Dengan populasi dunia 7 miliar orang dan sumber daya alam yang terbatas, kita, sebagai individu dan masyarakat, perlu belajar untuk hidup bersama secara berkelanjutan. Kita perlu mengambil tindakan secara bertanggung jawab berdasarkan pemahaman bahwa apa yang kita lakukan hari ini dapat memiliki implikasi pada kehidupan manusia dan planet ini di masa depan. 

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Education for Sustainable Development (ESD) memberdayakan orang untuk mengubah cara mereka berpikir dan bekerja menuju masa depan yang berkelanjutan.

UNESCO bertujuan untuk meningkatkan akses ke pendidikan berkualitas pada pembangunan berkelanjutan di semua tingkatan dan dalam semua konteks sosial, untuk mengubah masyarakat dengan mengarahkan kembali pendidikan dan membantu orang mengembangkan pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan perilaku yang diperlukan untuk pembangunan berkelanjutan. 

Ini tentang memasukkan isu-isu pembangunan berkelanjutan, seperti perubahan iklim dan keanekaragaman hayati ke dalam pengajaran dan pembelajaran. Individu didorong untuk menjadi aktor yang bertanggung jawab yang menyelesaikan tantangan, menghormati keanekaragaman budaya, dan berkontribusi untuk menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan.

Ada peningkatan pengakuan internasional terhadap ESD sebagai elemen integral dari pendidikan berkualitas dan pendorong utama untuk pembangunan berkelanjutan. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG) diadopsi oleh komunitas global selama 15 tahun ke depan termasuk ESD. 

Target 4.7 dari SDG 4 tentang pendidikan membahas ESD dan pendekatan terkait seperti Pendidikan Kewarganegaraan Global (Global Citizenship Education). UNESCO bertanggung jawab atas koordinasi Program Aksi Global atau Global Action Programme (GAP) tentang ESD.

Republik Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia dengan penduduk sebanyak 200-an juta. Luas wilayahnya yang mencakup daratan dan lautan juga menempatkannya dalam 20 negara terbesar di dunia.

Bentang alam Indonesia yang terdiri dari laut, pulau, kepulauan, dan pegunungan, dalam proses pembangunan dan pengembangannya dari masa ke masa, menghasilkan banyak dampak. Dampak tersebut ada yang yang positif, namun ada pula yang memberi dampak kesenjangan kehidupan di sebagian besar masyarakat. Kondisi inilah yang memberi ruang bagi lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi non pemerintah (Ornop) untuk berperan pada pergerakan di tingkat akar rumput untuk dan dari masyarakat dalam rangka mencapai penghidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Dalam perjalanannya yang cukup panjang, sejumlah LSM di beberapa daerah menjalin kemitraan dengan pemerintah di daerah masing-masing maupun pihak terkait lainnya. Secara umum dapat dikatakan keberadaan LSM di masyarakat maupun pemerintah diterima dan diakui memberikan hasil dan dampak positif.

Dalam pengembangan dan penerapan program ESD antara lain sejumlah pemangku kepentingan termasuk organisasi sipil/lembaga swadaya masyarakat juga ikut berperan penting.

Menjelang berakhirnya Dekade PPB (2005 – 2014) sebagaimana dicanangkan UNESCO sekitar satu dekade lalu, sejumlah penggerak PPB/aktivis LSM tergerak untuk melihat sejauh mana PPB dikenal, dipahami, dan dilaksanakan di Indonesia. Perjalanan program PPB di Indonesia dan pendampingan oleh LSM tersebut perlu direkam dan didokumentasikan sebagai bahan masukan dan pembelajaran bersama.

Borneo adalah pulau ketiga terbesar di dunia yang sangat terkenal dengan kekayaan alamnya seperti hutan, batubara, emas dan minyak. Kehidupan alam liar di Borneo dan ancaman terhadapnya mengatakan bahwa Borneo adalah a land of plenty atau tanah yang memiliki banyak hal, atau dengan kata lain, tanah yang kaya. 

Ancaman yang dimaksud oleh Rautner salah satunya adalah hilangnya keanekaragaman hayati di pulau ini dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, berdasarkan data pantauan satelit, World Wide Fund for Nature (WWF) melaporkan bahwa 56% atau kurang lebih 29,000 kilometer dari hutan yang dilindungi di Kalimantan telah ditebang untuk perkebunan kelapa sawit dan konversi lahan. 

Untuk menjaga Pulau Borneo dan memastikan bahwa pengelolaan pulau ini dapat dilakukan secara efektif, maka pada tahun 2007 tiga negara yang memiliki wilayah di pulau Borneo yaitu Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia menandatangani kesepakatan untuk melakukan kegiatan positif untuk menjaga Pulau Borneo. Kesepakatan tersebut bernama Heart of Borneo (HoB).

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan memungkinkan setiap manusia untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diperlukan utuk membentuk masa depan yang berkelanjutan. Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan mengandung isu-isu kunci tentang pembangunan berkelanjutan ke dalam pengajaran dan pembelajaran; sebagai contoh, perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, keanekaragaman hayati, penurunan kemiskinan, dan konsumsi berkelanjutan.

Secara teknis, dapat dikatakan bahwa ESD berupaya untuk mendorong:

1. Sistem pendidikan yang relevan

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai ke dalam kehidupan social, lingkugan dan tantangan ekonomi abad ke 21.

2. Transformasi pendidikan

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan menggunakan cara pembelajaran yang inovatif, pengajaran yang berpusat pada siswa, bermacam gaya pembelajaran. Memberdayakan siswa dan menjadikan mereka agen dalam proses pendidikan, dari usia dini sampai usia tua. Hal tersebut dapat meningkatkan pembelajaran di luar batas pendidikan.

3. Meningkatkan rasa keadilan dan saling menghormati

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan membantu peserta didik memahami situasi, pandangan dan kebutuhan orang-orang yang tinggal di tempat lain atau milik generasi yang lain (berikutnya).

4. Membantu mengatasi perubahan iklim

Tak kurang dari 175 juta anak-anak akan dipengaruhi oleh bencana yang terkait dengan perubahan iklim yang terjadi dalam decade berikutnya. Pendidikan pembangunan berkelanjutan mempersiapkan siswa beradaptasi dari dampak perubahan iklim dan memberdayakan mereka untuk mengatasi penyebabnya.

5. Membangun masyarakat yang ramah lingkungan

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan melengkapi siswa dengan keterampilan untuk ramah lingkungan guna membantu melesatikan atau mengembalikan kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan manusia dan keadilan social. Hal ini memotivasi peserta didik untuk memilih gaya hidup yang berkelanjutan.