Era digital telah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya sebuah pendidikan. Dalam masyarakat yang dinamis dan kompleks, pendidikan menjadi elemen kunci dalam memperoleh pengetahuan yang valid. Namun, patut disadari hingga saat ini pendidikan belum berfungsi optimal. 

Misalnya, merebaknya kasus berita hoaks, pornografi, dan konten-konten berbau radikalisme. Tampak bahwa penalaran ilmiah belum sepenuhnya diterapkan dalam proses penggalian sebuah pengetahuan atau informasi.

Berkaca dari persoalan tersebut perlu lebih menekankan pada penalaran ilmiah bagi dunia pendidikan. Di era digital, pendidikan sejatinya tidak hanya berkonsentrasi pada penanaman nilai-nilai karakter bangsa, namun juga penalaran ilmiah yang berguna dalam menangkal konten-konten negatif di internet. 

Oleh karena itu, perlunya penerapan epistemologi pendidikan dalam rangka memperoleh pengetahuan yang valid untuk mencetak generasi yang berkarakter.

Tantangan Pendidikan di Era Digital

Pendidikan memiliki tantangan yang cukup berat di era digital karena banyak informasi yang dianggap merugikan berbagai pihak. Pertama, di era digital, masyarakat lebih mudah terpapar radikalisme. Berdasarkan hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menunjukkan bahwa 50,8% pelajar memilih belajar Islam melalui teknologi internet (Mediaindonesia.com). 

Internet menjadi media yang rentan terhadap penyebaran konten-konten radikal. Menurut beberapa peneliti sepeti Fealy dan Rabasa, internet menjadi ladang bagi penyebaran radikalisme. Sehingga tidak sedikit pelajar yang terpapar ideologi radikalisme.

Kedua, mudahnya mengakses situs-situs pornografi. Berdasarkan hasil survei yang disampaikan oleh Kepala Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Kementrian Agama (Kemenag) RI, Achmad Gunaryo, Indonesia menempati ranking kedua pengakses pornograsi di dunia setelah India (dejabar.id). 

Secara keseluruhan, sekitar 74% merupakan generasi muda. Sementara, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat bahwa 4.500 pelajar tingkat SMP dan SMA di 12 kota, jumlah pengakses pornografi mencapai 97% (Rakyatku.com).

Ketiga, terkait informasi hoaks, beberapa waktu lalu, pubilk sempat dikejutkan dengan beredarnya kasus hoaks oleh salah seorang aktivis kemanusiaan. Meskipun oknum tersebut telah mengakui bahwa hal tersebut merupakan sebuah kebohongan semata, namun cukup menggemparkan publik karena banyak masyarakat yang termakan isu tersebut. 

Bahkan, sebagian merupakan kalangan politisi dan intelektual. Melihat beberapa fenomena yang sempat muncul di era digital saat ini, maka diperlukan sebuah desain epistemologi dalam dunia pendidikan.

Penerapan Epistemologi Pendidikan di Era Digital

Epistemologi pendidikan terdiri dari dua kata yakni epitemologi dan pendidikan. Secara konseptual, epistemologi dimaknai sebagai suatu aktivitas dalam ilmu pengetahun yang mempelajari dan mempersoalkan secara mendalam mengenai apa itu pengetahuan, sumber pengetahuan, dan tingkat validitas sebuah pengetahuan (Sofyan, 2010).

Sementara, dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Dengan demikian, epistemologi pendidikan dapat dipahami sebagai suatu aktivitas yang menekankan pada aspek pencarian dan penalaran ilmiah untuk mengembangkan potensi intelektual, kepribadian, akhlak, dan spiritual.

Di era digital, epistemologi pendidikan dapat dijadikan pijakan bagi masyarakat dalam mengelaborasi potensinya serta membendung pengaruh negatif yang bertebaran di dunia digital, terutama media internet. 

Sebab, epistemologi mengajarkan cara memperoleh dan menguji tingkat validitas sebuah pengetahuan atau informasi dari sumber melalui penalaran secara ilmiah. Setidaknya, terdapat tiga fase yang perlu dipahami dalam menerapkan penalaran ilmiah (Ahmad, 2004).

Pertama, memahami objek pengetahuan yakni seluruh objek empiris yang berada dalam pengalaman manusia. Pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Kedua, memahami sumber pengetahuan. Terdapat beberapa jenis sumber pengetahuan yang diakui keabsahannya seperti empiris, humanis, rasionalis, dan positivis.

Ketiga, tingkat validitas pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh kemudian diajukan sebagai hipotesis. Hipotesis dimaknai sebagai sebuah pernyataan yang benar sesuai kaidah logika, namun belum dapat dibuktikan secara empiris. Apabila hipotesis yang diajukan dapat dibuktikan secara empiris, maka tingkat validitas pengetahuan dianggap sah dan sempurna. 

Namun, apabila hipotesis yang diajukan tidak dapat dibuktikan secara empiris, sejauh hipotesis tersebut dapat diterima secara logis, maka tingkat validitasnya tetap dipertimbangkan.

Dalam konteks pendidikan, konsep penalaran ilmiah yang telah dirancang digunakan untuk membangun kerangka pendidikan di era digital. Misalnya, cara memperoleh pengetahuan melalui media internet. Adapun, langkah-langlah yang dilakukan melalui pendekatan epistemologi pendidikan ialah pertama, perlunya memahami jenis objek yang hendak dipelajari. 

Kedua, dalam mencari sumber pengetahuan dari media internet, diperlukan kajian secara empiris dan rasional agar sumber pengetahuan yang didapatkan benar-benar valid. Kemudian yang ketiga, untuk mengetahui tingkat validitas pengetahuan yang bersumber dari internet, maka diperlukan pengujian baik secara empiris, maupun logis.

Pendidikan di era digital membutuhkan penalaran ilmiah melalui penerapan epistemologi pendidikan secara konkret. Hal ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan yang utuh didasarkan pada pemahaman tentang objek pengetahuan, sumber pengetahuan dan tingkat validitas pengetahuan. 

Selain itu, juga untuk meminimalisasi pengaruh negatif konten yang tersebar di internet. Sehingga ke depan, diharapkan mampu mencetak generasi bangsa yang berkarakter dan kompetitif dalam bidang teknologi.