Pendidikan dipandang sebagai alat atau wadah untuk mencerdaskan dan membentuk watak manusia agar lebih baik. Pendidikan memegang peranan penting dalam membangun suatu peradaban yang disebut dengan bangsa, agar setiap orangnya dapat mempunyai kemampuan pada ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang sesuai dengan keadaan masyarakat. 

Eksistensi suatu bangsa agar menjadi bangsa yang unggul sangat ditentukan dari karakter warga negaranya. Karena karakter akan membuat tujuan negara dapat dicapai dalam waktu yang cepat atau lambat.

Karakter buruk yang menjadi ancaman bagi negara adalah ketika warga negaranya menganut radikalisme. Karena, selain berdampak buruk bagi pergaulan negara, juga akan mengancam keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. 

Pemerintah Indonesia sudah menerapkan berbagai program deradikalisasi yang ditujukan kepada warga negara yang melakukan tindakan radikal. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan oleh Yunanto (dalam Muhammad dan Surwandono, 2016) terhadap program deradikalisasi pemerintah, justru menimbulkan persoalan serius, bahkan semakin memicu penyebaran pemikiran radikal.

Memahami Makna Radikalisasi

The International Center for the Study of Radicalization and Political Violence (dalam Septian, 2010) menyebutkan radikalisasi adalah suatu proses di mana individu atau kelompok menerima dan utamanya berpartisipasi dalam penggunaan kekerasan untuk tujuan-tujuan politik. Biasanya merujuk pada violent radicalization untuk menekankan radikalisasi yang dimaksud berkaitan dengan radikalisasi kekerasan yang berbeda dengan proses berpikir radikal.

Lebih lanjut, Septian (2010) mengutip pandangan Silber dan Bhatt bahwa radikalisasi adalah the progression of adopting, nurturing and developing extreme Islamist belief system that includes the willingness to use, support, or to facilitate violence as a method to affect societal change.

Radikalisasi menganggap bahwa kekerasan merupakan tindakan yang layak, seperti diungkapkan oleh Cross (2012) tentang teori radikalisasi della porta. Dia menyatakan bahwa:

Della porta's theory of radicalization was, in many ways, confirmed, there were both structural and psychological factors that affected the development of the radical identity. These processes strongly influenced not just how radicals interacted with their fellow activists and radicals, but also their willingness to see violence as a viable political strategy.

Penelitian mengenai radikalisasi harus melihat pada proses berkembangnya pemikiran radikal, sebagaimana pendapat Pels dan de Ruyter (dalam Al-Badayneh, 2016) bahwa research into radicalization does not pay much attention to education in general and especially to the university setting as a breeding ground for terrorism. This is clearly a forgotten yet important likely influence in the process of radicalization.

Selanjutnya Al-Badayneh (2016) mengutip pendapat Silke bahwa empirical research has indicated that the level of education of radicalized people does not have a strong influence on the prevention or recruitment of radicals. Hal ini menandakan bahwa tingkat pendidikan seseorang tidak mempunyai pengaruh yang kuat dalam mencegah radikalisasi.

Kondisi Faktual Radikalisme di Indonesia

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, 2016) menunjukan hasil bahwa radikalisme ideologi telah merambah dunia mahasiswa melalui proses islamisasi. Proses itu dilakukan secara tertutup dan, menurutnya, berpotensi memecah belah bangsa.

Berdasarkan hasil penelitian LIPI, menunjukan bahwa mahasiswa yang belajar ilmu eksak lebih mudah direkrut kelompok radikal dibandingkan mahasiswa di bidang ilmu sosial. Proses perekrutan, jaringan, hingga pemeliharaan jaringan mereka dilakukan secara terorganisir (LIPI, 2016).

Radikalisme bukan hanya berada di kalangan mahasiswa, akan tetapi juga kalangan Guru serta siswa SMP dan SMA. Seperti yang diungkapkan Ramadhan (2016) bahwa hasil penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tentang radikalisme di kalangan pelajar se-Jabodetabek seperti ditulis M. Bambang Pranowo, Direktur LaKIP, di wilayah Jabodetabek yang menjadi sampelnya. 

Radikalisme dan toleransi muslim terhadap non-muslim dengan responden 590 guru dari 1.639 guru pendidikan agama Islam dan 993 siswa SMA kelas VIII dan IX serta sekolah SMA, dari 611.678 siswa menunjukan hasil yang membenarkan besarnya kecenderungan radikal dan intoleran.

Hasil publikasi penelitian oleh Wahid Institue pada tahun 2015 (dalam Ramadhan, 2016), empat tahun dari publikasi penelitian LaKIP, menemukan fakta bahwa secara umum, pandangan kaum pelajar di sekolah negeri di Jabodetabek memang terbuka dan toleran. Tetapi, kecenderungan intoleransi dan radikalisme rupanya terus menguat. 

Ini dibuktikan dengan dukungan mereka terhadap tindakan pelaku pengrusakan dan penyegelan rumah ibadah (guru 24,5%, siswa 41,1%); pengrusakan rumah atau fasilitas anggota keagamaan yang dituding sesat (guru 22,7%, siswa 51,3%); atau pembelaan dengan senjata terhadap umat Islam dari ancaman agama lain (guru 32,4%, siswa 43,3%).

Kondisi tersebut jelas menimbulkan keresahan bagi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Karena radikalisme akan menganggu proses pembangunan nasional, baik pada aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, atau bahkan politik.

Selain itu, merambahnya radikalisme akan menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal. Karena radikalisme akan merusak nilai dan norma yang hidup di masyarakat.

Penerapan Nilai-Nilai Kearifan Lokal

Upaya untuk menerapkan nilai-nilai kearifan lokal dalam pendidikan harus dilakukan melalui cara penumbuhan pemikiran kritis mahasiswa. Karena cara pandang mahasiswa akan berpengaruh terhadap tindakan yang akan dilakukan oleh mahasiswa. 

Suhartini (2009) mengungkapkan bahwa terdapat lima aspek pentingnya belajar kearifan lokal dalam menjaga kondisi sosial di masyarakat, di antaranya: 1) politik ekologi, merupakan upaya untuk mengkaji sebab akibat perubahan lingkungan yang lebih kompleks daripada sekadar sistem biofisik, yakni menyangkut distribusi kekuasaan dalam satu masyarakat;

2) human welfare ecology, kelestarian lingkungan tidak akan terwujud apabila tidak terjamin keadilan lingkungan, khususnya terjaminnya kesejahteraan masyarakatnya; 3) perspektif antropologi, determinisme alam mengasumsikan faktor-faktor geografi dan lingkungan fisik alam sebagai penentu mutlak tipe-tipe kebudayaan masyarakat;

4) perspektif ekologi manusia, memusatkan studi pada aspek pengelolaan sumberdaya milik masyarakat atau tidak termiliki sama sekali, dan pada masyarakat-masyarakat asli skala kecil yang terperangkap di tengah-tengah proses modernisasi; dan 5) pendekatan aksi dan konsekuensi, aktivitas manusia dalam hubungan dengan lingkungan, penyebab terjadinya aktivitas, dan akibat-akibat aktivitas, baik terhadap lingkungan maupun terhadap manusia sebagai pelaku aktivitas.

Penerapan nilai-nilai kearifan lokal harus dilakukan secara dialogis dalam forum diskusi. Sehingga terjadi tanya jawab yang interaktif dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait kearifan lokal yang berbeda dengan cara pandang radikalisme yang monolistik. Sebaiknya cara tersebut harus dapat masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, sehingga dapat melakukan pencegahan dan deteksi dini gerakan radikalisme di perguruan tinggi.

Referensi

  • Al-Badayneh. dkk. (2016). Radicalizing Arab University Students: A Global Emerging Threat. Journal Journalism and Mass Communication, 6(2), hlm. 67-78.
  • Cross, M. (2012). Radicalism within the Context of Social Movements: Processes and Types. Journal of Strategic Security, 4(4), hlm. 115-131.
  • Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. (2016, 19 Februari). Radikalisme Ideologi Menguasai Kampus. [online]. Diakses dari http://lipi.go.id/berita/single/Radikalisme-Ideologi-Menguasai-Kampus/15082
  • Muhammad, A & Surwandono. (2016). Strukturasi Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus Berbasis Islam dalam Mendiskursuskan Deradikalisasi Pemikiran Politik dan Keagamaan. Prosiding Konferensi Nasional Ke-4 Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah (APPPTM) (hlm. 25-31). Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  • Ramadhan, H. (2016). Deradikalisasi Paham Keagamaan melalui Pendidikan Islam Rahmatan Lil’alamin (Studi Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid). (Tesis). Program Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.
  • Septian, F. (2010). Pelaksanaan Deradikalisasi Narapidana Terorisme di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang. Jurnal Kriminologi Indonesia, 7(1), hlm. 108-133.
  • Suhartini. 2009. Kajian Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, hlm. 206-218.