Dulu, saat nyantri di pesantren Gontor,  sayup-sayup saya mendengar nama besar  Cak Nur.  Namun saat itu saya tidak terlalu paham tentang kebesarannya. Banyak orang membicarakan ide dan pemikiran Cak Nur, namun ketika di pesantren saya belum terlalu peduli dengan ide semacam itu.

Ketakziman terhadap Cak Nur bermula saat saya masuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sudah lazim, begitu memasuki organisasi ini, "anak-anak baru" akan diajari Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Saat itulah perhatian saya kemudian tertuju pada ide dan pemikiran Cak Nur.

NDP adalah ide-ide Cak Nur yang, menurut pengakuannya, merupakan kesimpulan atas suatu perjalanan. Peruwatan yang dimulai dari Eropa sampai Timur Tengah. Dalam perjalanannya tersebut‎, Cak Nur banyak berdiskusi dengan para ilmuwan. Ia kemudian memendam kekecewaan.

"Saya kecewa terhadap tingkat intelektualitas kalangan Islam di Timur Tengah saat itu," tulis Cak Nur dalam mukaddimah NDP.

Ini kemudian mengingatkan Cak Nur akan pengalaman Buya Hamka, ketika suatu saat ia meminta izin kepada K.H. Agus Salim untuk belajar di Timur Tengah. Jawaban Agus ‎Salim saat itu, sebagaimana tertuang dalam Gema Islam:

"Malik, kalau kamu mau pergi ke Mekkah atau Timur Tengah, boleh saja. Kamu akan fasih berbahasa Arab, barangkali. Tetapi paling-paling kamu akan jadi lebai kalau pulang. Tetapi sebaliknya, kalau kamu ingin mengetahui Islam secara intelek, lebih baik di sini. Belajar sama saya." Demikian jawaban Agus Salim.

Cak Nur pun setuju dengan pendapat K.H. Agus Salim. Dinamika pemikiran Islam di Indonesia ‎sudah bergumul dengan marxisme, liberalisme, sosialisme dan sebagainya. Indonesia adalah tempat pergumulan Ideologi yang paling semarak, dari sejak pra-kmeredekaan, orde lama, orde baru, hingga sekarang.

"Kita sudah biasa berdialog dengan orang-orang komunis, dengan forum-forum mereka, bukan forum kita," ungkap Cak Nur.

Setelah Cak Nur pulang dari haji, dia ingin menulis sesuatu tentang nilai-nilai dasar Islam. Seluruh keinginannya untuk membuat NDP dia curahkan pada bulan April, agar sebulan kemudian bisa dibawanya ke hadapan kongres HMI di Malang.

"Jadi NDP itu sebetulnya merupakan kesimpulan saya dan perjalanan yang macam-macam di Timur Tengah selama tiga bulan lebih itu," jelasnya.

Inti NDP adalah beriman, berilmu, beramal. Kalau kita mempelajari NDP, kita akan menemukan beberapa sub-tema. Di antaranya adalah; dasar kepercayaan, kemanusiaan, kemerdekaan manusia, ikhtiar dan takdir.

Ketuhanan yang Maha Esa dan prikemanusiaan, individu dan masyarakat, keadilan sosial, keadilan ekonomi, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan, terakhir kesimpulan dan penutup.

Dengan demikian sikap hidup manusia cukup sederhana, yaitu beriman, berilmu, dan beramal.

Dari NDP inilah titik awal kekaguman saya pada Cak Nur. Walau saya belum pernah bertemu dengannya, tapi saya selalu berusaha melakukan dialog imajiner lewat buku-buku yang telah Cak Nur tulis.

“Islam Doktrin dan Peradaban” ‎merupakan buku yang luar bisa saya kagumi dari Cak Nur. Menurutnya, tauhid memiliki efek pembebasan diri dan pembebasan sosial. Dengan begitu, tauhid tidak menghendaki absolutsme, melainkan sikap yang demokratis, berdasarkan pada musyawarah.

Menurut Cak Nur, umat beragama harus meninggalkan praktik keagamaan yang kekanak-kanakan. Memaksakan kebenaran agama sendiri kepada pemeluk agama lain adalah cara beragama yang kekanak-kanakan. Sebaliknya, meninggalkan sikap fanatik maupun pencarian legitimasi terhadap praktik kekerasan, adalah dua hal yang ia tekankan.

Tidak diragukan lagi, Cak Nur adalah pelopor utama penggerak pembangunan Islam dan keindonesiaan yang asri, yang memberi payung pada semua tanpa terkecuali.