Menyebut meme (baca: mim) sebagai salah satu penemuan besar umat manusia, rasanya tidak berlebihan sebagai preambul. Sebagai bahasa internet masa kini, dampaknya luar biasa, padahal dahulu ia hanya dianggap tidak lebih dari sekadar ‘gambar lucu’ saja.

Memulai dengan sejarah kelahirannya, istilah meme pertama kali termaktub dalam buku The Selfish Gene karya Richard Dawkins, seorang ahli biologi evolusioner, pada tahun 1976. Dawkins menyatakan meme sebagai satuan terkecil serupa gen atau genetika, yaitu sebuah gagasan, ide, kebiasan, atau perilaku yang memiliki karakteristik mirip seperti virus: menyebar-memengaruhi dari satu manusia ke manusia lainnya.

Ya, meme lahir melalui sebuah konsep ilmu pengetahuan murni, tidak dari hal konyol ataupun kelucuan—yang erat-melekat padanya saat ini.

Meme yang berkembang menjadi bahasa internet masa modern sudah berbeda dengan meme dalam The Selfish Gene ketika Dawkins pertama kali mencetuskannya. Namun, meme yang petama disebutkan masih berfondasikan konsep yang sama dengan yang dicetuskan Dawkins 56 tahun silam: mereplika atau menyebarkan gagasan yang dibawanya.

Sangkala internet melaju secepat pelari maraton olimpiade, meme menjelma dengan bentuk yang beragam; gambar, video, lagu, cuplikan film, dan lain-lain. Meskipun umumnya masyarakat lebih akrab dengan bentuk gambar atau video.

Baby Cha-Cha-Cha dan All Your Base Are Belong To Us dicatat sebagai meme pertama yang menyebar luas di berbagai forum internet sekitar tahun 1996 sampai 2000-an. Kemudian, penggunaannya makin masif dengan hadirnya Reddit dan 9gag.

Kelana panjang meme akhirnya tiba di Indonesia dengan munculnya the big three dalam forum meme di aplikasi jejaring Facebook. Mereka adalah Meme Comic Indonesia (MCI), Meme & Rage Comic Indonesia (MRCI), dan One Cak.

Kejayaan meme pada kurun 2010 hingga 2015 membawa masyarakat Indonesia berkenalan dengan Yao Ming dengan tawa b*tch please-nya, dengan Bad Luck Brian yang kesialannya melebihi manusia manapun di dunia, dengan Troll yang jahil atau Forever Alone Guy yang tidak memiliki pasangan.

Sekilas, kemunculan meme di Indonesia tampak seperti sesuatu yang tidak berarti apa pun—hanya sesuatu yang menghibur tanpa memiliki nilai lebih.

Berliterasi dengan Meme

Sifat dasar yang dimiliki meme, mereplika dan menyebar, disadari oleh sebagian memer (pembuat meme) sebagai media yang ampuh dalam menyebarluaskan pemikiran mereka. Akibatnya, muncul sebuah istilah bernama literasi meme. Sebuah konsep membaca, menganalisis, menyampaikan, dan menyimpulkan sesuatu melalui media meme.

Meme, yang muncul-tenggelam dalam masyarakat, menawarkan nilai melalui format meme. Format meme adalah kerangka atau pakem tentang penggunaan meme yang tepat sebagai pemberi nilai dalam menyebarkan gagasan atau pemikiran, yang disepakati secara tidak tertulis antarmemer.

Contohnya, format meme “is this a pigeon?” yang diambil dari sebuah cuplikan anime The Brave Fighter of Sun Fightbird pada tahun 1990-an. Dalam memenya digambarkan seorang lelaki yang menunjuk kupu-kupu dan mengira kupu-kupu tersebut adalah seekor merpati.

Nilai yang diberikan oleh meme ini melalui format memenya adalah ketidaktahuan atau kebingungan total, yang belakangan berkembang untuk menjelaskan sesuatu yang salah disimpulkan atau dinilai oleh seseorang.

Adanya format meme inilah yang kemudian melahirkan konsep literasi meme. Sebab, format meme hanya bisa diketahui dengan membaca lebih banyak meme dengan format yang sama/ Atau dengan eksplorasi lebih jauh di forum-forum meme melalui tanya-jawab pada memer yang lebih senior.

Lebih banyak meme, makin terlihat pola penggunaannya, dan makin jelas bagaimana menggunakan format memenya secara tepat.           

Selain itu, tahu dan mengerti terhadap format meme membantu orang-orang yang membacanya untuk tahu dan mengerti juga  gagasan, ide, pemikiran, atau referensi yang disampaikan seorang memer dalam memenya.

Beralih dari membaca, dalam membuatnya pun, memer memerlukan pengetahuan dan wawasan yang cukup, terutama ketika memer menggunakan sejarah, kejadian sosial-politik, atau kebudayaan sebagai referensi di dalam memenya.

Dengan format meme sebagai pemberi nilai dan membaca atau membuatnya yang memerlukan wawasan dan pengetahuan, maka istilah literasi meme itu sendiri tiadalah melenceng. Meme adalah literasi yang menjadi bahasa internet hari ini, bukanlah sekadar kelucuan tanpa makna dan tanpa substansi.

Meme Hari Ini

Orang-orang yang menyadari besarnya pengaruh meme dalam penyebaran gagasan memberikan fungsi baru yang melekat padanya: alat kritik sosial. Alasannya sederhana, persebarannya yang cepat dengan ditambah bumbu ironi komedi yang ditawarkan membuat meme menjadi media protes yang ‘seksi’ belakangan ini.

Masih segar dalam ingatan seperti es cendol diteriknya Surabaya, meme bertema World War III meledak di internet setelah peristiwa terbunuhnya Jenderal Iran, Qasem Soleimani. Kritikan muncul terhadap sikap Presiden Amerika, Donald Trump, yang luar biasa absurd: menghindari perang dengan membunuh petinggi negara lain.

Contoh lainnya adalah ketika R-KUHP dan RUU KPK yang kontroversial mencuat ke permukaan di bulan September tahun lalu, olok-olok terhadap DPR dan pemerintah melalui meme tak bisa dibendung. Keriuhan oleh aksi di dunia nyata, berbanding lurus dengan riuhnya sosial media dengan memer-memer yang menyisipkan berbagai karyanya.

Melansir dari Vice Indonesia, James M. Jasper, dosen sosiologi di Graduate Center of the City, University of New York, menyatakan, “media (kesenian protes) telah berubah, tapi tujuannya tetap sama: mengkritik penjahat, identifikasi korban, serta mengungkapkan kegusaran terhadap penjahat dan kasih sayang terhadap korban ketidakadilan.”

Dengan meme, perusahaan-perusahaan dunia juga mengembangkannya sebagai sarana iklan yang cantik. Meme dibungkus dengan komedi yang menyisipkan promosi terhadap jasa/produknya dengan tujuan komersial. Meskipun, penggunaan format memenya terkadang salah, seperti yang dilakukan Grab Indonesia di Twitter.

                                                   Penggunaan format meme yang salah oleh Grab Indonesia di Twitter.

Kembara meme, sejak tertulis dalam The Selfish Gene yang kemudian bertransformasi dengan kehadiran internet sampai kepada bentuknya hari ini, memberikan ruang baru untuk berekspresi kepada generasi kita.

Dari media penghibur di kala suntuk, sampai ke alat penyebar ide hingga alat kritik dan advertisi, meme menjelma sebagai salah satu penemuan terbesar umat manusia—tentunya selain listrik dan mesin uap.

Dampak yang dibawanya, membuat kebudayaan dan pemikiran menyebar melalui cara baru, membuat mahasiswa masa kini menikmati seni demonstrasi yang unik, dan perusahaan besar menikmati untung yang luar biasa melalui iklan.