Kami biasa memanggilnya “Kom”. Suatu hari, sewaktu saya masih duduk di kelas 3 SD, ibu saya dikejutkan oleh seseorang yang masuk ke rumah, lebih tepatnya berada di dalam rumah, ketika ibu pulang dari pasar.

Waktu itu masih cukup pagi, saya sekolah, bapak bekerja dan adik saya ikut ibu. Para tetangga sudah berangkat kerja, jadi keadaan cukup sepi. 

Sewaktu hendak masuk rumah, ibu kaget ada suara langkah diseret dari arah kamar saya. Memang tipikal rumah kampung di desa, pintu dapur jarang dikunci kecuali akan ditinggal pergi dalam waktu lama atau ditinggal tidur di malam hari. Ibu spontan teriak meminta tolong, dalam pikirannya orang di dalam rumah itu pasti maling. 

Tidak lama kemudian orang-orang yang sedang berada di penggilingan padi depan rumah, dan mereka yang belum pergi bekerja datang ingin menolong, banyak di antara mereka membawa kayu untuk memukul.

Seseorang dari orang-orang yang datang mencoba masuk rumah, diikuti beberapa yang lain. Mereka memeriksa semua ruangan, dan sampai ke kamarku, ada seseorang sembunyi di kolong tempat tidur. 

Mengetahui dirinya dicari, orang itu pun keluar, mencangklong tas sekolahku yang ada di rumah. Dia tertawa sambil menyapa tetangga saya yang kebetulan menemukannya dalam kamar. “Aku iki lek” (Ini saya, Lek)”. Yang disapa pun menjawab “Oh, kowe to Kom” (Oh, Itu kamu, Kom). 

Orang yang dipanggil “lek” pun menuntun Kom yang memang keponakannya untuk keluar rumah. Tidak ada marah, jengkel, atau kecewa. Bapak itu meminta maaf kepada ibu dan orang-orang yang sudah datang, lalu mengajak Kom pulang.

Kom ada gangguan jiwa yang sering kali kambuh, tetapi ketika kambuh tidak pernah mengganggu orang atau berlaku memalukan dirinya sendiri. Dia akan jalan tanpa arah ke mana saja dia mau. 

Dia tinggal bersama ibunya di dusun sebelah, tetapi biasa datang ke kampung saya. Kata ibu saya gangguan jiwa itu karena turunan ada pendahulunya yang juga mengalami hal serupa meskipun gejalanya berbeda.

Kom adalah satu penderita gangguan jiwa yang menurut saya beruntung. Ibunya sangat sabar mengurusnya, membawanya ke Rumah Sakit Jiwa setiap kali kambuh. 

Keluarga lainnya juga mempunyai penerimaan yang baik. Tidak pernah saya dengar ada perundungan dari tetangga atau orang-orang yang bertemu dengannya saat kambuh. Ibunya paham kapan sang anak kambuh, sehingga bergegas mencari ketika Kom tidak ada di rumah.

Belum lama saya mendengar kabar bahwa Kom dinyatakan sembuh dari pihak Rumah Sakit Jiwa. Untuk menandai kesembuhannya, namanya diganti, tetapi saya lupa siapa nama barunya. Berita itu menurut saya merupakan sebuah berkat bagi semua pihak. Buah kesabaran orang-orang di sekitarnya, dan doa-doa yang terkabul dari ibunya.

Gangguan kejiawaan bisa dialami siapa pun, dengan sebab yang bermacam-macam, dengan berbagai level. Lingkungan memiliki andil dalam setiap jiwa, andil yang menyebabkan maupun andil menyembuhkan, termasuk kita sendiri. 

Praktik perundungan bahkan sudah ada pada usia sangat dini, anak-anak terlatih merundung teman seusia, yang tanpa disadari meninggalkan bekas luka. Tidak tampak dan tidak terduga akibatnya. Apa saja dan siapa saja bisa menjadi objek perundungan. Akibat terburuk adalah depresi dan praktik bunuh diri atau dendam dan masih banyak ekspresi melawan lainnya.

Saya sering mendapatkan perundungan fisik saya dari masa SMP oleh beberapa teman saya yang sampai sekarang masih saya ingat. Saya marah, tetapi hanya dalam hati. Kemarahan saya berkembang menjadi rasa tidak percaya diri sampai saya dewasa. 

Hal-hal buruk yang dilabelkan pada fisik saya melekat di alam bawah sadar. Sampai saya sadari setiap orang tidak sempurna, dan hanya orang yang bisa menerima diri sendiri yang bisa berbahagia.

Penerimaan pada diri sendiri melahirkan pemaafan diri dan orang lain. Ini diri saya, ini hidup saya, suara-suara busuk mereka tak berarti apa-apa. Kewajiban kita terhadap orang lain adalah menahan diri dari melukai jiwa lain, sedangkan kewajiban terhadap jiwa kita sendiri dengan menerima dan memaafkan semua bentuk perlakuan.

Sekali lagi, lingkungan memang ikut bertanggung jawab atas kesehatan mental seseorang. Jika lingkungan bisa berlaku humanis, saling menghormati, saling menjaga, saling memaafkan dan memeberikan penerimaan yang baik, maka lingkungan tersebut akan menjadi rumah yang aman bagi semua jiwa di dalamnya, dan menjadi tempat untuk menyembuhkan jiwa yang lelah bahkan sakit.

Pendampingan dan lingkungan Kom bisa menjadi gambaran kecil dari rumah jiwa yang baik, bagaimana Ibu, saudara, tetangga bisa memahami keadaan kejiawaan yang dulunya sering terganggu atau tidak stabil, sampai dia secara resmi dinyatakan sembuh. Tidak ada perundungan bagi Kom maupun orang dekatnya dan tidak ada yang menyakitinya secara fisik, jiwanya utuh dan sembuh.