60809_24261.jpg
Foto: wallhere.com
Seni · 3 menit baca

Penerapan Tipografi Jepang

Jepang terkenal sebagai negara modern yang maju dalam bidang teknologi, pendidikan, seni, dan banyak hal lainnya. Walaupun begitu, Jepang tetap melestarikan budayanya.

Berdasarkan pengalaman saya pada saat berada di Jepang, banyak budaya-budaya Jepang yang masih saya temui terasa kental dan sangat dijaga serta dilestarikan. Salah satunya budaya yang masih begitu kental adalah bagaimana orang-orang Jepang menulis dengan tinta di atas kain. 

Sejarah masuknya tipografi ke Jepang sekitar tahun 552 AD. Budisme masuk ke Jepang melalui Korea. Dalam perkembangan tipografi di mana tulisan berperan penting dalam pendidikan dan juga seni, dari situ mulailah muncul budaya Jepang yang dipengaruhi dari beberapa kitab Budha.

Kecintaan Jepang terhadap budaya aslinya patut dicontoh oleh Indonesia. Bahkan, mereka punya cara sendiri untuk melestarikan budaya turun-temurun agar tetap digunakan hingga masa depan.

Pemerintah Jepang mewajibkan para warganya untuk terus menggunakan barang-barang peninggalan leluhur hingga kini. Dan yang terpenting adalah bagaimana Jepang masih bisa membawa tulisan-tulisan Jepang ke dalam bentuk modern menjadi sebuah seni tulisan atau yang kita sebut Tipografi Jepang.

Hal tersebut dilakukan agar kerajinan-kerajinan tersebut tak akan punah ditelan modernisasi zaman. Motif lainnya yang juga biasanya kita lihat dalam desain-desain Jepang adalah goresan dengan kuas. Goresan dengan kuas sangat terkait dengan praktik-praktik tradisional dari kaligrafi Jepang. 

Jika kita melihat desain-desain Jepang yang mengandung goresan dengan kuas, mereka sering terlihat berantakan karena perbaikan atas goresan-goresan tersebut tidak diperbolehkan karena dari situlah seni goresan itu berasal, jadi kita bisa melihat kejujuran di dalamnya.

Pada saat saya mengunjungi Shibuya Kebudayaan Jepang, dijelaskan secara langsung dalam pilihan warna-warna untuk desainnya. Tipografi yang diberikan pun terkesan besar dan tegas, seakan ingin menarik semua mata untuk melihat warna-warna yang digunakan pun adalah yang berani dan cerah, mereka begitu memberikan semangat. 

Kapan pun orang melihat desain grafis Jepang, mereka akan mengingat jalan-jalan ramai dari Harajuku atau atmosfer penuh semangat dari Shibuya. Ini adalah salah satu ciri khas Jepang di mana membawa semua hal yang terasa tradisional menjadi begitu modern.

Tipografi Jepang juga terkenal dengan cara bagaimana Jepang bisa memadukan berbagai bahasa dengan tulisan-tulisan Jepang agar terkesan ramai sehingga membuat pembaca merasa ingin membacanya berkali-kali. Bisa terlihat bahwa tipografi Jepang mendukung struktur, kebanggaan, kesadaran, dan keindahan kebudayaannya. 

Ini mengapa jika melihat desain grafis Jepang, kita jarang melihat hanya satu bahasa yang digunakan dalam desain-desainnya. Biasanya, kombinasi antara karakter Jepang dan Roman yang kita telah akrab dengan (bahasa Inggris) yang digunakan.

Tipografi Jepang juga sering melibatkan hal-hal yang mereka cintai, salah satunya adalah orang Jepang mencintai bunga. Bunga dianggap penting dalam kebudayaan Jepang; begitu pentingnya hingga terdapat studi akan bunga-bunga di Jepang yang disebuhtHanakotoba, yang berarti Ilmu Kebungaan dalam bahasa Indonesia. 

Bunga-bunga tertentu, dan warnanya, melambangkan perasaan atau ide bagi rakyat Jepang. Beberapa contohnya adalah warna merah yang melambangkan cinta yang penuh gairah dan warna putih yang berarti kebaikan. Bunga Sakura yang merupakan lambang Jepang sering ditampilkan dalam desain-desain tulisan sehingga bisa membuat tulisan menjadi simbol keindahan dan anggun.

Selain bunga, Jepang juga identik dengan sesuatu yang lucu dan imut. Kita banyak melihat keimutan tersebut dan kartun-kartun yang digambarkan berlebihan di TV, buku-buku, bahkan di makanan; keimutannya ada di mana-mana. 

Dengan ilustrasi-ilustrasi yang imut dan lucu, para penggunanya mencoba menyampaikan kepada para pembacanya bahwa mereka adalah orang-orang yang ramah jadi tidak heran jika desainnya terlihat imut, desain tersebut pasti berasal dari Jepang atau terinspirasi oleh desain Jepang.

Yang terakhir adalah jika kita memperhatikan tipografi Jepang, maka pasti banyak terdapat informasi dan juga angka-angka. Seperti yang terdapat di beberapa supermarket di Jepang, banyak iklan dan situs Jepang yang padat dengan informasi, entah dalam bentuk kata maupun angka.

Sebenarnya merupakan sesuatu yang umum di Jepang jika desain memiliki banyak informasi karena bagi orang Jepang. Semakin banyak informasi yang bisa kamu sertakan, maka semakin baik. 

Orang Jepang menghargai detil-detil untuk menghindari kesalahpahaman dan meminimalisasi risiko-risiko yang mungkin muncul. Maka tidak heran jika kamu melihat penggabungan kata-kata dan angka yang rumit pasti itu tidak jauh dari salah satu ciri khas tipografi Jepang.

Dengan adanya ilmu atau seni tipografi, kita jadi bisa mengatur huruf-huruf supaya bisa menjadi sebuah kata yang memiliki makna. Lebih lanjut lagi, kata-kata yang sudah tersusun dari huruf-huruf tersebut dapat kita rangkai untuk menjadi sebuah kalimat yang memiliki makna tertentu. 

Dengan tulisan-tulisan pun kita juga bisa belajar untuk melestarikan budaya kita dan terus berkarya membuat karya seni yang melestarikan budaya kita.