Dalam artikel sebelumnya berjudul Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, telah disampaikan bahwa Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan atau education for sustainable development (ESD) memberdayakan orang untuk mengubah cara mereka berpikir dan bekerja menuju masa depan yang berkelanjutan (Setiawan, 2019). 

Secara teknis, dapat dikatakan bahwa ESD berupaya untuk mendorong: sistem pendidikan yang relevan, transformasi pendidikan, Meningkatkan rasa keadilan dan saling menghormati, membantu mengatasi perubahan iklim, serta membangun masyarakat yang ramah lingkungan. 

Melalui artikel ini, penulis menjelaskan tentang keselarasan antara ESD dan perspektif Islam tradisional.

Pembahasan

Kehadiran Islam (Arab: الإسلام) sebagai satu set ajaran (Arab: الدين) yang menyebarkan kasih tanpa pilih kasih kepada seluruh komponen alam raya (Arab: رحمة للعالمين) hanya bisa bermakna secara utuh kalau turut menyertakan aspek kesadaran terhadap lingkungan (Inggris: environmental awareness). 

Fakta bahwa manusia merupakan bagian dari siklus energi dan rantai materi alam raya yang saling menopang harus menjadi bagian dari kesadaran beragama. Sehingga perlu dikembangkan nilai persaudaraan lain yang tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia saja, tetapi kepada sesama makhluk Allah (alam raya). 

Persaudaraan antar sesama manusia (Arab: أُخُوَّة بَشَرِيَّة) sangat baik dalam menghadapi interaksi sosial yang majemuk. Namun, persaudaraan antar sesama komponen alam raya (Arab أُخُوّة عَالَمِيّة) seperti dengan kucing dan udara juga perlu dipupuk.

Tuturan al-Qur’ān terkait Kepedulian Terhadap Lingkungan

Allah tidak rela terhadap perusakan lingkungan, seperti ditunjukkan dalam al-Baqoroh (Arab: سورة البقرة) ayat 205 berikut:

وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

yang ditafsirkan oleh ‘Abd al-Raḥmān ibn Abī Bakr al-Suyūṭī dalam Tafsīr al-Jalālayn (Arab: تفسير الجلالين) berikut (al-Maḥallī & al-Suyūṭī, 2010: 43):

“(Dan apabila ia berpaling) dari hadapanmu (ia berjalan di muka bumi untuk membuat kerusakan padanya dan membinasakan tanam-tanaman dan binatang ternak) untuk menyebut beberapa macam kerusakan itu (sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan), artinya tidak rela terhadapnya.”

Sehingga peduli lingkungan adalah wujud keimanan, seperti ditunjukkan dalam al-A’rōf (Arab: سورة الأعراف) ayat 85 berikut:

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

yang ditafsirkan oleh ‘Abd al-Raḥmān ibn Abī Bakr al-Suyūṭī dalam Tafsīr al-Jalālayn berikut (al-Maḥallī & al-Suyūṭī, 2010: 205):

“Dan) Kami telah mengutus (kepada penduduk Madyan saudara mereka Syuaib. Ia berkata, "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata) yakni mukjizat (dari Tuhanmu) yang membenarkan kerasulanku (Maka sempurnakanlah) genapkanlah (takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan) maksudnya menekorkan (bagi manusia barang-barang takaran dan timbangan mereka dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi) dengan kekafiran dan maksiat-maksiat (sesudah Tuhan memperbaikinya) dengan mengutus rasul-rasul-Nya (Yang demikian itu) yang telah disebutkan itu (lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman) yang menghendaki keimanan, maka bersegeralah kamu kepada keimanan.”

Pasalnya alam semesta merupakan anugerah dari Allah untuk manusia, seperti dalam Luqmān (Arab: سورة لقمان) ayat 20 berikut:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

yang ditafsirkan oleh Muḥammad ibn Aḥmad al-Maḥallī dalam Tafsīr al-Jalālayn berikut (al-Maḥallī & al-Suyūṭī, 2010: 542):

(Tidaklah kalian perhatikan) hai orang-orang yang diajak bicara, tidakkah kalian ketahui (bahwa Allah telah menundukkan untuk kepentingan kalian apa yang di langit) yaitu matahari, bulan dan bintang-bintang supaya kalian mengambil manfaat daripadanya (dan apa yang di bumi) berupa buah-buahan, sungai-sungai dan binatang-binatang (dan menyempurnakan) artinya meluaskan dan menyempurnakan (untuk kalian nikmat-Nya lahir) yaitu diberi bentuk yang baik, anggota yang paling sempurna dan lain sebagainya (dan batin) berupa pengetahuan dan lain sebagainya. (Dan di antara manusia) yakni penduduk Mekah (ada yang membantah tentang keesaan Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk) dari Rasul (dan tanpa Kitab yang memberi penerangan) yang telah diturunkan oleh Allah, melainkan dia melakukan hal itu hanya secara taklid atau mengikut saja.

Tuturan al-Ḥadīts terkait Kepedulian Terhadap Lingkungan

Dalam buku Riyāḍ al-Ṣōliḥīn (Arab: رياض الصالحين) karya Abū Zakariyyā Yahyā ibn Syarof al-Nawawī banyak terdapat al-Ḥadīts terkait lingkungan, seperti:

Berbuat baik kepada binatang (al-Nawawī, 2007: 61):

عن أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: أنَّ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: «بَينَما رَجُلٌ يَمشي بِطَريقٍ اشْتَدَّ عَلَيهِ العَطَشُ، فَوَجَدَ بِئرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشربَ، ثُمَّ خَرَجَ فإذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يأكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ، فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الكَلْبُ مِنَ العَطَشِ مِثلُ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ البِئْرَ، فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أمْسَكَهُ بفيهِ حَتَّى رَقِيَ، فَسَقَى الكَلْبَ، فَشَكَرَ اللهَ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ» قالوا: يَا رَسُول اللهِ، إنَّ لَنَا في البَهَائِمِ أَجْرًا؟ فقَالَ: «في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أجْرٌ» مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

yang dapat diartikan:

Abu Huroiroh mengungkapkan bahwa Rosulullōh bersabda: “Ketika seorang lelaki sedang kehausan dalam perjalanan, dia menemukan sumur kemudian masuk ke dalam sebuah sumur tersebut, lalu minum di sana. Kemudian setelah lelaki tersebut keluar, tiba-tiba dia mendapati seekor anjing di luar sumur yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah lembab karena kehausan. Lelaki tersebut berkata, ‘Anjing ini telah merasakan apa yang baru saja saya rasakan.’ Kemudian dia kembali turun ke sumur dan memenuhi sepatunya dengan air lalu membawanya naik dengan menggigit sepatu itu. Sesampainya di atas dia memberi minum anjing tersebut. Karena perbuatannya tadi Allah berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya.” Para Ṣoḥabat bertanya, “Rosulullōh, apakah kalau kami mengasihi binatang kami mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, “Berbuat baik kepada setiap makhluk pasti mendapatkan pahala.”

Anjuran menenam pohon (al-Nawawī, 2007: 64):

عن جَابرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم:: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنهُ لَهُ صَدَقَةً، وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

yang dapat diartikan:

Jābir mengungkapkan bahwa Rosulullōh bersabda: “Seorang muslim yang menanam sebuah kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, akan mendapat pahala sedekah”.

Larangan mencemari lingkungan (al-Nawawī, 2007: 490):

عن أَبي هريرة رضي الله عنه: أنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «اتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ» قالوا: وَمَا اللاَّعِنَانِ؟ قَالَ: «الَّذِي يَتَخَلَّى في طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ في ظِلِّهِمْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

yang dapat diartikan:

Abu Huroiroh mengungkapkan bahwa Rosulullōh bersabda: “Kalian perlu menghindari dua hal yang dapat mendatangkan laknat!” Para Ṣoḥabat bertanya, “Apa dua hal yang dapat mendatangkan laknat?” Beliau menjawab: “Yaitu yang buang air di jalan yang biasa dilalui oleh manusia atau di tempat mereka berteduh.”

Wawasan dari Beberapa Buku Fiqih

Sebagai disiplin ilmu yang menghasilkan produk berupa aturan dasar umat Islam dalam setiap aspek keseharian dari konteks personal hingga sosial, Fiqih memiliki peran utama dalam merumuskan pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan hukum syar’i. 

Apalagi Fiqih punya kekhasan dalam membahas permasalahan berupa panduan operasional dengan indikator empiris yang terkait dengan keseharian manusia, baik dalam konteks personal, lokal, nasional, dan global.

Beberapa textbook Fiqih yang memuat konten Fiqih secara lengkap, seperti Fatḥ al-Mu'īn (Arab: فتح المعين) dan Fatḥ al-Qorīb al-Mujīb (Arab: فتح القريب المجيب), menunjukkan bahwa Fiqih memiliki kepedulian lingkungan dalam setiap pembahasan. Misalnya: pembahasan kebersihan (Arab: الطهارة), pembukaan lahan (Arab: إحياء الموات), dan penggunaan lahan (Arab: المساقاة) (al-Ghozī, 2005; al-Mālībarī, 2005). Kepedulian lingkungan ini menegaskan bahwa produk Fiqih secara praktis ditujukan untuk meraih manfaat dan mencegah madarat (Arab: جلب المصالح ودرء المفاسد).

Produk Fiqih tersebut selaras dengan tujuan syarī’at (Arab: مَقْصُودُ الشَّرْعِ) yang diuraiakan dalam oleh Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghozālī ke dalam lima indikator, yaitu: menjaga agama (Arab: يَحْفَظ الدِينَ), menjaga tubuh (Arab: يَحْفَظ النَفْسَ), menjaga pemikiran (Arab: يَحْفَظ العَقْلَ), menjaga generasi (Arab: يَحْفَظ النَسْلَ), dan menjaga kekayaan (Arab: يَحْفَظ المَالَ) (al-Ghozālī, 1993: 174). 

Kepedulian lingkungan yang ditunjukkan melalui kegiatan merawat kelestarian lingkungan merupakan upaya untuk mewujudkan kelima indikator tujuan syarī’at tersebut, sehingga termasuk perbuatan yang baik (Arab: مَصْلَحَةٌ). Kosok balinya, setiap perilaku yang punya potensi merusak lingkungan punya makna setara dengan perbuatan mengancam agama, tubuh, pemikiran, kekayaan, dan generasi, sehingga termasuk perbuatan yang buruk (Arab: مَفْسَدَةٌ).

Penutup

Uraian yang disampaikan menunjukkan bahwa pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan atau ESD memiliki keselarasanan dengan Islam. 

Melalui uraian seadanya ini, diharapkan pelaku pendidikan kajian Islam turut mempertimbangkan aspek lingkungan dalam pembelajaran, sekaligus memberi tambahan dukungan untuk semua pihak agar dapat bersatu dalam mewujudkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan.

Referensi

  • al-Ghozālī, Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad. (1993). Al-Mustaṣfa min ‘Ilm al-Uṣul: 174. Beirut: Dār Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • al-Ghozī, Abū 'Abdullōh Muḥammad ibn Qōsim. (2005). Fatḥ al-Qorīb al-Mujīb. Beirut: Dār ibn Ḥazm.
  • al-Maḥallī, Muḥammad ibn Aḥmad & al-Suyūṭī, ‘Abd al-Raḥmān ibn Abī Bakr. (2010). Tafsīr al-Jalālayn. Cairo: Dār al-Ḥadīts.
  • al-Mālībarī, Aḥmad ibn 'Abd al-Azīz. (2005). Fatḥ al-Mu'īn. Beirut: Dār ibn Ḥazm.
  • al-Nawawī, Abū Zakariyyā Yahyā. (2007). Riyāḍ al-Ṣōliḥīn. Damaskus: Daar Ibn Katsir.
  • Setiawan, Adib Rifqi. (2019). Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan. Qureta.com, 22 Agustus.