"Pendidikan merupakan proses me-manusia-kan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya" - Al Ghazali


Pendidikan diera sekarang sudah seperti menjadi sebuah kebutuhan yang primer. Pendidikan mesti selalu diutamakan, menjadi sesuatu yang pokok, dan yang pertama harus disiapkan untuk kemudian hari dijadikan sebagai upaya sekaligus modal dalam menghadapi kemajuan serta tantangan zaman yang terus mengalami perkembangan ini.

Ketika semua jalan untuk menyelesaikan segala macam permasalahan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks ini sulit teratasi maka pendidikan (dalam makna substantif) harus menjadi menjadi alternatif untuk mengatasi sekian banyak problem yang dihadapi masyarakat dan bangsa ini.

Di Indonesia khususnya, pendidikan menjadi kunci pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Hal itu bisa dilihat dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 yang menyebutkan “Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, komunikasi, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kalimat “Mencerdaskan kehidupan bangsa” yang tertuang dalam UUD 1945 alinea ke-4 yang merupakan urgensi dari tujuan pendidikan nasional, yang menggambarkan cita-cita bangsa Indonesia untuk mendidik dan menggambarkan pendidikan ke seluruh penjuru Indonesia agar tercapai kehidupan berbangsa yang cerdas.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 2 menyebutkan mengenai arti dari pendidikan nasional yang berbunyi, “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap perubahan zaman.”

Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan manusia, dengan begitu pendidikan bisa membawa manusia keluar dari kebodohan. Pendidikan juga mampu menjadikan seseorang mencapai kesuksesan dengan pengetahuan yang didapatkannya melalui proses pendidikan yang dijalaninya. 

Artinya, pendidikan memberikan jaminan dan kepastian tentang masa depan. Mampu menghindari kita dari ketidaksuksesan.

Pemahaman kita tentang pendidikan harus lebih dari biasanya. Sehingga muncul "kesadaran" berpendidikan. Bahwa dengan pendidikan kesadaran kita sebagai manusia akan terbentuk secara sistematis. Mulai dari mengetahui, memahami, sampai melaksanakan.

Pada tulisan ini, saya lebih menekankan bagaimana cara kita melihat dan memaknai pendidikan bukan hanya sebatas mencerdaskan atau mensukseskan. Tetapi lebih kepada substansinya, yakni memiliki nilai untuk meningkatkan aspek manusiawi dari manusia. Pendidikan yang humanis. Memiliki nilai-nilai kemanusiaan.

Sarat Nilai

Segala sesuatu yang ada ini tentu mempunyai nilai. Termasuk juga pendidikan. Pendidikan pada prinsipnya sangat sarat nilai, karena berguna bagi semua orang tanpa batasnya. Nilai (values) itu bisa beragam ada yang dilihat sebagai banyak sedikitnya isi, kadar, mutu; sifat-sifat (hal-hal) yang penting bagi kemanusiaan; atau sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.

Dari pemaknaan tentang nilai di atas, maka kemudian pendidikan dapat dipastikan untuk berfungsi sebagai jembatan untuk menjadikan nilai-nilai itu menjadi nyata.

Keiko Dodo Guhal dalam artikelnya menjelaskan, bahwa pendidikan secara teknis adalah proses yang terjadi di dalam masyarakat melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, perguruan tinggi dan lembaga-lembaga lainnya, yang dengan sengaja mentransformasi warisan budayanya, yaitu pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan-keterampilan. Pendidikan sendiri dijalankan agar manusia mampu menumbuhkan seluruh kemampuan manusia kearah yang lebih positif.

Guhal melanjutkan, pendidikan pada umumnya digunakan sebagai proses komunikasi yang terdapat transformasi pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan yang ada di dalam dan di luar instansi pendidikan yang berlangsung sepanjang hayat atau life long process dan dari generasi ke generasi.

Nilai yang dihasilkan dari proses pendidikan ini selalu dinamis, berkelanjutan, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Olehnya itu, upaya untuk perkembangan manusia dari pendidikan terus berlangsung sepanjang kehidupannya. Long life education untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Memanusiakan Manusia

Denny Kodrat dalam tulisannya yang berjudul "Quo Vadis Pendidikan Indonesia" menguraikan, bahwa pendidikan sejatinya merupakan bagian dari naluri manusia. Dia ada setua peradaban manusia. Pendidikan sebagai objek dengan manusia sebagai subjeknya adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Manusia menjadikan pendidikan untuk banyak hal yang bermanfaat bagi dirinya, mengaktifkan dirinya untuk terus berkembang, termasuk mengasah pola pikir dan cara pandangnya atau yang disebut paradigma.

Mengutip bahasa Prof. Achmad Sanusi, bahwa pendidikan sebagai upaya untuk mengajari manusia berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skils) (Sanusi, 2013). Seorang Jurgen Habermas juga berpendapat, bahwa manusia itu sendiri memiliki peran utama dalam menjalankan pendidikan sebagai tanggung jawab serta tugasnnya memanusiakan dirinya yang tidak dapat diwakilkan oleh siapapun (Habermas, 1984: 46).

Selain itu, terjadinya proses pendidikan agar adanya kepekaan dari seseorang terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. Fitrah antara manusia dan alam adalah saling membangun hubungan.

Dalam dunia pendidikan, tidak boleh ada proses marginalisasi atau antara manusia (baik individu ataupun kelompok) saling menindas, menguasai, menyudutkan manusia yang lain. Dan tidak menjauhkan diri masyarakat dan lingkungannya. Pendidikan harus membuat kita melebur tanpa pandang bulu serta status sosial.

Seperti kata Tan Malaka (dalam Madilog, 1943) bahwa bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.

Manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk menjadi baik. Salah satu upaya pendidikan adalah membentuk kepribadian manusia. Gagasan ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Tilaar dan Nugroho (2016: 27-42), dimana keduanya menyatakan bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat banyak bagi kehidupan manusia, diantaranya: 1) pendidikan sebagai transmisi kebudayaan, 2) pendidikan sebagai pengembangan kepribadian, 3) pendidikan sebagai pengembangan akhlak mulia dan religius, 4) pendidikan sebagai pengembangan warga negara yang bertanggung jawab, 5) pendidikan sebagai proses mempersiapkan pekerja terampil dan professional, 6) pendidikan adalah pengembangan pribadi paripurna, dan 7) pendidikan sebagai proses pembentukan manusia baru.

Dari uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa pendidikan harus dijadikan sebagai manifestasi paling pokok bagi kemajuan manusia-masyarakat dan lingkungannya, pendidikan (mendidik) adalah proses humanisasi yang dapat membuat seseorang mempunyai kesadaran secara total terhadap nilai-nilai kemanusiaan.