Persoalan pendidikan sampai saat ini, belum ditemukan titik persoalannya. Kompleksnya persoalan pendidikan membuat pemerintah dan pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan bekerja keras untuk menemukan satu formula yang mampu memperbaiki kualitas mutu pendidikan bangsa ini. 

Tak terkecuali dengan beberapa kali pergantian kurikulum serta kebijakan dalam dunia pendidikan. Hal yang serupa terjadi kepada pendidikan Islam yang kehilangan arah akibat ketidakmampuan dalam mengatasi polarisasi kemajuan teknologi. 

Tujuan pendidikan Islam pun bergeser untuk memenuhi kepentingan pasar dalam dunia industry. Ditambah lagi masih adanya dikotomi dunia pendidikan, yang mana pendidikan Islam menjadi pendidikan kasta kedua setelah pendidikan umum.

Padahal jika melihat Amanah dalam undang-undang Sisdiknas, di sana tujuan pendidikan secara umum jelas bahwa terbentuknya budi pekerti yang luhur, bertaqwa, kreatif, inovatif dan seterusnya merupakan harapan yang utama untuk dicapai dalam pendidikan. 

Sayangnya realitas yang ada menunjukkan, pendidikan secara umum bergeser dari paradigma mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadi mempersiapkan peserta didik sebagai mesin-mesin siap pakai. 

Sejatinya, mempersiapkan output pendidikan yang berkualitas, tentunya saling berkaitan dengan pemenuhan mutu hasil pendidikan itu. Bukan hanya kualitas secara soft skill, melainkan secara karakter atau akhlak dalam padanan kata pendidikan Islam.

Bangsa kita telah banyak melahirkan para intelektual yang banyak membahas pendidikan, termasuk pendidikan Islam di dalamnya. Dalam pendidikan Islam, jika ditelaah maka akan menghasilkan produk yang bukan hanya bersifat duniawi melainkan juga yang bersifat ukrawi

Hal demikian dilakukan untuk menjaga keberlangsungan generasi intelektual Islam yang selalu memikirkan perkembangan agama dan negara. 

Metode, strategi sampai pada tujuan pendidikan telah dirumuskan dengan begitu rinci, dengan harapan peserta didik tidak melupakan apa tugas utamanya menjadi seorang manusia yang terdidik.  

Intelektual Islam Bidang Pendidikan

Ada dua buku yang membahas mengenai para ulama atau intelektual Islam yang banyak membicarakan pendidikan Islam. 

Yaitu buku yang ditulis oleh Imam Musbikin yang berjudul “Konsep Pemikiran Tokoh 3 Ulama, 4 Madzhab dan 9 Walisongo” dan buku yang ditulis oleh Muhhamad Basyrul Muvid “Studi Pemikiran Pendidikan Islam Kontemporer”. Keduanya banyak berbicara mengenai peran intelektual Islam di masanya, yang telah mengemukakan konsep pendidikan Islam. 

Banyak pandangan dan metode yang dibicarakan dari kedua buku tersebut, mengenai pendidikan Islam. Pendidikan Islam dalam kedua buku itu, menekankan kepada hakikat dalam menuntut ilmu pengetahuan yang tentunya harus disadari dengan kesadaran transendental.

Dari ulama klasik sampai pada kontemporer visi yang sama untuk mewujudkan pendidikan Islam yang berdasarkan tauhid, serta terwujudnya peserta didik yang memiliki ahklak (moral) atau karakter berdasarkan ajaran Islam. 

Adapula yang menawarkan konsep yang lebih progresif berkaitan dengan adanya dikotomi pendidikan. Misalnya Muhammad Abdul, Syed Naquib Al-Attas yang keduanya menyarankan adanya islamisasi ilmu pengetahuan. 

Pemikiran-pemikiran tersebut, merupakan upaya untuk menggali berbagai makna yang tersirat dalam Al-Qur’an agar senantiasa dijadikan sebagai pedoman dalam pendidikan Islam.

Menurut para intelektual Islam kontemporer seperti Ahmad Tafsir, Abuddin Nata, Fazlur Rahman dan sebagainya, menginginkan Islam bukan hanya berada pada kajian persoalan akhirat saja, namun bisa dipadukan dengan ilmu duniawi agar pengetahuan umat Islam semakin kompleks terhadap perkembangan zaman, tanpa melupakan kehadiran agama di sana. 

Apa yang menjadi konsep dalam pendidikan Islam sekarang, ialah penekanan terhadap ajaran Islam yang menjadi spirit dalam menggali pengetahuan baik secara internal di timur maupun dari barat. Pendidikan Islam akan maju jika tidak ada pendikotomian pendidikan seperti apa yang terjadi saat ini.

Walaupun pada pembacaan terhadap kedua buku tersebut, dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan pendapat terhadap konsep pendidikan Islam yang ideal. Para ulama klasik menekankan untuk menjaga pendidikan Islam tetap berada pada koridor untuk memperkokoh tauhid dan pembentukan akhlak. 

Sementara itu para intelektual kontemporer menginginkan adanya pemikiran yang progresif yaitu menggabungkan ilmu umum dan ilmu agama dalam setiap lembaga pendidikan Islam. Hal itu agar terjadi dinamisasi terhadap ayat Al-Qur’an yang bersifat duniawi.

Pendidikan Islam Progresif

Menurut penulis, pendidikan Islam saat ini perlu mengembangkan nilai religiusitas, intelektualitas dan humanitas. Ketiga nilai tersebut saling berkesinambungan satu sama lain. 

Dalam pendidikan Islam nilai religius penting untuk mengajarkan peserta didik kepada ajaran agama yang berdasarkan tauhid. Nilai intelektual ialah memberikan asupan kepada otak peserta didik untuk meningkatkan kualitas individu, sehingga menghasilkan peserta didik yang intelek dan berakhlak mulia. 

Dan humanitas ialah, bagaimana peserta didik menjadi seorang yang humanis, toleran dan tidak eksklusif dalam memahami ajaran agama dan ilmu pengetahuan, sehingga di lingkungan masyarakat ia mampu menjadi pembeda dengan yang lainnya.

Maka dari itu, pendidikan Islam sangatlah penting untuk menjadi bagian dari pendidikan yang penting dalam kehidupan setiap manusia. 

sebab sebagai negara Pancasila yang mengakui nilai agama sebagai ruh dan cita-cita hidup berbangsa dan bernegara, sudah menjadi pasti bahwa agama harus menjadi nilai dalam setiap etos kehidupan manusia.