Banyak perempuan yang sepakat bahwa pengakuan cinta semestinya hanya dilakukan oleh pihak laki-laki. Perempuan cuma perlu menunggu dan berbenah diri jika ingin memiliki pasangan yang sama baiknya, sama mapannya, sama agamisnya, dan sama-sama lainnya.

Beberapa teman dekat saya juga berkata demikian. Perempuan tak perlu berjuang-berjuang amat pada kisah yang mereka anggap belum pasti alias belum ada kejelasan status hubungan. Apalagi jika perasaan itu masih abu-abu, apakah sepihak ataukah berbalas. Tentu untuk tahu kejelasan harus melalui proses pengakuan.

Namun yang menjadi sorotan adalah stigma pengakuan itu sendiri. Orang-orang menganggap jika perempuan menyatakan cinta dianggap terlalu berani, terlalu aneh,  terlalu wagu, dan terlalu tabu. Meskipun sebetulnya sah-sah saja.

Ketika salah satu teman saya curhat dan mengaku diam-diam menyukai teman laki-lakinya. Ia menjelaskan jika pihak laki-laki sudah memberi kode padanya. Kode berbentuk perhatian, sering menawarkan bantuan jika ada masalah, senang mengajak pergi ke suatu tempat, dan sering kali berbagi cerita kesehariannya.

Kode yang bagi orang awam pun akan menyimpulkan satu pandangan yang sama, yakni si laki-laki menaruh perasaan lebih atau bisa dibilang menyukai teman perempuan saya itu.

Lalu kemudian saya menyuruh dia untuk confess, "Sudah, tembak saja jika kamu juga suka." Teman saya menolak keras-keras. Kata dia, "Aku masih punya harga diri."

Saya hanya diam, memangnya pengakuan cinta seorang perempuan bisa disandingkan dengan harga diri? Kalau begitu, keburu pujaan hatinya pergi ke lain hati. Setidaknya kalau punya rasa cinta, katakan. Biar lega. Biar ke depan tak punya penyesalan. Toh jika ditolak pun, yang penting sudah pernah mencoba.

Seperti kisahnya dr. Jang Gye-ul dalam drama Hospital Playlist (2020). Sejak episode pertama hingga menjelang akhir, digambarkan bahwa dr. Jang Gye-ul menyukai dr. Ahn Jeong-won pada pandangan pertama.

Sahabat dr. Ahn Jeong-won, yakni Lee Ik-jun, bertindak sebagai mak comblang mereka. Meskipun terlihat kentara sekali bahwa sejak awal dr. Ahn Jeong-won sama sekali tak tertarik dengan dr. Jang Gye-ul.

Terlebih lagi dr. Ahn Jeong-won dikenal sebagai hamba Tuhan yang sangat taat dan bercita-cita menjadi pastor. Di salah satu episode, ia bahkan berkata tidak ada yang lebih dicintainya kecuali Tuhan.

Bayangkan saja, seorang manusia macam dr. Jang Gye-ul, yang hanya residen tahun keempat harus 'bersaing' dengan Tuhan untuk membuat dr. Ahn Jeong-won balik menyukainya.

Setelah melewati dua belas episode, pada menit-menit drama sebelum tamat, dr. Jang Gye-ul menyatakan perasaannya selama ini. Barangkali dr. Jang Gye-ul tak ingin menyesal, karena sebelumnya dr. Ahn Jeong-won pernah berkata hanya akan menjadi dokter sampai akhir tahun, selepas itu resign untuk menjadi pastor. Sebuah mimpi masa kecil yang dia coba untuk perjuangkan sekali lagi.

Namun tak disangka-sangka. Gayung bersambut. Diam-diam dr. Ahn Jeong-won juga menyukai dr. Jang Gye-ul. Ternyata dia dulu sempat ragu soal perasaannya terhadap dr. Jang Gye-ul.

Kemudian dr. Ahn Jeong-won memutuskan untuk tidak melanjutkan mimpi masa kecilnya lagi. Dia mencintai dr. Jang Gye-ul dan mencintai profesinya sebagai dokter bedah anak.

Bayangkan saja jika dr. Jang Gye-ul mengamini pengakuan cinta hanya dimiliki laki-laki saja, mungkin ending-nya tidak akan begitu. Mungkin selamanya dr. Jang Gye-ul akan menyesal karena tak sempat menyatakan perasaan dia.

Pada kisah lain di dalam drama yang sama. Ada dr. Chu Min-ha, seorang residen tahun kedua yang menyukai dr. Yang Seok-yeong, atasan sekaligus sahabat dari dr. Ahn Jeong-won. dr. Yang Seok-yeong ini termasuk tipe laki-laki pemalu dan kaku yang malas menjalin hubungan asmara sejak pernikahannya kandas.

Kepribadian mereka berdua berbanding terbalik, meski bergitu, dr. Chu tetap saja menyukai dr. Yang. Hingga pada akhirnya dr. Chu Min-ha menyatakan perasaan dia di dalam mobil, waktu sengaja menumpang untuk pergi ke stasiun. Meskipun tak mendapat balasan, dr. Chu Min-ha merasa lega, setidaknya dr. Yang Seok-yeong tahu perasaan dia.

Seperti halnya perempuan, laki-laki kadang ragu tentang perasaannya atau ragu untuk mengakui cinta karena beberapa alasan. Kalau perempuan hanya menunggu, selamanya perasaan itu hanya menggantung. Tahu, kan, rasanya digantung bagaimana?

Kalau perempuan memang menaruh perasaan cinta pada laki-laki, apa salahnya untuk diperjuangkan dengan pengakuan? Kalau perempuan hanya disuruh menunggu dan terus berbenah diri, untuk apa perjuangan Ibu Kartini?

Perjuangan soal perempuan yang setara dalam mengakses apa pun dengan laki-laki. Saya berpikir, perjuangan yang dimaksud juga termasuk akses untuk menyatakan cinta. Saya ingin menunggu, kapan kita akan mengalami zaman di mana pengakuan cinta perempuan tak lagi menjadi hal yang tabu.

Mungkin kalau zaman itu terjadi, saya yakin, akan lebih sedikit orang-orang yang jatuh cinta sendirian atau jatuh cinta diam-diam.