Ibn Sina yang bernama lengkap Abu ‘Ali Al-Husayn Ibn Abdullah yang orang-orang barat menyebutnya Avicenna. Ia berpendapat dalam filsafat ilmunya, “Pendidikan terbagi menjadi dua: 1) Ilmu yang tak kekal, 2). Ilmu yang kekal”. Tapi berdasarkan tujuannya, maka ilmu dapat dibagi menjadi ilmu yang praktis dan teoritis.

Menurut Ibn Sina, ada dua tujuan pendidikan: Pertama, diarahkan kepada pengembang seluruh potensi yang dimiiki seseorang menuju perkembangan yang sempurna baik perkembangan fisik, intelektual maupun budi pekerti. Kedua, diarahkan pada upaya dalam rangka mempersiapkan seseorang agar dapat hidup bersama-sama di masyarakat dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecendrungan dan potensi yang dimilikinya.

Dalam dunia pendidikan saat ini ialah bagaimana meningkatkan kualitas soft skill menjadi peluru utama mengembangkan hard skill peserta didik. Dalam penerapan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik memiliki tugas yang terbilang amat sulit, yakni mengembangkan pengetahuan peserta didik agar satu tingkat lebih tinggi dari yang dimiliki sebelumnya.

Pada metode pembelajaran efektif, yakni bagaimana penerapan pembelajaran oleh pendidik kepada peserta didik agar dapat mengembangkan daya kompetensi pengetahuan/kognitif peserta agar bisa mengembangkan kompetensi spritual, sikap dan skill peserta didik. Ini merupakan langkah awal mengembangkan pendidikan saat ini.

Namun, ada beberapa kendala yaitu karakter pendidik saat ini ialah bagaimana mengejar target demi lulusnya peserta didik bukan pada orientasi sikap peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang dibuat oleh masing-masing pendidikan formal yang ada menuai banyak pertanyaan. Salah satunya ialah bagaimana nilai peserta didik memenuhi syarat lulus dengan kompetensi yang terbilang sangat kurang dan tidak memenuhi SKL.

Salah satu masalah yang tak kunjung terselesaikan ialah bagaimana membuat nilai peserta didik sampai pada standar yang ada dengan kesan memaksa, namun karakter pendidikan dengan menerapkan rasa tanggungjawab moral, rasa ikhlas dan jujur dalam mengajar dan pada saat penilaian. Acapkali siswa yang memiliki tingkat kognitif yang rendah namun tetap diluluskan.

Kita lihat saja, dari kebanyakan jebolan Sekolah Menengah Atas (SMA) menuai banyak permasalahan. Salah satunya generasi hura-hura, generasi poya-poya. Ini dapat kita saksikan ketika kelulusan pada tahun-tahun sebelumnya.

Para pelajar SMA acapkali melakukan hal yang tak wajar, kita tengok saja sekitaran jalan raya pasti segerombolan anak SMA merayakan kelulusan mereka dengan cara yang menyimpang, baik dari segi agama dan melanggar UU. Disini siapa yang harus kita salahkan? Gurunya ataukah pemerintah?

Penulis mengingatkan kita semua, “karya murid ialah cerminan dari gurunya.” Inilah sebab kenapa seorang aktor tanpa jasa yang banyak mendapat cemooh, apakah seorang guru tersebut harus dibina dalam mendidik siswa agar apa yang dicita-citakan tercapai pada perilaku siswa dalam menjalani hidup sebagai insani yang bermoral. Dengan pelbagai masalah yang ditimbulkan oleh sikap siswanya.

Salah satu perguruan tinggi yang ada khususnya di daerah NTB banyak mengeluarkan pendidik/guru. Pada periode tahun 2016 saja kita ketahui bahwa lebih dari 100 wisudawan di bidang Pendidikan di lepas/lulus. Apakah sudah memenuhi standar Pendidik? Hal yang serupa pula kita akan pertanyakan.

Pendidikan sejatinya mencerdaskan kehidupan bangsa, sebab kenapa demikian kita belajar mengurai mata pelajaran semenjak bangku SD sampai pada jenjang SMA. Inilah tumpuan kenapa sektor pendidikan sangat krusial sebagai pembentuk karakter dan keberlangsungan hidup bangsa. Karena karakter dan jati diri bangsa dapat dilihat dari suksesnya pendidikan yang diprogramkan oleh pemerintahan bangsa tersebut.

Namun banyak hal yang harus diperbaiki dari elemen-elemen pendidikan. Salah satunya ialah lulusan yang dihasilkan oleh sekolah-sekolah yang ada.

Artifisialism Sikap Peserta Didik

Dewasa ini banyak perilaku menyimpang dari tujuan sejatinya pendidikan kita, salah satunya moral dan karakter jebolan SMA bisa dikatakan menyimpang. Kita tahu dalam UU No 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Ini jika kita kaji secara mendalam bahwa pendidikan kita sangat mulia dan bertujuan untuk merubah peserta didik dari proses pembelajaran secara aktif dapat mengembangkan potensi peserta didik dan dapat berkompeten pada empat KI tesebut, yang di mana kompetensi spritual, kompetensi sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi sikap peserta didik agar dapat mengangkat derajat peserta didik.

Namun apa yang terjadi, dalam tiap-tiap sekolah banyak kejanggalan yang kita temui, Guru dibuli siswanya, dan malah sebaliknya, siswa dibuli oleh gurunya. Kita ketahui dalam perspektif pendidikan ialah bagaimana menyalurkan ilmu yang ada dalam diri Pendidik dapat diterima oleh peserta didik dengan proses yang lama, ingat proses yang lama. 

Kita dapat belajar dari kisah Ibn Hajar dan Gurunya. Ia tak pernah lelah belajar dan gurunya tak pernah lelah mengajarinya sampai ia memiliki banyak karangan kitab-kitab tersohor Islami sampai saat sekarang ini. Pribadi bilau yang tak mudah menyah dan tak kenal lelah dalam belajar. Gurunya pun demikian, tak kenal lelah saat mengajar muridnya.Kepribadian ialah apa yang kita tampilkan dalam keseharian (termasuk identitas & temperamen).

Dalam membentuk kepribadian seseorang membutuhkan waktu yang lama, karena kepribadian adalah suatu yang diberikan Tuhan kepada manusia secara langsung sejak ia lahir ke dunia, jadi seorang pendidik harus lebih bersabar dalam membangung kepribadian siswa agar lebih baik sehingga karakter yang tadinya rusak dapat diperbaiki melalui sentuhan-sentuhan rohani sehingga terciptanya sikap yang baik pada peserta didiknya.

Peran guru sangat krusial dalam membangun karekter bangsa melalui dunia pendidikan formal, melalui pendidikan yang dia emban, pengalaman-pengalaman hidup yang baik, dan pengorbanan Pendidik dalam membangun karakter peserta didik sehingga tingkah laku artifisial dalam dunia sekolah dapat menjadi tempramen dalam dunia luar sekolah.  

Pengembangan pendidikan dalam kajian-kajian formal seringkali meleset dari apa yang semestinya diperhatikan, dalam K-13 yang dikeluarkan pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang di mana M. Nuh selaku Menteri Pendidikan mengesahkan bahwa Kurikulum 2013 dapat diterapkan di sekolah-sekolah baik yang non formal bahkan yang formal.

Standar isi dari K-13 padahal sudah baik, namun apa yang terjadi, pengembangan kurikulum yang dikaji oleh semua guru gagal paham. Bagaimana penerapan pembelajaran, dan pembuatan bahan ajar yang diatur dalam K-13. Jadi dalam semua mata pelajaran harus terisi oleh sentuhan-sentuhan sikap spiritual agar dapat terkontrol, baik dari mata pelajaran yang bersifat alamiah, sosial, dan material ini harus berlandaskan sikap spiritual. 

Sebab kenapa demikian, nilai kejujuran dan sikap spiritual harus tercermin dalam semua kegiatan yang diajarkan pada mata pelajaran tersebut. Jadi, dunia pendidikan kita penuh dengan sentuhan-sentuhan rohani. Namun, inilah yang gagal dipahami oleh setiap guru. Cara mengembangkan kurikulum tak mampu sampai tuntas.

Bukan Sekedar Formalitas

Arah dari tujuan pendidikan saat ini tidak terlepas dari peran pemerintah. Sebab kenapa demikian, pemerintah selalu ingin menerapkan yang baru dan tak lepas dari segala macam percobaan. Pendidikan kita bukan terjadi karena adanya yang mengatur, namun pendidikan tercipta dari informal menuju formal. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi menitik beratkan pada hasil dari apa yang telah diterapkan oleh guru ketika menyusun Silabus dan RPP (Rencana Praktek Pembelajaran). 

Salah satu capaian yang paling kecil pada penerapan tersebut tak lepas dari evaluasi tercapainya tujuan dari apa yang telah Guru susun dalam RPP dan Silabus. Ini tidak hanya melalui-melalui kajian-kajian mendalam, agar tersusun rapi dan procedural.

Tapi sangat sering kita temukan pada tahap penyusunan RPP dan Silabus guru hanya modal copy- paste dari apa yang ia douwnlod di internet. Padahal apa yang guru temukan pada media internet tak selamanya benar. Inilah kenapa, pola-pola kajian formalitas dalam menyusun semua elemen yang menunjang terciptanya pendidikan yang efisien dan efektif selalu di sepelekan. 

Jika ini dilakukan secara benar dan serius oleh pendidik maka akan bisa menciptakan keluaran/lulusan yang lebih baik. Kita lihat saja data dari UNESCO (2000) Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Indonesia berada pada urutan ke-102 tahun 1996, ke-99 tahun 1997, ke-105 tahun 1998, dan ke-109 pada tahun 1999.

Pada tataran asia, kualitas pendidikan berada pada urutan ke-12 dari 12 negara. Ini yang harus diperhatikan dan harus diangkat agar tak jauh tringgal dari daerah lainnya. Semoga dari lulusan-lulusan civitas akademika di masa yang mendatang dapat menciptakan pendidikan yang tidak hanya mengejar formalitas saja.