Pendidikan merupakan sarana memperoleh ilmu pengetahuan. Melalui pendidikan, manusia diharapkan mampu memahami kehidupan. Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap umat manusia. Dan itu diwajibkan oleh semua ajaran agama. Semakin berilmu seseorang maka ia akan semakin bijak.

Tuhan mengangkat derajat orang yang berilmu pengetahuan. Ia bisa menjadi lebih dihormati orang lain karena menjadi sumber rujukan.  Bisa juga membuatnya menjadi lebih tenang karena memahami permasalahan. Bisa juga menjadi lebih mulia karena mendapat banyak penghargaan. Sejatinya ilmu pengetahuan mampu mengangkat seseorang dari jerat kebodohan. Melalui pendidikan lah seorang sudra bisa menjadi ksatria.

Negara berjanji melalui pembukaan UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Masyarakat berhak memperoleh pendidikan yang layak. Namun, patokan layak hak pendidikan belum menuai kesepakatan. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya ketimpangan mutu pendidikan. Dunia pendidikan di Indonesia dibuat berkasta-kasta.

Akreditasi lembaga pendidikan dibuat untuk menjamin mutu penyelenggara pendidikan. Akreditasi dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa mutu diutamakan secara konsisten. Setiap lembaga berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam menyelenggarakan pendidikan untuk peserta didik. Untuk itu seleksi masuk peserta didik baru dibuat seketat mungkin. Hampir semua lembaga pendidikan terakreditasi A selalu mencari calon peserta didik yang pintar. Sedangkan calon peserta didik yang biasa-biasa saja akan tereliminasi sejak dini.

Seleksi peserta didik dimulai sejak awal masuk sekolah dasar (SD). Syarat masuk SD negeri, calon siswa harus minimal bisa membaca dan berhitung. Untuk itu, orang tua harus menyekolahkan anaknya di bimbingan belajar atau Tk dahulu sebelum anaknya mendaftar SD. Untuk masuk sekolah menengah, anak harus memiliki nilai yang tinggi. Meski berlaku system zonasi, tetap saja yang diprioritaskan anak yang cerdas dan berprestasi.

Bagaimana anak yang biasa-biasa saja tanpa prestasi di sekolah? Mau tidak mau ia harus mengenyam pendidikan di swasta. Masalah biaya yang dibebankan kepada peserta didik tergantung kebijakan dari yayasan pengelola perguruan tinggi tersebut.

Anak yang pintar dibentuk dari kecil. Anak yang lahir dari keluarga menengah ke atas akan mendapatkan fasilitas yang mendukungnya menjadi cerdas. Termasuk asupan gizinya. Sementara anak yang lahir dari kelas bawah akan kesulitan mendapat fasilitas yang mendukung tersebut. Praktik ini sudah berlangsung lama. Itu sebabnya, lembaga pendidikan yang unggul akan semakin unggul.

Lembaga yang unggul hanya bisa diakses oleh anak-anak yang pintar saja. Anak dari keluarga miskin dan tidak pintar cukup sekadar belajar saja. Bila perlu malah berhenti mengenyam pendidikan. Tentunya keadilan pendidikan masih jauh dari harapan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Akreditasi unggul sebuah lembaga pendidikan sejatinya hanyalah cap semu. Ia menjadi unggul karena merekrut calon peserta didik yang sudah unggulan, dididik oleh tenaga pendidik yang sudah unggulan sejak awal direkrut. Jadi, lembaga yang dicap unggul bukan yang mengolah peserta didik yang masih biasa saja menjadi unggulan. Namun lembaga yang terakreditasi unggul itu lah yang biaya pendidikannya selangit.

Demi mengejar predikat world class university, pemerintah mengucurkan dana triliunan rupiah kepada perguruan tinggi unggul. Lagi-lagi world class university hanya bisa diakses oleh mereka yang pintar atau kaya. Untuk mereka yang miskin dan butuh dicerdaskan hanya bisa bermimpi.

Pendidikan di Indonesia tumbuh sejajar dengan kebutuhan pasar. Program studi yang berorientasi pasar pasti peminatnya banyak. Sementara program studi humaniora akan kesulitan mendapatkan peserta didik. Itu sebabnya ada istilah bisnis pendidikan. Ditambah lagi, jumlah beasiswa untuk studi humaniora pun diperkecil.

Menjamurnya sekolah kejuruan di berbagai daerah dibuat untuk mencetak sumber daya manusia di bidang industri. Begitu juga di jenjang perguruan tinggi. Kurikulum dirancang dan perbaharui setiap tahun. Lagi-lagi disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Akhirnya, ilmu pengetahuan ditransfer sesuai kehendak pasar. Alih-alih pendidikan dibuat untuk mencetak manusia utuh malah bergeser menjadi mencetak intelektual tukang. Lulusan sekolah berlomba-lomba diserap dunia kerja. Hanya sedikit yang bermental menciptakan lapangan kerja.

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setelah Hari Buruh. Memang itu hanya kebetulan. Praktiknya memang pendidikan dan perburuhan saling berkaitan. Motivasi masyarakat untuk sekolah yaitu agar mudah mencari pekerjaan; bukan menguasai ilmu pengetahuan. Alih-alih untuk sukses setelah menuntut ilmu, membuat masyarakat buta memilih pendidikan anak-anaknya. Sekolah bukan lagi untuk mencari jati diri melainkan memuluskan ambisi. Itu sebabnya, banyak orang berpendidikan tinggi namun jauh dari bijak. Praktik korupsi masih banyak dilakukan oleh kaum berpendidikan.

Pendidikan bukan melulu soal uang. Pendidikan seharusnya dikemas dengan nilai humanis dan nilai religius. Nilai humanis dikedepankan untuk menciptakan manusia melalui cara yang manusiawi. Peserta didik diajar melalui pendekatan yang manusiawi agar ia mampu memahami arti kehidupan. Pendidikan sejatinya dibuat sebagai papaning mudi nata jagad; tempat belajar mengenal kehidupan. Pendidikan diharapkan bukan lagi sebagai tempat untuk menyiksa peserta didik dengan tugas banyak namun melalaikan untuk menciptakan generasi kritis.

Generasi kritis bukan berarti generasi yang asal kritik. Kritis berarti bergerak untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Tenaga pendidik harus berani memberikan contoh kritik yang bertanggung jawab, sehingga peserta didik tidak mencari-cari cara mengkritik dengan caranya sendiri. Pendidikan diharapkan menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah di masyarakat.

Setiap tahun banyak lulusan dengan predikat cumlaude. Namun tidak memberikan pengaruh banyak di masyarakat. Hal itu karena tidak dibekali daya pikir kritis sehingga lambat memberikan solusi. Ada yang perlu diperbaiki dari kurikulum dan kebijakan pendidikan di negara ini.

Para pimpinan lembaga pendidikan sudah saatnya memberikan ruang gerak kepada peserta didik untuk belajar menganalisis. Berikan kebijakan untuk kolaborasi guru dan murid untuk menciptakan terobosan sehingga melatih murid menjadi pakar sejak dini. Pendidik tidak perlu malu dan takut tersaingi oleh murid. Hal itu karena sejatinya lembaga pendidikan bukan ajang persaingan ide dan kemampuan, melainkan ajang untuk menempa diri untuk menjadi manusia yang utuh.