Seniman
7 bulan lalu · 1320 view · 5 min baca · Cerpen 90461_80328.jpg
Pexels

Penembak Jitu

Seorang Mesin di Tengah-Tengah Perang Suci

16 Juli 2001. Ini adalah hari yang ketiga kutiarap menanti mangsaku. Ia adalah seorang pemimpin laskar jihad yang diimpor dari tanah Jawa. Namanya, Safar Umar Galib. Dan tugasku adalah untuk mengirimkan peluru ke batok kepalanya.

Persediaan air minumku telah habis sejak semalam. Dari atas pucuk gedung ruko tua ini, dapat kudengar suara rintik hujan yang sedang berjatuhan di luar, bersamaan dengan rasa dahaga yang kian menggerogoti kerongkongan. Seolah kini gerimis tengah asyik mengejekku.

Di hari keduaku, yaitu kemarin siang, seekor cecak mendarat di atas laras SPR-2–buatan PT. Pindad–milikku. Hewan berkulit cokelat muda itu, diam saja di sana; menemaniku selama tujuh jam. Layaknya aku, nampaknya ia juga sedang harap-harap cemas menanti mangsa. Yang berbeda adalah, ia jelas punya alasan untuk membunuh, yaitu: bertahan hidup. Sementara aku, setelah kuingat-ingat lagi, sepertinya aku tak punya alasan yang cukup kuat.

Bapa Denisius memintaku untuk membalaskan dendamnya. Setelah anak perempuannya diperkosa berkali-kali kemudian dicincang-cincang tubuhnya, ketika peristiwa penyerangan yang terjadi di kampung halamannya sebulan yang lalu. Melalui bisikan-bisikan angin, Bapa Denisius mendengar kabar bahwa penyerangan itu dilakukan oleh pasukan laskar jihad pimpinan Safar Umar Galib.

Aku tak enak hati bila harus menolak permohonannya, yang saat itu ia lakukan sembari berlutut di hadapanku, bersama guyuran air mata yang mengalir dari sudut-sudut mata keriputnya.

Aku bisa pahami mengapa Bapa Denisius tanpa sungkan-sungkan berani memohon bantuanku, lantaran ia telah menganggapku sebagai anak laki-lakinya sendiri–meski aku tak pernah sekalipun menganggapnya sebagai ayahku–setelah bertahun-tahun aku tinggal di sebuah rumah miliknya yang ia kontrakkan untukku. Ia bersaksi bahwa arwah putrinya akan tenang, apabila si Safar Umar Galib juga mati terbunuh.

Sebelum keberangkatanku menuju gedung ruko tua yang ada di pusat kota ini, malamnya Bapa Pendeta Samuel berpesan padaku, “Lakukanlah ini demi orang yang engkau cintai. Lakukanlah ini demi agamamu.”

“Janganlah pernah anda lancang membawa-bawa nama orang yang kucintai, hanya untuk menyemangatiku melakukan aksi ini,” aku membatin kesal dalam hati. Ingin sekali kusemprotkan kata-kata itu pada Bapa Pendeta Samuel, namun mulutku tetap kubekap dengan asap rokok.

Satu-satunya orang yang kucintai hanyalah Martha, wanita yang sedang menantiku di kota kelahiranku, Manado. Cintaku padanya, terlalu suci untuk dihubung-hubungkan dengan noda kotor pada tanganku ini. Aku tak akan pernah membunuh atas nama Martha. Tak akan pernah. Apalagi demi nama agama.

Di halaman depan Masjid Jami, satu per satu pria bersorban putih berjalan sambil lalu, melewati lingkaran bidikanku. Mereka bukanlah mangsa yang sedang kunanti-nantikan. Mereka tak terlalu berharga untuk mati karena peluruku. Tapi aku yakin, tidak lama lagi pasti Safar Umar Galib akan masuk dalam jangkauan tembakku. Ia akan mati di tanganku. Walaupun sebenarnya, aku masih belum juga menemukan alasan yang tepat, mengapa aku harus membunuhnya.

Immanuel Kant pernah berkata, “Motif yang mendasari suatu tindakan, lebih menentukan baik-buruk moralitasnya, daripada efek yang dihasilkan.” Tapi, apakah yang akan ia katakan pada seseorang yang tidak mempunyai motif sama sekali? Apakah yang akan Kant katakan padaku?

Semalam, dua pria bersorban putih tengah berpatroli di jalan raya depan gedung ruko ini. Mulut larasku masih mengintip di sebuah lubang pada dinding, yang berada tepat di bawah kusen jendela tanpa kaca. Aku tengah tiarap menyandarkan perut di ubin lantai tiga, lantai paling atas. Di tengah gigitan dingin juga nyamuk, tubuhku hanya terbungkus oleh sebuah jaket hitam tebal, dan sebuah celana loreng panjang.

Ada satu kesempatan ketika dua orang itu memandang ke arahku, dengan jarak yang terbentang antara kami hanyalah sekitar lima puluh meter. Aku tahu kalau sebenarnya pandangan yang mereka miliki itu, tak lebih dari sebuah pandangan kosong. Karena memang gedung ruko tempat aku bersembunyi ini, sangatlah gelap.

Mereka tak bisa melihatku. Detak jantungku tetap stabil, tak meningkat sedikitpun. Aku sangat hebat bila perkara berpura-pura menjadi patung. Bisakah moralitas seseorang diukur hanya dari detak jantungnya?

Satu-satunya hal yang bisa kusamakan dengan diriku sendiri, adalah sebuah mesin. Ya, aku adalah sebuah mesin. Mesin bisa melakukan pekerjaan ini dan itu, namun ia tak pernah bisa dinilai sebagai bermoral baik ataupun buruk. Mesin hanya bisa dinilai sebagai efektif dan tidak efektif. Dan sebagai seorang tentara desertir, aku teramat sangat efektif.

Sudah sejak lama aku menyadari bahwa segala keputusan yang aku buat dalam hidup ini, hanyalah sebuah proses kimia yang sedang dan telah terjadi di dalam otak. Keinginan juga kehendak bebas yang sebelumnya kupikir bahwa aku memilikinya, itu semua tak lebih dari sebuah ilusi. Laksana seorang pesulap yang selama ini tengah mempertontonkan aksi mencengangkannya, dan kita sebagai penonton terlalu bodoh untuk menyadari rahasia di balik triknya.

Tapi inti dari kesadaran eksistensialku adalah, bahwa hidup ini sendiri, sejatinya adalah sebuah ilusi besar. Ke-ada-anku saat ini hanyalah hasil dari rentetan kejadian acak di masa lalu, yang terkesan diikat dalam memori, lantas terekam di dalam alam bawah sadar.

Kejadian yang pertama mempengaruhi kejadian yang kedua, kejadian yang kedua mempengaruhi kejadian yang ketiga, dan kejadian yang ketiga mempengaruhi kejadian yang keempat. Begitu saja seterusnya. Selalu ada hukum kausalitas. Selalu ada sebab akibat.

Bagaimanapun, layaknya pertunjukan seorang pesulap, triknya hanya bisa bekerja bila ditonton dari satu sudut pandang saja. Semisal sebuah rel yang diamati dari atas gerbong kereta paling depan. Jelas sekali bahwa rangkaian rel itu akan tampak sebagai sebuah entitas terpadu, seiring dengan pengamatan kita sejauh mata memandang ketika sedang berdiri di atas kereta yang sedang melaju.

Masing-masing dari kita sudah punya relnya masing-masing, dan tak bisa sedikit pun kita bisa melenceng dari jalurnya. Kita tahu bahwa rel punya stasiun keberangkatan, dan kita juga sadar bahwa rel ini juga pasti akan tiba di stasiun akhir. Tiap-tiap batang rel memang memiliki cerita dan keunikannya sendiri-sendiri, namun kalau dilihat sebagai sebuah kesatuan, itu tetaplah hanya akan menjadi sebuah rel yang panjang.

Tapi sekarang cobalah kita keluar dari kereta, lalu berdiri di samping rel sembari memandanginya. Itu semua takkan lebih dari sekedar tumpukan besi dan baja yang disusun sedemikian rupa. Dan kata “rel" hanya bisa eksis di dalam pikiran kita.

Apabila ada seekor kadal–yang tidak tahu apa-apa tentang sistem perkeretaan–melata menuju rangkaian rel, maka ia hanya bisa melihanya sebagai sebuah benda padat keras, yang tak ada bedanya dengan deretan bebatuan di pinggir sungai.

Dan apabila ada sesosok makhluk yang tidak bisa menyimpan memori ataupun tidak tahu-menahu tentang seperti apa itu kehidupan, akankah ia hanya mampu melihat setiap momen sebagai apa adanya saja, tanpa terpengaruh oleh ilusi akan masa depan, ataupun kenangan akan masa lalu? Lalu apa artinya kematian bagi makhluk itu, jika ia tak terikat oleh kekang-kekang waktu?

“Aku berpikir, maka aku ada,” kata Descartes. Tapi apakah sebenarnya yang dia maksudkan dengan kata “aku” tersebut? Apakah itu hanyalah sekumpulan atom yang sama per–

“BAANNG!! BAANNG!!,” dua butir peluru meletus dari ujung senapanku. Tembakan pertama bersarang di tengkorak Safar Umar Galib dan langsung membunuhnya, sementara tembakan yang kedua menerjang dadanya hanya untuk memastikan bahwa ia telah benar-benar mati.

Seiring dengan matahari yang mulai tenggelam di ufuk timur, menyisakan warna kulit jeruk tua di hamparan langit; aku pun mulai bergegas keluar dari dalam gedung ruko tiga lantai ini. Aku melempar langkah menyusuri gang-gang sempit kota Ambon, dengan secuil rasa sesal memenuhi dada. Bapa Denisius akan sangat puas mendengar berita yang kubawa beserta celana lorengku ini.

Artikel Terkait