HAMIL DI LUAR NIKAH??!! 'wah berita hot nih' ucap tetangga. Saya sendiri pernah mendengar berita itu dari tetangga. Kagetnya ternyata itu teman sd saya sendiri. Oh tidak, saya bingung harus bahagia atau sedih melihatnya menikah karena keadaan. 

Pada saat itu saya masih duduk di kelas 8 SMP, umur saya waktu itu baru 14 tahun. Saat SMP merupakan saat di mana asyiknya main bersama teman, tegang menghadapi Ujian Sekolah juga Ujian Nasional. Menikmati masa muda bahagianya cukup dari hal-hal yang sederhana.

Perbincangan bersama teman mengenai seperti apa jenuhnya di rumah karena menjadi Ibu rumah tangga itu sudah terbayang saat. Tentunya kami waktu itu masih bertanya tanya 'ko bisa sih ya'. Saat SMP kelas 9 saya baru sadar, teman saya bisa hamil yaitu karena sperma pria membuahi sel telur wanita. Saya tertegun tegun, astaga ternyata dia begitu dan aku langsung nge-judge dia yang salah.

Saat beranjak dewasa yaitu kelas 11-12 SMA, nge-judge hanya dia yang salah ternyata tidak benar. Kesalahan itu yang bisa dibilang 'kecelakaan' merupakan kurangnya pendidikan seksual bagi remaja (khususnya perempuan) dari orang tua maupun guru, dan tentunya salah laki laki yang lebih dewasa yang seharusnya tau risiko tersebut. 

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) dan UNESCO mendefinisikan pendidikan seksualitas komprehensif (comprehensive sexuality education) adalah suatu bidang pendidikan yang mempelajari tentang aspek kognitif, emosi, sosial, dan interaksi fisik dari seksualitas itu sendiri. Jarang orang mengetahui arti komprehensif bukan?.

Orang tua biasanya hanya melarang untuk tidak berpacaran kepada remaja tanpa memberi tahu penyebab detailnya. Hal itu karena memberikan pendidikan seksual kepada remaja di mata masyarakat Indonesia merupakan hal yang sangat tabu. 

Remaja sendiri merupakan mereka yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang tentunya memiliki emosi yang labil, labil untuk memilih dan masih butuh tuntunan dalam menjalani hidup. Batasan usia remaja menurut WHO yaitu 12 sampai 24 tahun.

Masyarakat mengira pendidikan seksual merupakan suatu 'ajakan' untuk melakukan seks. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan pengertian pendidikan seksual yang komprehensif itu sendiri. Mindset 'ajakan' inilah yang merupakan penyebab utama, hanya menyangkut kata 'seks' sudah sangat tidak diterima oleh masyarakat Indonesia karena dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran agama.

Ada beberapa dampak yang ditimbulkan dari kurangnya pendidikan seksual yang komprehensif bagi remaja :

1. Hamil di luar nikah menyebabkan nikah muda

Memang di sekolah diajarkan pelajaran bab Reproduksi, namun hal itu diajarkan tidak dari awal kita memasuki pubertas (remaja) maka tidak menutup kemungkinan remaja masih sekedar ingin tahu dan ingin mencobanya sehingga menyebabkan banyaknya remaja yang hamil di luar nikah. 

Peran orang tua di sini termasuk sangat penting, sebab remaja lebih menghabiskan waktu di rumah sendiri. Saya sendiri termasuk remaja yang kurang mendapatkan pendidikan seksual yang komprehensif baik itu di rumah maupun di sekolah. 

Menurut pengalaman saya, guru pun memang hanya sekedar menyampaikan materi, tidak memberi pesan/makna dari bab tersebut yang kita tau ya sebagai remaja jangan melakukan seksual tersebut. Saya memang mendapat ilmu dari bab Reproduksi itu sendiri namun tidak mendapatkan keseimbangan antara norma agama, norma masyarakat dan kesehatan dengan bab itu. 

Kehamilan pada usia remaja ini sangat berisiko kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah (BBLR), perdarahan persalinan dan yang paling parah yaitu kematian pada ibu bayi, ataupun bayi. Parahnya kehamilan remaja marak terjadi di Indonesia.

2. Kasus HIV yang tinggi

Kurangnya ajaran dan peringatan tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas bisa menyebabkan banyak penyakit, salah satunya yaitu HIV. Kasus HIV di Indonesia cukup tinggi.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) jumlah kasus human immunodeficiency virus (HIV) terus meningkat sejak 2010-2020. Pada 2019 terdapat 50.282 kasus sedangkan pada tahun 2020 ada 54.100. 

Sudah sangat terlihat jelas bahwa kurangnya edukasi mengenai reproduksi dan seksualitas yang baik. Hal itu yang menjadi penyebab tiap taun kasusnya semakin menambah bukannya berkurang.

3. Maraknya kasus pelecehan

Remaja yang memasuki masa pubertas tentunya mengalami perubahan fisik, psikis, mental dan sosial. Khususnya pada remaja perempuan, terkadang ada yang kaget dengan perubahan fisiknya itu. 

Remaja yang berada masa labil itu, bisa mencoba coba hal yang tidak seharusnya dilakukan seakan 'memancing'. Selain itu perubahan fisik tersebut bisa membuat orang lain 'terpancing' untuk melakukannya. 

Remaja masih masa yang labil dan cenderung belum berani speak up ketika diancam, maka terjadilah kasus pelecehan. Selain salah oleh pelaku, pelecehan ini pun disebabkan karena kurangnya bimbingan dari orang tua maupun guru kepada remaja bahkan sejak dini usia dini, yaitu untuk selalu menjaga dirinya, termasuk organ vitalnya.

Maka dari itu peran pendidikan seksual yang komprehensif sangat penting, agar dapat mencegah dan mengurangi dampak-dampak yang telah dijelaskan. Pendidikan seksual juga sebenarnya lebih baik diedukasikan sejak dini  dalam hal yang masih wajar, karena kasus pelecehan juga banyak terjadi pada anak anak. 

Mindset mengenai 'ajakan' pada pendidikan seksual juga perlu dihilangkan, adanya dukungan dan komunikasi yang baik dengan orang tua, guru yang lebih memperhatikan muridnya saat pembelajaran. Peran pemerintah terbilang cukup penting mengenai sistem pembelajarannya. 

Saya harap pemerintah menambahkan pembelajaran tentang pembelajaran seksual yang komprehensif. Orang tua yang baik, ialah orang tua yang mampu menjaga, menasehati, dan mendukung anak. Salah satu cara menjaga anak yang baik termasuk  memberikan edukasi tentang seksual yang komprehensif.