Hidup ini memang keras, maka hidup adalah tentang sebuah perjuangan.

Ungkapan tersebut atau yang senada tampaknya menjadi sebuah quote bijak yang sudah familiar di ruang publik. Saya sepakat jika alur episode hidup ini tak selamanya mulus. Aral yang terjal sering kali merintangi setiap fase kehidupan kita.

Tak heran, gambaran kehidupan yang keras sering menjadi tema utama dalam dunia perfilman tanah air. Menilik beberapa alur sinetron atau film di negeri ini, apalagi FTV, pengalurannya memang hampir seritme. Kehidupan selalu digambarkan sebagai suatu rentetan fase. Pada fase tertentu, tokoh utama akan mengalami konflik, jatuh, terjerembab, kemudian bangkit dan berakhir bahagia.

Mengapa selalu berakhir bahagia (happy ending)?

Salah satu alasannya tentu saja mindset masyarakat sebagai pasar yang selalu menginginkan sebuah akhir bahagia dari film yang mereka tonton. Bahkan tak jarang masyarakat akan kecewa, bergolak, dan memberi review berisi protes ketika tayangan film yang mereka tonton berakhir tragis.

Seperti drama Korea yang sempat hits di tahun 2016 lalu, “Descendant of The Sun” yang dibintangi oleh Song Jong Ki dan Song He Kyo. Dilansir dari kabar liputan6, sebenarnya ending dari kisah ini adalah sad ending. Tetapi demi kepuasan pemirsa, maka alur diubah menjadi happy ending.

Bagaimana dengan diri kita, apakah kita termasuk pengagum happy ending?

Ketika pengagum happy ending menjalani keseharian

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat bergurau dengan kawan-kawan. Tiba-tiba, dalam gurauan tersebut, seorang kawan mengatakan bahwa saya adalah tipe orang yang mengagumi happy ending seperti tayangan FTV ikan terbang.

Tentu saja saya tidak tersinggung. Justru setelah itu saya merenung, berdialog dengan diri saya sendiri, benarkah selama ini saya pengagum happy ending?

Beberapa memori seperti pita kaset yang tergulung memutar balik. Saya mengeja satu per satu fase hidup yang telah saya lalui. Memang berbagai hambatan pernah menjadi titik klimaks berkali-kali yang membuat saya depresi dan berada di titik lelah. Lalu saya tak menyerah, tak menampakkan kesedihan kepada banyak orang, berjuang dan melaluinya.

Saya suka menuliskan beberapa penggal kisah perjuangan, dan tentu saja, setelah saya benar-benar mampu melaluinya dengan baik, maka benar-ternyata saya adalah pengagum happy ending. Apakah di antara kita ada yang seperti saya?

Pengagum happy ending dari sudut pandang psikologis

Saya rasa, sebagian besar orang selalu menginginkan sebuah akhir bahagia dari problematika hidup yang mereka jalani. Siapa sih dalam hidup ini yang tak menginginkan kebahagiaan? Perbedaannya mungkin terletak pada bagaimana cara seseorang menyikapi masalah, dan mengatasinya. Jadi, sebenarnya, bahagia itu tidak melulu soal hidup yang bebas dari problema.

Dilansir dari lama pijar psikologi, kebahagiaan ditandai dengan kondisi psikologis yang positif, didukung dengan tingkatan emosi positif yang tinggi, dan emosi negatif yang rendah. Di sini, manajemen emosi sebenarnya adalah tamparan bagi seseorang pengagum happy ending. Bahwa bahagia tidak selalu berada di akhir, namun dalam fase konflik dan klimaks seseorang juga sebenarnya bisa tetap menjaga bahagianya.

Senada dengan beberapa statemen di atas, bahwa bahagia tidak terbatas pada persoalan pencapaian. Ketika kebahagiaan hanya diukur dari pencapaian, maka kita akan menjadi jiwa yang tak pernah siap terhadap kegagalan. Banyak sumber kebahagiaan yang bisa digali. Bahkan dari hal-hal sederhana yang mungkin belum kita sadari.

Dilansir dari laman geolife.id menukil empat level kebahagiaan ala Aristoteles, seorang filsuf berkebangsaan Yunani. Empat level kebahagiaan ini yang nantinya akan memberikan impact terhadap daya pertahanan diri kita dalam menghadapi masalah.

Level pertama adalah laetus atau kebahagiaan fisik, sebuah kebahagiaan yang bersifat inderawi, berwujud benda atau material. Pada level laetus ini kemudian dikenal dengan kebahagiaan nisbi. Sesaat dan mudah sekali menghilang. Kebahagiaan jenis ini dianalogikan seperti rasa kenyang yang memiliki batas waktu.

Level kedua adalah felix yaitu membahagiakan ego. Felix diartikan sebagai perbandingan. Kebahagiaan pada level ini sangat bergantung dari orang lain. Tentang persoalan like dan dislike, pengakuan atas eksistensi diri.

Sama halnya dengan level pertama, kebahagiaan ini mudah hilang terkikis. Saat kita terbenam tanpa pengakuan, kita akan terkungkung dalam kekecewaan.

Level ketiga adalah beatitudo, yakni kebahagiaan dari sebuah kebaikan. Kebalikan dari level kedua, maka dalam kebahagiaan ini kita memerlukan usaha keras untuk kebahagiaan orang lain. Mengejawentahkan kebaikan, belas kasih, dan cinta. Meski demikian, kebahagiaan ini bisa bertahan lebih lama.

Level keempat adalah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan ini adalah puncak klimaks, setelah seseorang lelah memenuhi nafsu dan ego. Para pakar psikolog menyebutnya sebagai kebahagiaan transendensi. Kebahagiaan yang tak mengenal kecewa, sebuah penerimaan dengan keyakinan bahwa ada anasir yang lebih berkuasa dalam mengatur skenario hidup.

Personal effort building dan sebuah harapan masa depan

Setelah mengenal berabagai macam tingkatan dan jenis kebahagiaan, maka kita dapat memberikan sebuah gambaran tentang sosok pengagum happy ending. Sebuah sikap yang agaknya mengagungkan pencapaian di akhir. Bagaimana sebuah proses harus terbayar dengan cerita kebahagiaan.

Apakah hal ini keliru? Tentu saja tidak selalu keliru. Hanya saja memang, ketika seseorang mengagumi happy ending, dan menuai kegagalan, maka seseorang tersebut akan menuai kekecewaan yang cukup panjang. Ironisnya, hal ini sangat tak baik bagi kesehatan jiwa.

Tetapi ketika kita berbicara soal manusia, ada banyak variabel tak terkendali yang sulit diterka. Ada juga yang bilang, bahwa masalah dan kegagalan akan mendewasakan kita. Maka tidak menutup kemungkinan, kekebalan perasaan kecewa dalam diri pengagum happy ending juga akan terbentuk, terutama, saat dalam dirinya terpatri sebuah transendensi value.

Sisi kelebihan lain dari seorang pengagum kebahagiaan adalah personal effort building yang kuat. Bagaimana seseorang akan melakukan segala perjuangan dan upaya demi melalui masa sulit untuk mendapatkan sebuah epilog masa depan bahagia. Upaya yang bahkan tak jarang melebihi kapasitas dirinya, tiba-tiba muncul mencipta sebuah energi.

Martin Seligman, seorang tokoh psikologi positif juga menyatakan bahwa ada enam hal yang terkait dengan sebuah kebahagiaan autentik. Salah satunya adalah semangat dan gairah (virtue of courage). Aspek ini memiliki statemen yang agaknya bisa menjadi cambuk bagi kita yang sedang berjuang, atau si pengagum happy ending.

“Selesaikan apa yang kamu mulai. Lakukan apa yang telah kamu janjikan. Menggunakan cara-cara fleksibel, realistis, dan nilai kejujuran.”