Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “an”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara, dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak, istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan (Ramayulis, 1994:1).

Dalam perkembangannya, istilah pendidikan berarti bimbingan dan pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih baik dalam arti mental. Dengan demikian pendidikan berarti, segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan (Ramayulis, 1994:1).

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembalajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara ( UU. Sisdiknas, Bab I pasal 1 ayat 1).

Adapaun kata karakter (Inggris: character) secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu charassein yang berarti “to engrave” (Ryan and Bohlin, 1999: 5). Kata “to engrave” bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan (Echols dan Shadily, 1995: 214).

Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata “karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak. Karakter juga bisa berarti huruf, angka, ruang, simbul khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik (Pusat Bahasa Depdiknas, 2008: 682).

Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa orang yang berkarakter adalah orang yang berkepribadian, berwatak, bersifat dan berperilaku, yang mana pengertian tersebut dapat diidentikkan dengan akhlak. Adapun pengertian akhlak sendiri adalah sesuatu yang melekat dalam diri seseorang yang dari sana lahir watak, tabiat dan perilaku yang mencerminkan perangai dan kepribadian seseorang. Apakah seseorang itu ber-akhlakul mahmudah (akhlak terpuji) atau ber-akhlakul mazmumah (akhlak tercela).

Pendidikan karakter atau akhlak merupakan hal yang sangat esensial bagi seorang individu. Karakter atau akhlak sudah harus ditanamkan sejak sedini mungkin agar terbentuk pribadi dengan jati diri yang baik. Dalam hal ini, peran orang tua dan keluarga tentu sangatlah dibutuhkan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa secara kodrati orang tua lah yang bertanggungjawab dan berkewajiban menjadi pendidikan yang pertama dan yang utama.

Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua memiliki pengetahuan tentang pendidikan. Sekurang-kurangnya dapat menjadi panutan dan rambu-rambu bagi anak dalam bertingkah laku. Jangan sampai orang tua melalaikan tugasnya dan membiarkan anak-anak mereka terbiasa dengan perilaku dan sifat-sifat yang buruk yang nantinya akan merugikan.

Allah Swt. berfirman dalam Q. S. An-Nisa’ [4] ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا (النساء [٤]: ٩)

Artinya:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Maka, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q. S. An-Nisa' [4]: 9)

Ayat ini memberi pesan agar jangan sampai meninggalkan anak-anak yatim sebagai calon generasi muda berada dalam keadaan lemah baik dari segi fisik maupun mental. Ayat ini terutama diperuntukkan untuk orang-orang yang diberikan wasiat dan menjadi wali bagi anak yatim, terlebih yang masih kecil. Mereka harus mampu memelihara anak-anak yatim dengan baik, menjaga hartanya dan tentunya memberikan pembinaan dan keteladanan terkait perkataan dan perbuatan yang baik serta membiasakan berakhlak mulia.

Meskipun konteks ayat ini berkaitan dengan harta warisan, yang diharapkan dengan memperoleh harta bagian dari warisan kelangsungan hidup anak-anak terjaga dan tidak terlantar. Imam Nawawi mengingatkan bahwa yang dimaksud dzurriyatan dhi’âfan (keturunan yang lemah) yang perlu dicemaskan, yaitu jangan sampai meninggalkan keturunan/generasi yang lemah, dalam hal; ekonomi (menyebabkan kemiskinan), ilmu pengetahuan, keagamaan (pemahaman/penguasaan) dan akhlaknya.

Sedangkan Ibnu Katsir, menyatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada mereka yang menjadi wali anak-anak yatim, agar memperlakukan anak-anak yatim itu seperti perlakukan yang mereka harapkan kepada anak-anaknya yang lemah, bila kelak para wali itu meninggal dunia.

Bebeapa pakar tafsir, seperti at-Thabari dan ar-Razi memahami bahwa ayat ini ditujukan bagi orang-orang yang berada di sekeliling orang yang sakit atau diduga segera akan wafat. Sementara, Muhammad Sayyid Tanthawi berpendapat bahwa ayat tersebut ditujukan kepada semua pihak, siapapun mereka, karena semua diperintahkan untuk berlaku adil dan berucap yang benar dan tepat.

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwasannya pendidikan karakter atau akhlak memang sangat penting untuk dipupuk sejak dini. Pembinaan karakter akan sangat berpengaruh terhadap watak dan perangai individu. Oleh karena itu, orang tua dan keluarga diharapkan mampu memberikan pendidikan karakter atau akhlak yang tepat kepada anak-anak mereka agar terbentuk pribadi yang tangguh, religius, berjiwa sosial, kritis dan humanis.