Penulis
3 bulan lalu · 2659 view · 3 min baca menit baca · Politik 63016_24184.jpg
Antara

Pendukung Jokowi kok Panik?

Nyaris 80 persen lembaga survei yang merilis hasil temuannya menyatakan Jokowi-Ma'ruf unggul atas Prabowo-Sandi. Dengan demikian, pendukung Jokowi-Ma'ruf sudah bisa tidur tenang, tidak perlu mengomentari kampanye akbar Prabowo-Sandi. Tetapi faktanya, pendukung sibuk mengomentari kampanye akbar Prabowo-Sandi di GBK.

Lebih parah lagi ketika mereka tertarik mempersoalkan khilafiyah terkait bercampurnya shaf perempuan dan laki-laki. Imam Nawawi dalam al-Majmu’ syarah kitab al-Muhadzab menerangkan bahwa:

Ketika seorang lelaki sedang salat dan di sampingnya terdapat seorang perempuan, maka salatnya itu tidak batal (sah), dan salat perempuan itu juga tidak batal, baik lelaki tersebut menjadi imam atau makmum, dan inilah pendapat mazhab kami (Syafii). Ini juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan ulama.

Tulisan ini tidak akan membahas aspek perbedaan fikih, akan tetapi fokus pada kegagalan pendukung Jokowi melihat realitas. 

Sebenarnya pendukung Jokowi gak perlu panik dengan kampanye akbar yang dilaksanakan Minggu (7/4), apalagi sampai masuk dalam ranah fikih. Selain itu, tak perlu pula memanasi dengan tulisan-tulisan yang bernada propaganda.


Beberapa propaganda yang saya catat, misalnya soal kelompok radikal. Propaganda itu sempat sukses mengisi kepala pemilih. Lontaran bahwa Prabowo-Sandi didukung kelompok radikal sempat meneror pemilih, namun kalangan pembaca buku dan cerdas pasti paham itu isu murahan. Isu itu laris manis di kalangan awam atau intelektual bermental penjilat.

Propaganda lain yang menunjukkan pendukung Jokowi panik ialah isu pelanggaran HAM 98. Isu yang selalu muncul tiap kali pilpres diikuti Prabowo. Anehnya, selama 4 tahun lebih ini, pemerintah tidak pernah melakukan upaya pengusutan kasus ini. Jokowi sebagai Presiden harusnya melakukan upaya tersebut kecuali menganggap kasus itu telah selesai. 

Kepanikan lain yang saya amati ketika Yusril tiba-tiba bicara soal keislaman Prabowo. Isu ini jelas bertujuan menarik suara umat Islam, ini tentu tak sesuai dengan Jokowi yang Pancasilais. Jokowi tidak pernah mempersoalkan agama seseorang, namun para pendukungnya tampak beda. Isu agama malah dimainkan pendukung Jokowi.

Setahu saya, jauh sebelum Jokowi menggandeng Ma'ruf Amin, para pendukung Jokowi tidak sepakat agama masuk ranah politik. Tetapi sejak Jokowi didukung mayoritas NU dan mantan Ketua MUI sebagai cawapres, para pendukung mulai memainkan isu agama. Menurut saya, ini bentuk kepanikan di tengah kegagalan Jokowi meyakinkan kesuksesannya selama ini.

Banyak yang sudah dilakukan Jokowi-JK selama memimpin Indonesia. Namun semua itu belum mampu menaikkan elektabilitas, hingga isu agama kembali dimainkan pendukung dan tim pemenangannya. Lontaran Hendropriyono bahwa pilpres adalah pertarungan ideologi versus khilafah salah satu contohnya. Kepanikan yang seharusnya tak perlu, apalagi Jokowi kandidat petahana.


Bahkan saya juga pernah menonton sebuah video yang menyatakan bahwa bila Prabowo menang, bakal tidak ada tahlilan di Istana. Menurut saya, ini kepanikan yang luar biasa, sangat tidak Pancasilais. Sangat bertentangan dengan Jokowi yang bisa menerima semua mazhab dalam Islam dan agama. Jokowi menang karena pendukung dan kalah juga karena kelakuan pendukungnya.

Kepanikan-kepanikan yang terpancar dari pendukung Jokowi cukup menggelikan. Bahkan ada yang mengaitkan ini rivalitas Muhammadiyah dan NU, ada pula yang mengaitkan Indonesia bakal seperti Timur Tengah bila Prabowo Presiden. Menurut saya, isu dan propaganda murahan sebaiknya ditinggalkan. Kenyataan hari ini adalah bagaimana demokrasi kita mendapat asupan gizi.

Adu ide dan gagasan masih sangat minim. Bisa dibilang hanya 2 persen dari semua isu yang beredar di media sosial. Narasi pilpres tidak sehat ketika ruang personal seperti agama dan ketaatan beragama diserang. Pendukung Jokowi harusnya mencontoh sikap kritis SBY; meski mendukung Prabowo, namun ia tetap mengkritisi. Beda dengan pendukung Jokowi yang diam saja ketika salah satu tim pemenangan ditangkap KPK. 

Sejauh ini belum ada desakan dari pendukung agar Romi dipecat dari tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf. Mereka juga tak berani mengkritisi ketika Jokowi tampak emosi di Jogjakarta. Sikap subjektif ini dan sibuk mengurusi kampanye rival merupakan bentuk kepanikan. Apresiasi saja kampanye lawan yang berjalan damai dan tertib, dan buktikan jika Anda lebih kreatif, tertib, dan damai.

Malah saya mengusulkan kampanye akbar terakhir sebaiknya dilakukan bersama, pendukung Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi di tempat yang sama. Kedua pasangan di panggung yang sama seperti debat. Kampanye akbar bersama itu nantinya menjadi bukti bahwa kedewasaan kita berdemokrasi makin matang.


Panggung bersama tersebut sekaligus membuktikan ucapan dan tulisan mereka tentang Pancasilais. Kita satu negara, dengan beragam budaya, agama, suku. Saatnya menampilkan wajah baru demokrasi kita. Segala kepanikan kita lenyapkan dalam panggung bersama tersebut. Pendukung Jokowi harus segera sadar atau kekalahan Jokowi tinggal menghitung hari.

Cukup sudah isu agama dimainkan, cukup sudah isu ideologi dijual, saatnya memberi stimulus positif pada demokrasi kita. Gelisah boleh, namun panik jangan. Siapa pun pemenang pilpres harus sama-sama kita kritisi agar tidak melenceng dari janji kampanye dan konstitusi negara. Jangan budayakan bigot yang pada akhirnya akan mematikan akal sehat kita.

Artikel Terkait