Mahasiswa
2 tahun lalu · 703 view · 6 menit baca · Pendidikan 58248.jpg

Pendidikan Keluarga

Pendidikan yang kita ketahui bukan hanya ada di Sekolah saja, namun penddidikan informal di rumah/masyarakat juga sangat penting, karena proses pembentukan karakter anak yang ingin terdidik dimulai dari keluarga. Saat di rahim sudah merasakan kehangatan ibunda dan suara lembut ayahanda, sampai lahir yang pertama dilihat wajah orangtuanya (ayah/bunda). First Moment manusia dilahirkan menjadi awal cerita proses Pendidikan dia di Dunia.

Pendidikan bukan hanya soal bagaimana kita memberikan pengetahuan/ilmu pengetahuan/Informasi kepada anak didik, namun soal akhlak serta karakter anak didik menjadi persoalan utama, pembentukan sikap, karakter dan akhlak juga pendidikan. Menurut Riwayat, Nabi Muhammad mendidik masyarakat arab juga dimulai dari akhlak.

Rasulullah SAW pun menyebut Muslim yang berakhlak mulia sebagai manusia terbaik. Beliau bersabda, "Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sekolah merupakan Lembaga Pendidikan yang mencetak generasi bangsa dari masa ke masa, proses pendidikan akhlak pun diajarkan di Sekolah, namun tidak cukup di sekolah, karena sudah dikatakan di awal bahwa keluarga mempunyai peran penting juga dalam mendidik, karena momentum pertama sekolah pun terasa disaat sang orangtua mengantar anaknya ke Sekolah, didalam konsep pemikiran sang anak selalu mengingat bahwa (ayah/bunda) mengajarkan untuk peduli, bahagia saat belajar dan lain sebagainya.

Keluarga adalah salah satu tempat proses pendidikan akhlak, karena awal masa hidup seorang manusia ditentukan juga diawal proses pendidikan di rumahnya, apakah orang tua mengajarkan akhlak yang baik atau tidak? Apakah orang tua selalu sibuk dengan pekerjaannya lalu sang anak dititipkan ke “bibi”? tidak terlalu menjadi persoalan jika sang pendidik mengajarkan sang anak di rumah berakhlak yang baik.

Pendidikan Karakter menjadi penting

Bangsa Kita (baca:Indoneisa) sedang krisis karakter atau sikap leluhur yang baik. Kita tahu bahwa sekarang sedang masuk di era Millenial, semua manusia lebih cenderung proses instan, memiliki rasa kepemilikan jika mempunyai kesamaan yang spesifik, informasi dalam beberapa detik bisa didapatkan namun daya nalar serta konfirmasi dari diri tidak hadir, maka banyak Hoax dimana-mana. Dari kekacauan kebenaran informasi yang masing-masing menklaim paling benar, lalu terjadilah konflik besar dan memecah persatuan bangsa.

Dari masalah tersebut salah satu solusi yang relevan adalah pendidikan karakter untuk bangsa ini, karena kalau kita runut ke pengalaman bangsa, Indonesian hanya bangga dengan juara olimpiade matematika, juara olimpiade Sains dan lain sebagainya, namun ketika melihat perpecahan karena intoleransi, Sumber Daya Alam yang habis di ekploitasi oleh asing, dan kurang memberikan rasa kepercayaan dan kejujuran terhadap sesama. Semua diam melihat realitas seperti itu.

Seperti Pendidikan karakter ala Romawi lebih menekankan pada pentingnya aspek keluarga dalam hal pemberian nilai karakter. Bentuk nyata dari pembentukan karakter itu dimulai dengan memberikan nilai moral seperti memberikan rasa hormat kepada tradisi leluhur kepada setiap generasi penerus.

Jika kita belajar dari Romawi, salah satu poin yang diambil adalah Keluarga harus memberikan nilai karakter, bentuk nyara moral, rasa hormat terhadap para leluhur, paling minimal memberikan nilai pancasila kepada anaknya.

Namun apa jadinya ketika anak dibawah umur sudah mengasuh bayi dan tidak tahu dimana bapakya, lalu sang ibu memberikan obat kepada anaknya, apakah ada nilai karakter bangsa. Jadi sudah saatnya pendidikan keluarga dijadikan aspek penting untuk pendidikan. Refleksi sedikit mengenai kebijakan mantan menteri Pendidikan, Bapak Anies Baswedan, yang menganjurkan orang tua untuk mengantarkan anaknya kesekolah, namun ada pro dan kontra atas kebijakan tersebut. Namun menurut saya itu salah satu cara membiasakan kita agar pendidikan keluarga itu menjadi penting.

Konsep Pendidikan Keluarga Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa alam keluarga merupakan suatu tempat sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual dan pendidikan sosial, sehingga dapat dikatakan bahwa keluargalah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya daripada pusat pendidikan lainnya untuk melangsungkan pendidikan kecerdasan budi pekerti (pembentukan watak individual) dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan. Pendidikan dalam keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. Akidah dan Akhlak

Akidah dan akhlak merupakan implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku, pendidikan dan pembinaan akhlak anak. Keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua.  Perilaku sopan santun orang tua dalam pergaulan dan hubungan antara ibu, bapak dan masyarakat.

2. Pembinaan Intelektual

Pembinaan intelektual dalam keluarga memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baik intelektual , spiritual maupun sosial.

3. Pembinaan Kepentingan dan Sosial

Dalam hal yang baik ini adanya kewajiban orang tua untuk menamkan pentingnya memberik support kepribadian yang baik bagi anak didik yang relative masihh muda dan belum mengenal pentingnya arti kehidupan berbuat baik, hal ini cocok dilakukan pada anak sejak dini agar terbiasa berperilaku sopan santun dalam bersosialisasi dengan sesamanya.

Di dalam keluarga, ada tiga bentuk pendidikan berlangsung. Pertama, pendidikan yang dilakukan oleh orang tua. Ia berperan sebagai guru (penuntun), pengajar, dan pemimpin pekerjaan (pemberi contoh). Ketiga peran tersebut, menyatu tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kedua, di dalam alam keluarga anak saling mendidik. Semakin keluarga itu besar, maka proses pendidikan semakin besar. 

Sebaliknya semakin kecil keluarga, maka proses pendidikan semakin kecil. Dalam konteks ini, nampaknya Ki Hajar Dewantara risau dengan adanya keluarga yang hanya memiliki anak tunggal. Bahkan ia secara tersirat merekomendasikan orang tua lebih dari dua. Ketiga, di dalam keluarga, anakanak berkesempatan mendidik dirinya sendiri, karena di dalam keluarga itu mereka tidak berbeda kedudukannya seperti orang hidup di dalam masyarakat. Beragam kejadian, sering kali memaksa anak-anak mendidik diri mereka sendiri.

Alam keluarga merupakan pendidikan permulaan bagi setiap individu karena disitulah pertama kalinya pendidikan diberikan oleh orang tua, yang kedudukan orang tua sebagai guru atau penuntut; orang tua sebagai pengajar dan orang tua sebagai pemberi contoh. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut:

1) Orang tua sebagai guru atau penuntun, pada umumnya kewajiban ayah dan ibu ini sudah berlaku sendiri sebagai adat atau tradisi. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin dalam mendidik. Bahkan tidak ada orang jahat yang bercita-cita anaknya nanti menjadi jahat. Karena pada dasarnya orang tua adalah makhluk pedagogis yang senantiasa melakukan usaha yang sebaik-baiknya untuk kemajuan anakanaknya.

2) Orang tua sebagai pengajar, dalam hal ini ada perbedaan antara kaum pengajar dengan ibu-ayah. Seorang pengajar mempunyai pengetahuan cukup untuk memberi pengajaran, ia sudah mendapat kecakapan dan kepandaian. Sedangkan ibu atau ayah ada juga yang cakap melakukan pengajaran, asalkan memiliki ilmu dan pikiran yang cukup. Tetapi, hasil dari pengajarannya tidak bisa sempurna. Karena tidak berdasarkan pada spesifikasi dan kompetensi sebagai pengajar. Untuk itu perlu adanya pendidikan formal yang dapat mengajarkan anak-anak sesuai dengan keahliannya. 

Ki Hajar Dewantara membedakan istilah pengajaran dan pendidikan dalam keluarga. Pengajaran harus dilakukan oleh kaum pengajar yang mendapat didikan khusus. Dalam hal pengajaran peran orang tua berperan sebagai penyokong peran yang dilakukan oleh pengajar. Tetapi dalam hal pendidikan dalam keluarga justru peran orang tualah yang dominan, sedangkan peran pengajar hanya sebagai penyokong apa yang dilakukan oleh orang tua.

3) Orang tua sebagai pemberi contoh, dalam hal ini, dapat dikatakan orang tua dan para pengajar kedudukannya sama. Bisa jadi para guru lebih baik dalam memberi contoh atau sebaliknya para orang tua lebih baik dalam memberi teladan. Perlu dipahami bahwa teladan adalah tenaga yang bermanfaat untuk pendidikan. Kewajiban keluargalah untuk bisa member keteladanan. Dengan begitu, jelaslah bahwa alam keluarga sesungguhnya bukan hanya sebagai pusat pendidikan individu semata, melainkan menjadi pusat pendidikan sosial secara simultan. Namun demikian, para orang tua sebaiknya tetap melaksanakan pendidikan dan pengajaran bersama-sama dengan guru dan pengajar.

Konsep Pendidikan Keluarga yang diberikan oleh Bapak Pendidikan kita sangat relevan dengan kedaan bangsa kita hari ini, apalagi dengan kondisi keluarga yang mayoritas masih mementingkan budaya leluhur, namun beberapa juga sebaliknya lebih mementingkan career, hal itu bias dicegah dengan konsep diatas. Semoga. 

Artikel Terkait