Siswa SMA Tunas Daud
3 bulan lalu · 37 view · 4 menit baca · Pendidikan 23932_23548.jpg
idntimes.com

Pendidikan Zaman Now!

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini telah memerangkap peserta didik dalam tekanan yang hanya fokus pada pelajaran. Banyak kebijakan pendidikan nasional yang tidak memperhatikan peserta didik sebagai mahluk sosial. Kelas akselerasi, kelas standar internasional, kelas mandiri dan berbagai istilah lainnya membuat peserta didik terasa terkekang oleh sistem pendidikan. 

Program-program sekolah unggulan dengan memakai konsep sekolah terintegrasi, dengan waktu yang padat telah merampas waktu anak-anak untuk sekedar bersantai, bermain, dan memperluas pergaulan mereka. Sehingga mereka tidak memilki kecerdasan sosial dan berubah menjadi sosok yang individualis.

Contohnya sistem kurikulum 2013 atau yang sering disingkat dengan Kurtilas. Tidak sedikit pihak yang merasa menjadi korbannya, baik dari pihak guru, orang tua, maupun siswa. Ada yang merasa hal ini memberatkan karena jumlah jam yang terlalu banyak, padahal setiap orang mempunyai batas maksimal waktu konsentrasi dalam belajar. 

Masih karena waktu pelajaran yang padat, pada akhirnya banyak kegiatan lain yang tidak dapat dilakukan. Bahkan waktu keluarga diakhir pekan tergantikan dengan kegiatan mengisi PR yang dapat dikatakan banyak.

Pendidikan tak baik diberi terus menerus kepada murid tanpa ada waktu luang bagi mereka untuk bermain. Dengan bergaul, anak-anak bisa saling mengenal, membaur, serta bermain bersama, sehingga pendidikan bukanlah menciptakan manusia individualis. 

Anak-anak bisa diberikan kesempatan menyampaikan pemikiran mereka dengan menyelenggarakan kongres antara berbagai sekolah dan dengan sistem bertukar sehingga dapat memberi contoh yang baik dan menjalin kerjasama dan perkenalan antar anak di sekolah. Guna menjalankan gagasan tersebut haruslah anak-anak sendiri yang menyelenggarakanya dan dipimpin oleh mereka sendiri.  

Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah atau di daerah sampai daerah terpencil sana.

Sehingga para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Padahal lapangan pekerjaan terbatas. Masalah mendasar pendidikan di Indonesia adalah ketidakseimbangan antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Belajar bukan hanya berpikir tapi melakukan berbagai macam kegiatan seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan sebagainya.

Setidaknya ada beberapa permasalahan yang bisa teridentifikasi dalam dunia pendidikan kita, yaitu: rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.

Ada beberapa dampak dari luar yang dapat mempengaruhi pendidikan yaitu politik, ekonomi, sosial, teknologi, hukum dan lingkungan.

Politik juga bisa memberikan dampak negatif terhadap pendidikan di mana pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan seperti memberikan dana sekolah gratis tetapi dana tersebut tidak sampai ke tangan yang berhak, bisa karena dana yang susah dicairkan atau terjadinya suatu korupsi. 

Ekonomi, di mana masih beredar buku-buku sekolah atau buku untuk mahasiswa yang harganya mahal, dari situ bisa mempersulit bagi orang yang kurang mampu. Kurang meratanya beasiswa di sejumlah daerah di Indonesia yang padahal masih banyak daerah-daerah terpencil yang sangat membutuhkannya.

Sosial, kurang kesadaran di setiap manusia tentang pentingnya pendidikan, karena rasa sosial yang masih kurang terhadap orang-orang yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya. Masih banyak pula yang mengesampingkan pendidikan, padahal kita semua tahu pendidikan itu penting. Dan masyarakat yang bisa dikatakan orang berada yang mampu untuk membantu, tetapi hatinya kurang tergerak untuk membangun suatu sekolah sosial yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang mampu, anak jalanan atau semacamnya karena rasa sosial yang kurang.

Teknologi, dengan perkembengan yang pesat menuntut kita untuk lebih aktif dalam mengikuti perkembangan. Dalam dunia pendidikan teknologi sudah sangat mempunyai dampak yang begitu positif karena mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Karena sudah terdapat E-book dan E-learning memudahkan kita untuk belajar.

Hukum, penegakan suatu aturan karena masih banyak kekerasan di lingkungan sekolah, atau sekarang keluarnya berita tentang bullying di salah satu universitas ternama di Jakarta. Beberapa buku yang diterbitkan yang ditargetkan untuk anak sekolahan yang didalamnya ada unsur seksual. Seorang guru yang seharusnya menjadi panutan bagi para didikannya tetapi kita masih menemukan berita tentang kekerasan yang diberikan seorang guru terhadap anak sekolah.

Lingkungan, seperti lingkungan yang berkarakter sangatlah penting bagi perkembangan individu yang mendukung cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian, tanggung jawab, kejujuran, hormat dan sopan santun sangatlah penting didalam dunia pendidikan. Dan keluarga adalah institusi pertama tempat anak memabangun karakternya.

Kesimpulan dari pandangan dunia untuk pendidikan Indonesia ini masih jauh dari kata layak. Di segala segi faktor yang dibahas masih banyak masalah yang harus ditangani. Kualitas pendidikan masih sulit sekali ditingkatkan. Oleh karena itu kita perlu membangun kembali pondasi pola berpikir kita meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, masyarakat sekitar pun harus turut mendukung. 

Meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara kita mengetahui terlebih dahulu apa pentingnya pendidikan dan mempunyai kesadaran yang tinggi dan turut berpatisipasi dalam meningkatkan pendidikan. Generasi muda tugasnya berat karena harus menjadi penerus bangsa yang beradab. 

Beberapa faktor dan informasi pun telah dibahas, mengetahui kenapa kualitas pendidikan di Indonesia dikatakan lemah atau rendah dan para masyarakat pun baik itu orang tua, anak-anak, akan lebih mengutamakan pendidikan. Namun sebenarnya yang menjadi masalah mendasar dari pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan di Indonesia itu sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek, sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. 

Maka di sinilah dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi segala permasalahan pendidikan di Indonesia. Dan menjadikan masyarakat Indonesia mempunyai kualitas pendidikan yang baik, dan meningkatkan lagi kualitas pendidikan di Indonesia.