Menjadi seorang Guru tentu merupakan sebuah profesi yang banyak diidam-idamkan oleh sebagian Masyarakat, bahkan menjadi salah satu pilihan utama cita-cita masa kecil. Namun, ketika beranjak dewasa, cita cita itu kini mulai pudar, di sebabkan beberapa kenyataan yang ada, salah satunya adalah kesejahteraan seorang Guru.

Sewaktu saya masih mengenyam bangku sekolah menengah tingkat akhir, hanya segelintir orang saja yang mengaku "masih" ingin menjadi Guru, bahkan sebagaian dari mereka mengurungkan niatnya karena salah satu sarat utama menjadi guru adalah minimal pernah belajar di bangku kuliah.

Pernah saya juga berpikir, mempertimbangkan antara kuliah yang mengeluarkan uang dan akhirnya menjadi Guru atau langsung bekerja di Pabrik dengan upah minimum hampir 3 jutaan, (Pasuruan, Daerah saya termasuk UMR Tinggi), Banyak pertimbangan yang mungkin juga dirasakan oleh teman-teman saya.

Buktinya mereka lebih memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan bekerja di pabrik dengan gaji UMR minimal 3 juta rupiah, dari pada harus kuliah menghabiskan dana untuk kuliah namun masa depan belum diperkirakan, apalagi jika mengambil jurusan Agama atau Pendidikan, mentok-mentok jadi Guru Honorer.

Makanya sebagai Guru, saya terkadang berpikir: Apakah harus mengikuti para pendahulu saya, menanggalkan gelar gurunya untuk bekerja di pabrik. Sebab dengan gaji yang hampir 10 kali lipat gaji seorang guru, tentu hal itu lebih mengiurkan.

Belum lagi, tiap tahunnya upah mininum buruh terus bertambah dan kesejahteraan nya di janjikan oleh Negara. Dan sejauh pengamatan saya, Zaman sekarang buruh paling enggak sudah memiliki sepeda baru-baru, bahkan banyak yang sepeda "Sports". namun Guru, guru saya sendiri, dari dulu hanya memakai sepeda Supra tua, hingga sekarang masih sama, yang beda hanya sekarang sudah lunas.

Pernah saya melihat sebuah tayangan televisi yang mengatakan kebobrokan pendidikan di Indonesia adalah disebabkan oleh Guru yang hanya sekadar mengajar, guru yang hanya mengajar karena bayaran dan sibuk mengejar kenaikan pangkat. Sebenarnya itu ada benarnya juga. Sebab bagaimana mungkin seorang Guru mengajar tidak sekadar mengajar.

Jika mengajar saja dia masih memikirkan kepulan asap dapurnya, bagaimana mungkin guru tidak mengejar bayarannya jika bayarannya tidak bisa dipastikan keberadaanya dan bagaimana mungkin guru mengejar pangkat jika menjadi guru, wali kelas, komite, sekertaris, bendahara, kepala sekolah tidak ada bedanya. 

Malahan semakin tinggi pangkatnya semakin banyak beban yang ia tanggung. Ketika kekurangan dana, harus rela mencari hutangan, bahkan mengeluarkan uang pribadi untuk menutupi kebutuhan sekolah. Itulah cermin guru-guru di sebagian sekolah di negeri ini.

Terkadang, terpikirkan untuk menyudahi gelar guru ini, sebab beban yang besar ini. Tidak main-main, harus berurusan dengan masa depan negara. Namun, jika guru-guru seperti itu menyudahi itu. Tentu saja tidak tega, melihat sang penerus bangsa tidak ada yang "ngopeni". Dan terakhir, saya berharap kepada pemerintah. Saya tidak mengharapkan yang enggak-enggak atau meminta kesejahteraan yang berlebihan.

Kami berharap tolong bapak-bapak dinas pendidikan jika ingin membuat program atau apalah yang menurut bapak akan menjadikan "keren" pendidikan kita, tolong bapak pikir kembali. Sebagaimana UNBK ini, bagaimana bisa anak-anak desa yang biasanya memegang sabit, harus tergopoh-gopoh mengoprasikan komputer yang sama sekali belum mereka kuasai.

Siapkah Para Guru, Kepala Sekolah dan Sekolah menerima itu. Dan yang terpenting Sudahkah bapak pikirkan Keluarga Guru dan keluarga Muridnya, demi meladeni Program bapak. Sudah berapa kambing, Sapi dan Sawah yang terjual demi sekolah. Oleh karena itu, Guru terkadang juga ingin menjadi Buruh.