Pendidikan menjadi salah satu kebutuhan pokok dalam menunjang keberlangsungan suatu negara. Adanya pendidikan yang berkualitas merupakan suatu modal utama suatu negara untuk mampu menunjukkan citra dirinya di hadapan negara lain, terutama yang berkaitan dengan sumber daya manusia yang dihasilkan.

Tak heran jika banyak negara berbondong-bondong menerapkan berbagai kebijakan khusus, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang optimal dan berkualitas.

Namun, pada kenyataannya kualitas pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya optimal. Dalam beberapa kasus, kerap kali dijumpai beberapa kendala, baik dari segi sarana prasarana, kualitas pendidik, biaya pendidikan, hingga kondisi sekitar yang menghambat berlangsungnya pembelajaran. 

Hal tersebut, semakin diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020. Pandemi Covid-19 memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. 

Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dipaksa untuk melakukan perubahan dalam setiap sendi kehidupan, khususnya dalam bidang pendidikan. Sebagaimana dikatakan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang menyatakan bahwa pemerintah memberlakukan kebijakan tentang proses belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa.

Tak dimungkiri, pandemi Covid-19 ini menjadikan semua sistem dan metode pembelajaran dilakukan berbasis teknologi digital, sehingga memaksa seseorang untuk bertransformasi dengannya. Kondisi tersebut sesuai dengan upaya Indonesia dalam menghadapi era revolusi industri 4.0, di mana pada kehidupan ini tak lepas dari sentuhan teknologi dalam tata pelaksanaannya.

Berdasarkan pernyataan di atas, muncul gagasan penerapan digitalisasi pendidikan yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim. Digitalisasi pendidikan menjadi salah satu dampak positif dari adanya pandemi, di mana percepatan transformasi digital sangat dirasakan oleh berbagai kalangan.

Digitalisasi pendidikan merupakan sistem pembelajaran di mana teknologi menjadi aspek utamanya. Cakupan dari digitalisasi pendidikan sendiri, mulai dari kurikulum hingga sistem administrasi pendidikan. 

Adanya digitalisasi pendidikan ini memudahkan pelajar dan mahasiswa dalam mencari materi dan elemen lain yang mendukung proses pembelajaran secara mudah, praktis, dan efektif.

Dalam penerapan digitalisasi pendidikan, terlebih saat belajar daring tentu tak lepas dari yang namanya teknologi digital, sebagai contoh handphone dan laptop. Kedua teknologi tersebut dikatakan sebagai kunci utama dalam pelaksanaan pembelajaran. 

Dengan demikian, para pelaku pendidikan diharuskan untuk bertransformasi pada sistem pembelajaran yang baru. Mengingat segala aspek pembelajaran dilaksanakan berbasis teknologi, mulai dari pendistribusian materi, penjelasan dari guru, tugas-tugas, soal ujian, hingga sidang skripsi.

Sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, guru dituntut untuk mampu berinovasi menciptakan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien. Meskipun terbatas dalam kontak fisik, guru tidak boleh sekedar berpikir klasik. 

Seorang guru harus mendidik, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didiknya, sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 1 Ayat 1.

Pelaksanaan digitalisasi pendidikan bagi pelajar maupun mahasiswa yang sudah terbiasa dengan teknologi, tentu tidak menimbulkan masalah. Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak menguasai teknologi?

Dalam pelaksanaannya, masih ditemukan beberapa kendala, mulai dari kepemilikan handphone atau laptop, akses sinyal dan internet, serta manajemen waktu. Sebagai aspek utama dalam penyokong digitalisasi pendidikan, tentu ini menjadi tantangan yang harus diselesaikan.

Berikut ini beberapa tantangan yang harus dihadapi bagi pelaksana proses pendidikan:

1.  Kepemilikan Handphone dan Laptop

Meskipun zaman sudah canggih, masih ada beberapa kalangan yang tersisih. Di luar sana, masih ditemukan  pelajar yang tidak mampu menguasai teknologi karena tidak memilikinya. 

Hal tersebut, bisa terjadi karena faktor ekonomi yang menengah ke bawah, sehingga memaksa mereka untuk berjauhan dari teknologi. Mereka beranggapan untuk makan saja susah payah, apalagi untuk memiliki handphone yang menjadikan beban bertambah.

2.  Akes Sinyal dan Internet

Indonesia memiliki letak geografis yang cukup beragam. Ada daerah yang akses sinyalnya stabil dan lancar, namun ada pula daerah yang kesulitan, bahkan tak mendapat titik terang. Apabila akses sinyal tak mendukung, maka proses pembelajaran akan terkendala. 

Kemudian untuk akses internet, tidak semua orang mampu membeli internet untuk menunjang pembelajaran. Terutama bagi mereka yang mengalami kesulitan ekonomi, tentu hal tersebut dirasa sangat memberatkan.

Pemerintah sebenarnya telah memberikan bantuan kuota internet, namun pada kenyataannya besar subsidi kuota yang diberikan, belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan penggunaan internet selama satu bulan. 

Alangkah baiknya jika besar subsidi kuota bagi pelajar ditambah. Selain itu, pihak sekolah juga bisa menggunakan platform pembelajaran yang tidak begitu besar dalam penggunaan internetnya.

3.  Manajemen Waktu

Penggunaan teknologi digital dalam media pembelajaran memang sangat optimal, terlebih dalam kondisi pandemi ini. Namun, muncul masalah baru di mana para pelajar dan mahasiswa sering kali kesulitan dalam memanajemen waktu antara belajar dan beristirahat.

Selama pembelajaran daring ini, guru memberikan tugas cenderung lebih banyak dan dengan tenggat waktu relatif sebentar. Mereka beranggapan jika peserta didik mampu menyelesaikan tugas yang diberikan dengan bantuan teknologi. Padahal, pada implementasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Banyaknya tugas yang diberikan membuat pelajar dan mahasiswa memforsir waktunya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Sering kali mereka begadang dan duduk berjam-jam di depan handphone atau laptop untuk mengerjakan tugas. 

Jika hal tersebut di atas terus dibiarkan, maka kesehatan pelajar dan mahasiswa yang akan menjadi taruhan. Mereka tidak hanya mengalami gangguan kesehatan fisik, namun bisa jadi berpengaruh pada kesehatan mentalnya. 

Oleh karena itu, dalam pelaksanaan digitalisasi pendidikan, diperlukan penyeleksian lebih lanjut. Pemerintah, sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya harus mengetahui bagaimana input dan output dari adanya kebijakan digitalisasi pendidikan tersebut. 

Sebagai sosok yang berpendidikan, sudah pantasnya kita mengikuti segala perkembangan zaman, terutama dengan digitalisasi pendidikan. Namun, kita harus mampu mengelola digitalisasi pendidikan dengan tepat, agar hasil yang didapatkan sesuai dengan visi dan misi pembelajaran.

Digitalisasi pendidikan ini menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki diri kala pandemi. Namun, bukan berarti kita abai dan lalai sehingga pelaksanaannya tak terkendali. Dengan demikian, kita harus mampu mengelola segala aspek pembelajaran berbasis digital, agar dunia pendidikan tak terpental.