Pendidikan kontekstual adalah pendidikan yang mendasarkan kegiatannya pada kebutuhan akan komunitas terkait sumber daya baik alam dan manusia di sekitar ia bermukim juga sebaliknya. Pendidikan kontekstual berarti tidak memisahkan manusia atau masyarakat dari lingkungannya. 

Pendidikan kontekstual berarti mempelajari semua mata pelajaran yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan mengolah sumberdaya seperti kebuh, sawah dan segala hal yang ada. Jika ia hidup di perkebunan kopi dan hidup dari berkebun kopi, berarti pelajaran yang diberikan adalah literasi kopi. 

Seperti yang ada di Sumber Candik yang kopinya cukup terkenal ini. Anak-anak usia sekolah diberikan mata pelajaran mengolah dan meningkatkan hasil kopi di ladang-ladang mereka. 

Dalam kesempatan bedah buku Melawan Setan Bermata Runcing di Radio Republik Indonesia Pro 1 Jember tanggal 7 Februari 2020 kemarin. Kawan-kawan volunteer dari Sokola Institute juga Butet Manurung selaku pemrakarsa Sokola memberikan penjelasan yang sangat menarik bagaimana pemberdayaan anak-anak didik dan para volunteer Sokola Rimba berlangsung selama ini. 

Tentu cerita tentang lika-liku bagaimana mereka pertama kali membuka Sokola Institut juga tak kalah seru dituturkan oleh para pembicara. Pengalaman Butet Manurung, yang juga seorang antropolog dan pernah mendapat kesempatan menerima short course di "Global Leadership and Public Policy" di Harvard Kennedy School di Boston Amerika sebab kiprahnya memimpin volunterisme Sokola Simba. 

Sebab menjadi pendidik yang cukup sukses melakukan pemberdayaan masyarakat rimba, Butet Manurung mendapatkan "Hero of Asia" dari majalah TIME dan "Man and Biosphere Award" dari UNESCO, juga sebuah nobel dari "Nobel Asia" dari Ramon Magsaysay Award di tahun 2014. Filmnya juga telah dapat ditonton di layar kaca sejak Miles menawarkan diri untuk mengangkat cerita Sokola Rimba ke layar lebar sejak November 2013. 

Buku Sokola Rimba karya Butet Manurung juga telah diterbitkan sejak 2007 sebagai ide awal bagaimana film ini dibuat. Buku ini menceritakan perjalanan pertama kali Butet Manurung dari 24 September 1999 di Jambi hingga tahun 2003 ketika ia mendirikan Sokola yang memiliki program untuk 15 komunitas dan 10.000 penduduk rimba terdiri dari anak-anak dan dewasa.

Kedalaman cerita bagaimana orang rimba hidup adalah yang ingin dicari dari film ini, maka pembuatannya pun sangat kompleks. Dari mulai membangun perasaan yang otentik dengan cara menggunakan pemain dari orang rimba sendiri dan menggunakan seting di lingkungan asli orang rimba hidup dan tidak membawa mereka keluar. Tutur Riri Riza dalam behind the scenes film Sokola Rimba. 

Sementara itu menginterpretasikan Butet dalam gesture & glance sebagai pendidik anak rimbat ternyata tidak mudah. Tutur Prisia Nasution pemeran Butet Manurung dalam film ini. Kita lantas membayangkan bagaimana sulitnya untuk memasuki kehidupan orang rimba yang sesungguhnya. 

Maka kemudian akan masuk akal jika untuk pertama kali dalam pengalamannya, Butet Manurung ketika pertama kali memasuki rimba untuk mendirikan sokola harus menempuh serangkaian pengalaman seperti akan ditombak oleh seorang perempuan adat hanya sebab ia berkomunikasi dengan seorang laki-laki rimba beristri. Di mana ternyata percakapan itu menurut adat tidak boleh terjadi. 

Lantas, kemudian hal itu memaksanya pergi ke daerah pedalaman rimba yang lain. Selain itu, pengalaman volunter yang lain seperti terserang malaria yang paling berbahaya di Asia Tenggara juga menjadi tantangan dari relawan Sokola kata Saleh dalam kesempatan bedah buku tersebut. 

Sementara di Jember, Sokola telah dibuka di Sumber Candik. Kini telah banyak yang merasakan manfaat dari kedatangan volunter Sokola di desa ini. Salah satunya adalah melek baca tulis untuk orang tua dan anak-anak. 

Terdapat cerita menarik juga ketika kepala desa mengalami buta literasi tidak bisa membaca dan menulis mengingatkan kembali akan kondisi Jember sebagai kantong buta huruf terbesar ketiga di Indonesia.

Pada kesempatan bedah buku tersebut, hadir pula Dinas Pendidikan. Sebenarnya dari beberapa perdebatan yang muncul di dalam forum tentang mengapa ada ketidakmerataan kesempatan pendidikan bahkan di wilayah Jember. 

Hal ini telah dijawab dan secara konkret diberikan solusinya oleh Sokola Rimba, Sokola Institut. Apalagi kemudian diakui sendiri oleh Dinas Pendidikan Jember bahwa persoalannya lebih sering adalah persoalan seputar birokrasi terkait tenaga pengajar, guru, atau honorer. 

Menurut pengalaman penulis, hal ini benar adanya. Ketika, Dinas Pendidikan masih menyelesaikan PR pemerataan kesejahteraan guru, khususnya  honorer. Di tingkat lingkungan sekolah, masyarakat dan bukan birokrat, di sisi lain ada persoalan yang tak kalah mendasar. 

Anak-anak atau siswa  didik telah 'menunggu dipersuasi' pihak sekolah, sementara orang tua siswa juga harus lebih sering diberi kunjungan untuk memberikan pemahaman pentingnya pendidikan dasar, membaca menulis ketika mereka mayoritas lebih banyak mendorong anaknya menghabiskan waktu hanya untuk bekerja di ladang atau di kandang ternak. Ketika persoalan kemudian berlapis-lapis seperti ini. 

Relawan yang memiliki gerak lebih fleksibel biasanya masuk untuk memberikan solusi. Seperti langsung memberi pengajaran atau memenuhi kekurangan tenaga pengajar honorer tanpa melamar menjadi guru honorer di Sekolah Dasar yang membutuhkannya. 

Ini dilakulan oleh seperti I'm Young Leader (IYL), sebuah komunitas di Jember menjawab apa yang dikeluhkan oleh Bapak Riki salah satu dari yang mendapat pendidikan baca tulis dari Sokola Rimba, yang menyayangkan anaknya dan juga masyarakat yang justru berada di sekitar lingkungan Sekolah Dasar formal justru tidak bisa membaca bahkan sampai lulus kelas 6. 

Sama saja seperti dirinya yang tidak sekolah keluhnya. Komunitas IYL ini menawarkan jasa rekruitmen guru volunteer untuk membantu bekerja sama dengan guru honorer yang sekolahnya berada di kaki gunung. Dimana akses menuju sekolah lebih sering menjadi kendala utama dari tidak berjalannya kegiatan belajar mengajar pendidikan dasar. 

Bagaimanapun pekerjaan volunterisme banyak bentuknya, akan tetapi mereka sama-sama cenderung menggunakan metode pendidikan yang sama yakni pendidikan kontekstual. Cita-cita untuk mengembalikan masyarakat berdaya di daerahnya sendiri juga turut diamini oleh berbagai pihak. 

Dalam hal ini, di Jember sejauh ini berjalan baik hanya perlu fasilitas pendukung seperti tempat belajar, misal kapur tulis, tikar dan lainnya, yang sudah siap pakai sehingga Sokola bisa langsung bekerja. 

Akan tetapi keberlangsungannya komunitas seperti ini, tampaknya masih mengundang skeptisisme bagi yang ingin aktif atau mendirikan komunitas serupa, yang muncul terlihat dari pertanyaan yang dilontarkan saat itu kepada Sokola Institut mengenai darimana mereka mendapatkan sumberdana, bahkan soal legalitas kegiatan Sokola ini. 

Berbagai kegiatan Sokola Rimba sering diulas di website resmi kemedikbud. Institut ini terdaftar dan didukung oleh pemerintah utamanya Presiden bahkan berjalan tiga periode, termasuk yang terdahulu. 

Sumber dana bisa darimana saja, kata Butet Manurung akan tetapi harus jelas bahwa instansi donatur tidak justru merugikan orang rimba. Akan tetapi perlu diketahui bahwa volunteerisme bagaimanapun tidak ternilai kata Saleh. Sebab, tidak ada siapa pun, yang dapat mengukur sebuah komitmen dan solidaritas, imbuhnya lagi. 

Selain itu, skeptisime yang muncul juga dituturkan oleh salah satu mahasiswi semester akhir Universitas Jember ketika ia harus menghadapi pilihan apakah menjawab panggilan hatinya yang ingin terjuan sebagai volunteer ataukah menurut kata orang tua untuk tetap di comfort zone. Hal ini juga dijawab oleh Butet Manurung:

"...jika kamu ragu melakukan sesuatu yang kamu tahu itu passion kamu. Selesaikan semua tapi tapi...itu... Bagaimanapun caranya, agar kamu tidak bingung".