Anak usia dini memiliki dunia dan cara hidup tersendiri menyangkut garis kehidupannya. Salah satu dunia mereka yang paling di senangi adalah bermain. Hal demikian tidak bisa di tentang dan diganggu oleh siapapun lantaran menjadi bagian dari hidupnya sebagai anak kecil yang memiliki kecenderungan untuk bersenang-senang.

Meskipun begitu, bukan berarti dunia anak harus dilepasbebas begitu saja tanpa kendali dari orang tua dan tidak juga dikekang dan diikat erat-erat sampai pada tataran yang tak sewajarnya. Upaya pantau keluarga terhadap anak semakin menempati posisi penting di tengah- tengah arus modernisasi dan diera milenial yang diiringi dengan pesatnya perkembangan teknologi zaman ini.

Lebih-lebih perkembangan teknologi tidak hanya mempermudah aktivitas tetapi telah mengaburkan nilai-nilai moral dengan masuknya budaya luar yang terus berkembang dengan pesat. Berangkat dari sanalah peran pantau keluarga terhadap anak memiliki posisi yang sangat penting.

Dalam kajian ilmu psikologi, perkembangan karakter manusia dimulai sejak usia dini. Usia dini menjadi seperangkat rangkaian proses sebuah produk karakter lantaran pada masa itu akal pikir merambat cepat dalam merespon fenomena sekitar yang terjadi.

Di sanalah posisi sentral pendidikan keluarga perlu diterapkan sebagai wujud tindak pantau keluarga terhadap anak dengan titik tumpu yang bermuara ke arah karakter yang baik dan budi pekerti luhur.

Berangkat dari kajian psikolog-sosiolog tentang anak maka peran aktif orang tua ataupun keluarga memilik posisi yang sangat penting dalam menentukan titik orbit muara karakter anak. Dengan kata lain, orang tua memiliki peluang besar dalam mengawali mentalitas dan karakterisasi seorang anak sejak usia dini untuk menjadi pribadi yang beretika.

Lantaran perkembangan mentalitas dan karakter anak ditentukan oleh pengalaman dan back round lingkungan yang melatarinya maka pendidikan menjadi sebuah kunci utama sebagai jembatan untuk mengantarkan anak menjadi pribadi yang berkarakter baik.

Pendidikan dalam arti luas dibagi menjadi tiga; pertama, pendidikan formal. Kedua, pendidikan informal. Ketiga, pendidikan non formal. Pendidikan formal berupa lembaga- lembaga sekolah baik negeri maupun swasta.

Sedangkan pendidikan informal berupa kursus- kursus dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Sementara pendidikan non formal memuat konten pendidikan keluarga atau juga bisa disebut home education.

Pada hakikatnya, pendidikan rumah atau pendidikan keluarga merupakan bentuk upaya orang tua dalam mendidik dan mengembangkan karakter anak sejak usia dini menuju keindahan budi pekerti dan akhlak mulia.

Home education pada kenyataannya melibatkan orang tua sebagai pendidik yang memiliki peran penting dalam mengembangkan mental, karakter, dan bakat seorang anak.


Home education dalam proses praktiknya adalah tindakan orang tua dalam memantau, mengarahkan, dan memberikan motivasi ke arah kemajuan terhadap anak. Bentuk detail penerapan memantau bukan berarti mengikat erat-erat akses perbuatan anak tetapi menyusun kriteria “baik dan tidak baiknya suatu perbuatan” dalam rangka mengevaluasi tindakan anak.

Sedangkan aspek mengarahkan adalah memberikan jalan bagi anak untuk mengembangkan karakter, mentalitas, dan potensi yang dimilikinya. Sementara memberi motivasi adalah bentuk dorongan maupun hadiah guna menstimulus semangat belajar anak lantaran semangat belajar bersifat naik turun.

Kemudian, pendidikan keluarga memiliki tujuan yang sama dengan pendidikan sekolah negeri maupun swasta di luar sana yaitu demi tercapainya kedewasaan jasmani dan rohani. Istilah kedewasaan bermakna global yang memuat banyak makna. Salah satunya adalah mampu membedakan baik dan buruk, bertanggung jawab, dan mandiri.

Pendidikan keluarga juga memiliki fungsi yang sama dengan pendidikan sekolah pada umumnya sebagaimana yang tertera pada bab II pasal 3 dalam UU Sisdiknas 2003, bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemauan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Home education menjadikan kecerdasan sebagai muara akhir tujuan utamanya. Kecerdasan tersebut bermakna luas dengan rincian; kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kemampuan membangun hubungan yang elegan dan harmonis antara seorang hamba dengan Sang Pencipta.

Sedangkan kecerdasan emosional (EQ) adalah sikap peka di dalam mengkaji rasa antar sesama selaku mahluk sosial. Sementara kecerdasan intelektual (IQ) adalah kemampuan berpikir dan menalar dalam rangka berkontribusi dalam pencaturan intelektual nasional maupun dunia.

Ketiga kecerdasan di atas perlu dijalankan secara proporsional dalam rangka menjadi pribadi yang taat beragama, memiliki rasa solidaritas dan loyalitas yang tinggi antar sesama, dan mampu bersaing dalam pencaturan intelektual dunia.

Dari sana dapat dipahami bahwa home education pada sejatinya merupakan pendidikan karakter yang tidak harus diformalkan sebagaimana lembaga-lembaga sekolah yang terikat oleh ruang dan waktu. Karena pada hakikatnya, pendidikan keluarga berwatak nonformal yang bebas dari deadline ruang dan waktu.

Dari sana juga dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa titik inti home education adalah bentuk pendidikan keluarga yang dilakukan sepanjang hayat sejak membuka mata sampai menutup mata dengan menjadikan perubahan sebagai tolak ukur sukses dan tidaknya proses pendidikan home education.

 Jika pendidikan di tanah air ini diawali dari pendidikan keluarga atau home education maka sudah tidak diragukan lagi jika sepuluh tahun ke depan Indonesia akan menjadi pemimpin bangsa-bangsa.