Indonesia kini telah menghadapi era industri baru di mana pelbagai sektor kehidupan mengalami digitalisasi. Para ahli menyebut era tersebut dengan revolusi industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 yang digadang-gadang sebagai era super komputer, robot, dan pengendali otomatis ini akan dimulai pada tahun 2020.

Revolusi industri juga memunculkan ekonomi berbasis teknologi atau yang lebih dikenal dengan ekonomi digital. Pada era ini, Indonesia memiliki potensi yang lebih baik dalam perkembangan ekonomi dibandingkan negara-negara lain.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? 

Indonesia merupakan empat negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta penduduk yang terdiri dari multikultural dan terbagi pada daerah kepulauan yang terpisah jarak, ruang dan waktu. Jumlah penduduk yang besar ini dan mayoritas penduduknya ada pada rentang usia 15-64 tahun, di mana usia tersebut disebut usia produktif (Indonesia-invesment, 2017).

Besarnya angka usia produktif ini dapat dikatakan sebagai bonus demografi. Secara sederhana, bonus demografi dapat diartikan sebagai peluang (window of oppurtunity) yang dinikmati suatu negara akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif. 

Bonus demografi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita. Struktur penduduk yang didominasi usia produktif berpotensi meningkatkan tabungan dan meminimalkan konsumsi.

Berdasarkan data Menteri Keuangan Sri Mulyani, sudah lebih 85 juta penduduk Indonesia menggunakan jaringan internet. Di sinilah Indonesia mempunyai peluang dalam e-commerce dan pengembang ekonomi digital (Detiknews, 3/2/2018).

Selain memiliki dampak positif, besarnya jumlah penduduk di usia produktif juga dapat membawa dampak negatif apabila SDM tersebut belum memiliki kualitas yang mumpuni. Dengan kemajuan teknologi yang makin cepat ini, muncul pula sikap budaya instan. Sehingga, masyarakat Indonesia bisa jadi hanya sebagai “penonton” dalam revolusi Industri 4.0.

Salah satu peribahasa inggris yang paling sering penulis sering baca di bagian bawah kolom buku tulis dan menjadi motto favorit para pelajar adalah “if theres a will theres a way” yang artinya di mana ada kemauan di situ ada jalan.

Indonesia bisa saja melakukan gebrakan dari yang awalnya hanya sebagai “penonton” menjadi “pemain” dalam revolusi industri manakala pembangunan manusia dilakukan melalui pendidikan karakter. Pengalaman adalah guru terbaik (experience is the best teacher), demikian salah satu peribahasa yang sering dilafalkan.

Belajar dari pengalaman negara-negara maju dengan memajukan pendidikan karakter bangsa, maka bangsa tersebut akan maju pula dalam hal ilmu pengetahuannya, budaya, dan teknologi.

Hasil penelitian McKinsey (2016) dalam Wardhana tahun 2017 menyebutkan bahwa setiap kompetitor dalam kompetisi global harus mempersiapkan mental dan kompetensi yang mempunyai keunggulan persaingan (competitive advantage) dari kompetitor lain.

Menurut Suwardana tahun 2017, langkah dalam mempersiapkan kemampuan yang paling mudah dijalankan adalah memiliki perilaku yang baik (behavioral attitude), menaikkan kompetensi diri, dan memiliki semangat literasi yang memadai. 

Sarana dalam mempersiapkan diri tersebut dapat dilalui dengan jalur pendidikan (long life education) dan konsep diri melalui pengalaman bekerja sama lintas generasi/lintas disiplin ilmu (experience is the best teacher).

Perubahan mentalitas masyarakat akan sangat dibutuhkan untuk memajukan bangsa Indonesia di tengah kompetisi global yang makin kompetitif. 

Mengubah pola pikir (mindset) masyarakat dan membentuk mentalitas yang kuat bukanlah hal yang terbilang mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Karena ini adalah persoalan kebiasaan yang telah menjelma menjadi budaya, maka perlu perubahan secara cepat dan bersifat menyeluruh dilakukannya pendidikan karakter.

Struktur mental manusia terbangun atas tiga hal. Pertama, cara berpikir (mindset); kedua, cara meyakini (transendental value); ketiga, cara bersikap (behavioral approach). Dari tiga tahapan inilah mentalitas baik terwujud dalam bentuk prilaku. Amanah pembangunan dan penguatan karakter mental.

Sebagai seorang mahasiswa Biologi yang akrab dengan alam, salah satu hukum yang sering saya dengar adalah hukum alam yang berbunyi: “Siapa yang bisa menyesuaikan dengan perubahan (berevolusi), maka dia akan hidup; sebaliknya, siapa yang tidak mampu menyesuaikan perubahan, maka akan tergilas/tersingkir.”

Sehingga dari berbagai pokok penyelesaian yang saya dapat dari berbagai sumber, dapat saya simpulkan, konsep pembangunan sebuah negara seharusnya ditujukan pada dua arah, yaitu pembangunan keluar yang artinya pembangunan kesejahteraan yang berupa infrastruktur serta pembangunan ke dalam yang artinya membangun sumber daya manusia yang ada.

Pendidikan karakter akan menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas dan unggul. Manusia-manusia yang unggul akan membawa Indonesia makin maju dan dapat menunjang pembangunan nasional. Ciri suatu bangsa yang unggul, antara lain: memiliki tujuan yang produktif, cepat dan kreatif, juga memiliki kesadaran sikap optimisme.

Makna pembentukan karakter merupakan refleksi sosiologis dalam kehidupan sosial yang harmonis, sedangkan refleksi revolusi industri terwujud dalam kemauan penerimaan untuk menyesuikan diri pada perkembangan ilmu dan teknologi.

Sumber

  • Mulyani, Sri. 2018. Bicara Era Digital: Akan Ada Pergeseran Jenis Tenaga Kerja. Detiknews tanggal 03 Februari 2018.
  • Suwardana, Hendra. 2017. Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Revolusi Mental. JATI UNIK. Vol.1: No.2 (Hal. 102-110).