnama berada di Gereja Reformed Injili Indonesia cabang Samarinda.

Dan ini adalah salah satu video terpanjang Pak Ahok menceritakan seluruh kehidupannya, dari masuk penjara, pengalaman dan pengamalan agamanya bersama Tuhan, dan tiada yang lain dan setiap hal yang ia lakukan di sana.

Pengalaman ini adalah pengalaman yang diceritakan Ahok dengan sangat jujur dan apa adanya. Ia mengalami perubahan drastis di dalam penjara. Segala sesuatu yang dikerjakannya, hanyalah dirinya, penjaga, sesama narapidana, dinding tebal Mako Brimob, dan matahari pagi yang menemaninya setiap hari.

Penggemblengan semacam ini dialami tidak oleh semua orang. Tapi yang menariknya, Ahok melihat penjara ini sebagai sebuah tempat yang disediakan Tuhan baginya, untuk memperbaiki dan mengubah karakter Ahok yang selama ini ia rasa ada di posisi yang tinggi sebagai pejabat publik.

Menurutnya, sebagai pejabat publik, ia bisa dengan mudahnya rendah hati dan bisa mudahnya menggunakan kebaikan-kebaikannya kepada orang yang membutuhkan. Uang pemerintah bisa dengan mudahnya disalurkan kepada orang lain.

Ini merupakan kebaikan level yang menurut Ahok masih kurang membentuk dirinya. Orang-orang melihat Ahok sebagai orang yang murah hati. Tapi apakah secara personal ia murah hati? Menurutnya, ia tidak mendapatkan porsi kemurahan hati itu.

Ketika ia di penjara, ia tidak lagi bisa bermurah hati kepada orang lain, apalagi mereka di Mako Brimob adalah sama-sama tahanan dan sipir penjara saja. Jadi mereka di sana satu level.

Dari sinilah kita melihat bahwa Ahok diajarkan untuk merendahkan hatinya, dan menerima kebaikan-kebaikan yang Tuhan berikan kepadanya selama dua puluh setengah bulan lamanya.

Awalnya ia merasa begitu kaget ditempatkan di dalam sel yang sangat kecil. Ia juga sangat kaget dan resah ketika ia merasa kepalanya panas dan jantungnya berdebar-debar. Awal-awal ia berada di Mako Brimob, dia sampai berteriak kepada penjaga. Meminta tolong untuk memanggilkan dokter.

Dari pencariannya akan dokter, ia malah mendapatkan 6 dokter terbaik di dunia. Dokter itu adalah matahari, istirahat, olahraga, diet, baca buku, berdoa, dan teman-teman yang baik. 

Bayangkan saja anugerah Tuhan yang limpah diberikan Ahok. Dari mencari dokter untuk mengurus masalah jantungnya, ia malah mendapatkan 6 dokter terbaik di dunia yang ada di Mako Brimob.

Bahkan ia berani mengatakan, "Yang penjarain gue pasti nyesel."

Dokter yang belum tentu ada di kehidupan kita yang setiap harinya harus pergi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Kemudian setelah dapat 6 dokter terbaik, dia juga mendapatkan satu Tabib dari segala tabib, yakni Tuhan Yesus yang menyelamatkan dan tetap memberikan penghiburan kepadanya.

Apa yang dikerjakannya selama di Mako Brimob? Ya, dia harus mengikuti peraturan-peraturan di sana. Dia bangun jam 6, berjemur di Mako Brimob. Kemudian dia berolahraga. Terkadang disuruh adu push up atau melakukan hal-hal produktif lainnya.

Makanan dan polanya diatur sedemikian rupa, sehingga pukul 6 sore ia sudah tidak ada intake makanan lagi sama sekali. Artinya, sambil tidur sambil puasa. Ini enak sekali, bukan? Metabolisme sangat meningkat. 

Bahkan ia blak-blakan mengatakan bahwa ia bisa buang air dua sampai tiga kali dalam satu hari. Artinya, ususnya begitu baik dan bersih. Kalau di tengah malam ia lapar, air hangat menemaninya.

Kemudian juga ia mendapatkan istirahat yang sangat cukup. Tidur yang sangat baik. Maka jangan heran, ketika Ahok keluar dari Mako Brimob, tubuhnya terlihat begitu baik. Dia benar-benar berubah. Selain jasmani, mentalitasnya juga diperbaiki.

Ia mendapatkan teman-teman baik selama ia ada di Mako Brimob. Yang lucu, ia juga pernah nyaris membuat satu grup band bernama "The Nabi". 

Astaga, Pak Ahok, sebaiknya jangan macam-macam sama istilah seperti itu. Meski singkatannya adalah Narapidana Binaan. Mungkin kalau saya yang buat, itu tidak masalah, tapi kalau Pak Ahok yang buat, itu bisa jadi bahan gorengan lagi.

Akhirnya Band Teman Penjara alias BTP dipilih oleh beliau untuk bernyanyi. Sebelumnya, ia mengakui suaranya tidak bagus. Dia agak minder untuk bernyanyi di gereja, karena setiap kali bernyanyi, seluruh jemaat gereja menoleh ke arahnya. 

Artinya apa ya kira-kira? Silakan dipikirkan sendiri. Saya agak enggan mengatakan suaranya jelek. (Loh kok disebut juga sih?)

Ada orang-orang yang memang sulit masukkan in tune pitch. Tapi semua orang bisa belajar, sehingga sampai satu saat, suara Ahok yang dulunya mencuri perhatian, jadi sedikit lebih baik.

Ya sedikit saja. Hahaha. Tapi ini membuktikan orang yang tidak bisa sama sekali, setidaknya mampu untuk belajar. Inilah pesan tersirat yang disampaikan Ahok kepada kita.

Kalau kita bicara di dalam paduan suara ada suara satu, dua, dan tiga, mungkin dulu Ahok adalah suara akar lima? Tapi sekarang, dia bisa mengikuti nada dengan pitch yang baik. Ini adalah kemajuan.

Pesan Ahok sebenarnya sederhana. Bersama Tuhan, semua kondisi bisa dilalui, dan dimaknai dengan baik. Semua adalah anugerah Tuhan yang disediakan oleh-Nya. Bukan untuk mengubah keadaan kita, tapi untuk mengubah kita agar bisa bersyukur atas segala keadaan.

Lantas bagaimana dengan kisah kehidupan pribadi Ahok bersama mantan istri, istri, dan anak-anaknya? Kita tunggu sekuel selanjutnya. Nantikan hanya di Qureta.