Berbicara pendidikan tidak akan pernah selesai dalam ranah kehidupan manusia. Belum pernah kita mendengar ada suatu masalah yang di situ pendidikan tidak dibicarakan. Baik orang yang ahli maupun yang tidak tahu sama sekali tentang teori pendidikan. Semua orang mengambil bagian apabila setiap berbicara pendidikan, karena semua orang berkepentingan dengan pendidikan. Terlebih lagi manusia tidak akan pernah puas terhadap pendidikan yang ada.

Orang yang ingin memperbaiki orang lain, kelompok, suatu negara, bahkan yang ingin membangun peradaban dunia pasti secara langsung ataupun tidak langsung akan melakukannya melalui pendidikan. Orang yang akan merusak negara dan meruntuhkan suatu peradaban juga akan melakukannya melalui pendidikan. 

Kita tidak boleh terlalu polos untuk mengrira para koruptor dan penguasa yang serakah tidak sekolah. Justru pada umumnya pendidikan mereka tergolong lebih tinggi (Ahmad Tafsir. 2017).

Kita tahu, pendidikan merupakan hasil produksi yang erat berkontaminasi dengan budaya masyarakat dalam kehidupan ini. Masyarakat yang baik merupakan hasil dari bangunan pendidikan yang baik, begitupun sebaliknya, pendidikan yang baik akan dipengaruhi oleh tingginya kualitas budaya suatu masyarakat. Sebab teori pendidikan di buat berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Jika keadaan suatu masyarakat berubah, maka masyarakat tersebut akan menghendaki adanya perubahan dalam teori pendidikan guna menyesuaikan dengan perkembangannya. 

Sekarang misalnya, perkembangan sumber daya manusia mampu meningkatkan perkembangan budaya masyarakat dan mutu pendidikan. Rasionalitas yang tinggi yang terpatri dalam kehidupan modern ini menghendaki adanya perubahan terus menerus terhadap masyarakat dan pendidikan.

Tidak heran kiranya jika kita menemukan atau merasakan perkembangan masyarakat dan pendidikan yang tidak berujung. Hingga mengakibatkan mau atau tidak, manusia harus kreatif, inovatif, dan reflektif (cepat) menanggapinya.

Untuk mencapai pembentukan manusia semacam itu, maka proses transformasi dan aktualisasi ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan di desain sedemikian konkretnya. Silabus-silabus, Mata Pelajaran, dan Mata Kuliah (Matpel dan Matkul) seperti menjadi jalan tikus untuk mencapai tujuan akhir pendidikan.

Pencapaian tersebut dilakukan tanpa adanya kepedulian apakah peserta didik benar adanya sudah memahami substansi pembelajaran atau tidak. Proses pembelajaran tetap akan terus berjalan, jika harus mengulang maka akan berakibat tidak tercapainya rancangan pembelajaran. Ketika hal itu terjadi, maka pengajarlah yang akan disalahkan.

Kalaupun ada peserta didik yang bersifat kritis dan sedikit kritik, kebijakan yang terselubung yang sering dilontarkan sebai jawaban ialah, tidak mungkin semua pertanyaan dan bantahan diselesaikan dalam waktu satu setengah jam (1/5 jam). Maka sesuai ketentuan tekstual, itu yang harus diterapkan tanpa ada perubahan yang berani di upayakan bahkan oleh pengajar sendiri.

Bukan hanya peserta didik yang dikontroling oleh silabus Matpel dan Matkul tersebut. tapi para pendidik atau pengajar sudah di kendalikan oleh ketentuan (silabus) yang menjadi hak otoriter penguasa tertinggi dalam lembaga pendidikan. Sikap kritis harus di bungkam, itu yang diteladani oleh peserta didik dari pendidiknya.

Hanya sebagian kecil yang bersifat terbuka dengan mengatakan: ini adalah ketetapan atasan yang harus saya patuhi, karena jika tidak maka saya tidak akan mampu dan tidak bisa untuk menghidupi diri dan keluarga. yang seperti ini, sungguh seorang pendidik yang jujur serta merupakan teladan yang sadar punya keresahan terhadap sikap kritis anak didiknya.

Sadar bahwa, proses melibatkan kemampuan berpikir secara kritis kreatif dan reflektif, tanpa harus berpatukan buta pada silabus akan menghasilkan pencerahan, kearifan, dan kebahagiaan. Melalui proses berpikir kritis dan kreatif pula seseorang dapat terus memperbaiki dan mengembangkan dirinya. (Yusuf Afrizal. Kabid Keilmuan Tamadddun. 2015-2016)

Memperbaiki dan mengembangkan diri dalam artian, pada diri manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dunia. Hanya saja kebanyakan manusia tidak menyadari keberadaan jawaban dari setiap persoalan dunia yang dipertanyakannya tersebut. Untuk itu, manusia membutuhkan bantuan orang lain agar mampu melahirkan gagasan, ide-ide yang ada dalam dirinya. (Socrates 470-399 SM).

Dari sini dapat kita ketahui tujuan dari pendidikan yang sebenarnya. Tidak lain untuk memperbaiki dan mengembangkan manusia melalui proses berpikir secara kritis, kreatif, dan reflektif. Membangkitkan dan mendapatkan jawaban mengenai berbagai persoalan dunia yang terpendam dalam diri manusia itu se ndiri.

Hanya saja yang kita rasakan sekarang ini, pendidikan tidak lagi sepenuhya melahirkan gagasan dan ide yang terpendam dalam diri manusia itu sendiri. Tapi hanya sebatas memberikan asupan gizi intelek yang sudah di rancang dan ditentukan oleh lembaga pendidikan. Padahal pendidikan yang berhasil ialah pendidikan yang terus menerus menumbuhkan rasa ingin tahu.

Tidak terhenti sampai di situ, upaya untuk membunuh rasa ingin tahu dan sikap kritis peserta didik dalam dunia pendidikan juga sangat kental terasa. Dimana hari di luar atau selain hari belajar (hari libur) masih ada saja agenda dan kegiatan yang dikeluarkan melalui kebijakan lembaga pendidikan. Jelas hal ini untuk menyibukkan peserta didik hingga membuatnya mati kutu tanpa bisa melatih, mengembangkan, dan mencari alternatif lain yang bisa menambah inteleknya.

Sekali lagi, jika kita merujuk pada realita hari ini sebagaimana yang sedikit saya sebutkan di atas, kita akan menemukan manusia dikembalakan layaknya domba-domba yang tersesat. Dikembalakan dengan agenda dan kebijakan yang mengatas namakan pendidikan. Diakui atau tidak kita semua pasti pernah merasakan dan melaluinya. Rasanya kepada hal semacam itu hanya kelelahan yang membosankan terus-menerus.

pembelajaran yang di ambil dari setiap agenda tersebut jauh sekali dari kata manusia itu sendiri. Sebatas dijadikan ajang kesenangan dan dendam penindasan yang diwariskan turun temurun. Rasa pengertian tentang kemanusiaanpun seakan hilang, padahal sudah jelas belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia itu sendiri. (Socrates).

Kiranya kita perlu untuk merujuk pada sejarah. Orang-orang Yunani lebih kurang Enam ratus Tahun Sebelum Masehi (600 SM) telah mengatakan, bahwasanya pendidikan ialah usaha untuk membantu manusia menjadi manusia. Dengan kata lain pendidikan yang berhasil ialah pendidikan yang menjadikan manusia sebagai manusia