Pendidikan menjadi kebutuhan pokok manusia sebagai alat untuk mempersiapkan manusia-manusia yang mampu menghadapi tantangan kehidupan hari ini maupun akan datang. Perubahan yang sangat cepat dan laju dalam kehidupan ini menandakan kedudukan pendidikan dalam kehidupan manusia adalah suatu hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh manusia.

Ada sebabnya, alasan yang kuat dan realistis. Apabila anda diberikan pertanyaan, kenapa anda menghabiskan banyak waktu dalam dunia pendidikan. 

Khususnya dapat kita hitung dari waktu seorang masuk dalam dunia pendidikan formal dari tingkat dasar sampai universitas atau perguruan tinggi. Berapa waktu yang dibutuhkan, hingga berapa besar rupiah dari jerih payah orang tua yang telah dihabiskan hanya untuk agar memperoleh pendidikan dengan harapan agar dapat menghadapi tantangan kehidupan. 

Sebagai orang awam yang berasal dari keluarga pas-pasan, kita pasti memiliki seribu jawaban. Apalagi seorang yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan sampai universitas karena dibantu oleh beasiswa atau keluarga terdekatnya. 

Pendidikan memang pada dasarnya diberikan dan merupakan tanggung jawab manusia pada manusia yang lain. Pendidikan tidak memandang fisik seseorang, namun pendidikan adalah tugas yang diemban sebagai manusia yang memiliki tugas moril untuk terus menjaga keberlangsungan kehidupan manusia pada umumnya. Entah itu merupakan keluarga atau bukan, pendidikan bebas dari latar belakang manusia.

Harapannya,l setelah seorang telah menyelesaikan pendidikan adalah memiliki keterampilan, keahlian, dan wawasan pada satu bidang tertentu sesuai yang dipelajarinya. Ini pula yang melatarbelakangi kenapa di Indonesia pendidikannya menjadi terprogramkan dalam beberapa fakultas dan jurusan. Selain agar siswa dan mahasiswa memiliki pilihan sendiri terhadap apa yang ingin dipelajarinya.

Masih banyak orang tua yang kemudian mengharapkan anaknya usai menyelesaikan pendidikan dibangku universitas dan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang jauh lebih baik dari pekerjaan orang tua. 

Menjadi dualisme pengertian yang digunakan dalam mengartikan pekerjaan. Sehingga pada dasawarsa ini, pekerjaan dalam pengertian lebih dipahami sebagai perkantoran daripada sebagai suatu aktivitas yang digerakkan oleh manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk berdialektika dengan alam.

Antara mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri menjadi pembicaraan khusus dalam melihat perubahan realitas kehidupan. Marx mengartikan uang memiliki pengaruh yang luar biasa dalam menggeser pengertian setiap aktivitas yang dilakukan manusia dalam dasawarsa ini, yang mana di saat kapitalisme telah menjalar dalam segala lini kehidupan manusia.

Tidak sulit seorang dalam mengartikan bahwa pendidikan untuk mencari pekerjaan. Sebab dalam kenyataannya pendidikan mengeluarkan selembar kertas ijazah yang digunakan untuk syarat-syarat seorang yang ingin masuk dalam dunia pekerjaan dasawarsa ini. 

Di sini kita dapat melihat bahwa evolusi dunia pekerjaan sangat luar biasa, yang mana dahulu orang bekerja di kebun, ladang, sawah yang dimilikinya sendiri, menjadi bekerja pada orang lain atau tuan tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Yang tentu seorang disyaratkan memiliki keahlian tertentu, hingga syarat-syarat pengalaman dan ijazah untuk menunjukkan bahwa orang atau pelamar pekerjaan itu telah memiliki pengalaman.

Bersamaan dengan itu, perihal masih dapat dengan mudah kita melihat para pelajar yang telah menyelesaikan duduk di bangku pendidikan menjadi orang-orang yang mondar-mandir mencari pekerjaan sebab di rumah sudah tidak ada sawah, ladang, dan kebun milik orang tua yang mesti dikerjakannya, suatu kontradiksi dalam kehidupan yang mana sawah ladang dan kebun milik keluarga dijual untuk melancarkan pendidikan anak kemudian anaknya keluar dari bangku pendidikan sebagai orang-orang yang terasingkan dan menambah angka pengangguran di tanah kelahirannya sendiri.

Sempai sini, seperti yang tersirat dalam judul tulisan ini, pada kesempatan ini, yang hendak penulis garisbawahi adalah bagaimana kita dapat mengevaluasi kontradiksi yang umum terjadi dalam kehidupan kita, seperti yang sudah penulis gambarkan di atas, sehingga melahirkan suatu solutif yang berarti untuk kita semua.

Merupakan kewajiban pada sesama manusia untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah terjadi dalam kehidupan ini. Selain pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia seperti yang disebutkan Sutan Rajasa dalam bukunya "kamus ilmiah populer".

Tersadari atau tidak, pendidikan memberikan pengalaman pada manusia untuk mengevaluasi kehidupan dan setiap apa yang telah dilakukan di alam semesta ini. Manusia sebagai mahkluk yang memiliki derajat tertinggi dari makhluk-makhluk lain yang ada di semesta ini, suatu kemampuan yang diberikan pada manusia adalah kemampuan untuk melakukan perubahan (agent of change) dengan modal akal pikiran yang dimilikinya sebagai instruksi terhadap setiap kebijakan hidupnya.

Sampai di sini, suatu pendidikan pada manusia yang semustinya melahirkan generasi atau manusia-manusia yang memiliki keahlian semestinya disesuaikan dengan lingkungan yang berpotensi melahirkan manusia yang peka terhadap lingkungan hidupnya. Suatu pemahaman dan kemampuan menganalisis potensi untuk menjadi perhatian dunia pendidikan yang semestinya diajarkan selama dalam bangku pendidikan.

Sehingga pendidikan bukan sekadar menyiapkan manusia-manusia yang siap mengisi pekerjaan di setiap lowongan pekerjaan, namun terus melahirkan generasi yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dan menjaga kehidupan serta lingkungan sebagai arah dan tujuan kehidupan manusia.

Sebab kehidupan mesti menjadi tanggung jawab setiap yang bernyawa, terutama manusia yang memiliki prestasi di alam sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan untuk berubah dan melakukan perubahan.

Sampai sini, kesimpulan yang ingin penulis katakan adalah pendidikan dan pekerjaan adalah dua hal yang berhubungan yang tidak dapat dipisahkan, namun bisa pula menjadi instruksi kesadaran manusia untuk memikirkan kehidupan yang menjadi emban kehidupan. Suatu pilihan seperti yang dikatakan Bapak Republik, Datuk Ibrahim (Tan Malaka), di bawah:

"Seorang yang ingin berjuang untuk orang lain, sudah semestinya rela dirinya hilang kemerdekaannya."

Dalam kata ini, setidaknya yang hendak Bapak Besar Republik katakan adalah setiap manusia adalah keluarga yang semestinya memiliki jiwa kemanusiaan yang dapat menyatukan mereka. Tanpa itu, kehidupan hanya sebatas persaingan yang tidak habis-habis, yang kemudian dapat melahirkan kontradiksi kehidupan seperti ada yang menjadi pengangguran, sedangkan kesempatan yang sama ada manusia yang sedang senang gembira memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kontradiksi kehidupan adalah suatu realitas kehidupan manusia yang apabila manusia telah dijauhkan dari kehidupan sebagai satu persaudaraan. Terkesannya adalah perlombaan dan saing-menyaing untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun penulis punya banyak harapan dalam tulisan ini, sebab manusia punya rasa kemanusiaan yang menjadi pijak manusia untuk melakukan kebaikan sesama manusia.