Pendidikan yang membingungkan, bukan hanya sekedar judul tulisan namun sebuah kenyataan atas perjalanan pendidikan yang telah saya tempuh. Tulisan ini saya buat berdasarkan kebingungan dan keresahan yang membuat saya terheran-heran atas persoalan pendidikan di Indonesia.

Dengan segala hormat, tentu saya sangat berterima kasih kepada seluruh pendidik atas dedikasi yang telah diberikan. Pada tulisan ini saya tidak sepenuhnya menyatakan bahwa semua pendidik bermasalah, tentu ada pendidik yang mendidik dengan sepenuh hati, menginspirasi, dan berkesan, selain itu bukti nyata atas keberhasilan pendidik dalam mendidik juga banyak.

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk kepedulian, yang mana bagi saya pendidikan merupakan pondasi utama untuk menjadikan anak-anak yang berpengetahuan, beretika, dan bermanfaat bagi banyak orang. Maka dari itu pendidikan juga perlu adanya kritik, saran, dan evaluasi.

Tulisan perjalanan pendidikan yang saya buat kali ini hanya akan fokus pada pengalaman pendidikan semasa SMP, SMA, dan kuliah saja karena ketiganya memiliki persoalan yang rumit dan paling berkesan.

Di pandang sebelah mata mungkin sudah menjadi konsumsi saya di setiap jenjang pendidikan. Sewaktu SMP bisa dibilang saya sekolah ala kadarnya, masuk ke kelas hanya sebatas menyimak, mengerjakan tugas, dan mengobrol saja. Setelah itu semua yang sudah dipelajari hilang dan hanya sebatas masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri.

Kegiatan belajar mengajar hanya sebatas teori yang terucap saja, tanpa ada praktik, dan contoh keteladanan. Selain itu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tidak berjalan, alhasil saya hanya menghabiskan banyak waktu dengan bermain dan bersenang-senang saja, tidak tahu bahkan tidak peduli pentingnya memiliki literasi dan skill.

Masuk pada masa SMA, saya dikenal memiliki literasi yang pas-pasan dan tidak memiliki skill. Pendidikan masa SMA juga membuat diri saya sulit berkembang, waktu itu saya merasa para pendidik pilih-pilih dalam mendidik, mereka yang sudah cerdas dan berbakat selalu mendapatkan dukungan dan apresiasi tinggi, hal tersebut tentulah bagus dan tidak salah.

Namun permasalahan utamanya adalah ketimpangan para pendidik dalam mendidik dan kurangnya dukungan terhadap siswa yang masih berproses belajar, belum berprestasi, dan tidak memiliki skill. Alhasil banyak para siswa yang terabaikan, faktanya hal ini dirasakan bukan pada diri saya saja, setelah saya berdiskusi dengan beberapa teman lainnya ternyata ada yang merasakan hal serupa.

Kalau saat itu hanya saya yang disalahkan karena tidak mau berbaur atau berkomunikasi, lantas apa  fungsi dari pendidikan dan tugas para pendidik, ditambah lagi saat itu saya masih labil dan kurang update orangnya, yang pasti kita tidak bisa menyamaratakan literasi, sifat, dan kemampuan seseorang.

Siswa yang dianggap tidak memiliki skill ini juga sering dipandang sebelah mata oleh teman-temannya. Saya termasuk yang dipandang sebelah mata kala itu, tentu rasanya sakit hati dan tidak nyaman, padahal tujuan sekolah adalah untuk belajar dan mengembangkan diri. Namun hal tersebut terjadi mungkin karena minimnya pengawasan dari para pendidik.

Kemudian persoalan lainnya, saat itu saya punya temen yang bisa dibilang nakal, susah diatur, dan sering melanggar disiplin sekolah. Para pendidik memberikan peringatan beberapa kali kepada siswa yang nakal itu dengan hukuman.

Alhasil siswa yang nakal itu diberikan surat perjanjian sebagai peringatan terakhir, yang mana jika siswa tersebut melanggar kembali maka dia akan dikeluarkan dari sekolah. Tapi ternyata hal tersebut tidak membuat jera, dan akhirnya siswa itu di keluarkan dari sekolah dengan cara yang tidak terhormat.

Peristiwa tersebut membuat saya bertanya-tanya, siapa yang sebenarnya bersalah pada situasi tersebut, apa yang seharusnya diperbaiki. Saya pikir rasanya tidak pantas kalau hanya siswa yang disalahkan.

Sudah pasti tujuan orang tua menyekolahkan anak-anaknya adalah menginginkan pendidikan terbaik, agar kelak dewasa nanti menjadi seorang yang berpengetahuan, beretika, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Lanjut di jenjang perkuliahan, saya merupakan mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jurusan bahasa dan sastra Arab. Alasan mengambil jurusan tersebut karena saat itu yang ada dipikiran saya hanya paham bahasa Arab saja, tanpa memikirkan aspek-aspek lainnya.

Alasan kedua karena tidak ada arahan dari pihak sekolah atau para alumni sekolah yang menyebabkan saya kebingungan dan harus mencari informasi perkuliahan secara mandiri, hanya berbekalkan nekat dan percaya diri untuk mengikuti tes ujian masuk perkuliahan.

Hal tersebut juga lagi-lagi menjadi persoalan pendidikan, setelah saya berdiskusi dengan teman di berbagai jurusan ternyata ada yang mengalami hal serupa, namun banyak juga yang mendapat arahan dan bantuan dari pihak sekolah terdahulunya.

Persoalan seperti ini berakibat fatal dan tidak bisa dianggap remeh karena berdampak besar untuk masa depan. Fakta mengatakan bahwa banyak mahasiswa yang merasa menyesal karena salah mengambil jurusan ketika sudah berada di semester akhir, dengan alasan dulu tidak ada arahan dan minimnya informasi.

Untuk kegiatan belajar mengajar di kelas itu semua tergantung pada metode pengajaran yang diterapkan oleh masing-masing dosen. Ada yang cenderung menggunakan metode kuno dan ada yang menggunakan metode yang sudah modern.

Ada yang membuat saya terkesan disini, adanya keterbukaan dalam berpikir para dosen dan mahasiswa, beberapa dosen jebolan UIN Jakarta juga banyak yang menjadi akademisi, cendikiawan, dan budayawan Indonesia, sebut saja Prof. Dr. Nurcholis Madjid dan Prof. Dr. Azyumardi Azra dan masih banyak yang lainnya.

Keterbukaan dalam berpikir ini tidak saya dapatkan semasa SMP dan SMA, dulu saya terkenal fanatik, intoleran, anti agama lain, dan konservatif dalam berpikir. Keterbukaan dalam berpikir yang saya raih semasa perkuliahan ini membuat saya semakin belajar untuk menghargai pendapat orang lain, toleransi, dan kritis dalam mengambil keputusan.

Dibalik semua kelebihan yang saya sebutkan tadi tentu ada saja kekurangan, tidak sedikit ada beberapa golongan yang tetap mempertahankan pemikirannya yang konservatif, intoleran, dan radikalisme. Semua itu menjadi tantangan pribadi bagi saya agar lebih hati-hati dalam berlajar dan bergaul.

Persoalan lainnya adalah masalah birokrasi yang rumit dan lambat, tidak semua jurusan mengalami hal serupa dengan jurusan saya. Kerumitan ini sedang saya rasakan dalam mengerjakan skripsi, akreditasi kelulusan tepat waktu di jurusan saya ini bisa dibilang kurang baik.

Sulit rasanya untuk memberikan kritik dan saran kepada jurusan, mengingat prioritas saya adalah lulus cepat dan tidak bertele-tela di kampus karena keadaan keluarga yang sudah menekan saya untuk segera bekerja. Ketika memberikan sebuah kritik pasti ada saja beberapa dosen yang mudah tersinggung dan itu rumit untuk diselesaikan. Hingga akhirnya saya pilih cari aman saja.

Kesimpulan dari semua pembahasan yang saya tulis di atas adalah problematik di semua jenjang pendidikan yang harus segera diperbaharui dan diperbaiki dari segi infrastruktur, metode pengajaran, kualitas pendidik, serta sarana dan prasarana.

Keresahan yang saya tulis ini hanya sebagian saja. Tidak mudah memang memperbaiki persoalan pendidikan, dan tidak akan pernah habis untuk dibicarakan. Namun setidaknya kita turut andil membantu dengan memberikan kritik dan saran yang membangun.

Namun sudah banyak juga organisasi, lembaga, atau relawan yang bergerak pada bidang pendidikan dengan memberikan program kegiatan mengajar serta bantuan sarana dan prasarana. Tentu hal tersebut perlu kita apresiasi dan dijadikan suri teladan.

Harapan saya adalah semoga masyarakat Indonesia semakin sadar akan mutu pendidikan, tentu bukan hanya sekedar omongan semata namun dengan bantuan dan tindakan yang nyata. Minimal kita menjadi suri teladan atau tidak menunjukan sikap yang negatif kepada anak-anak.