Sudah waktunya pendidikan Islam mendapat tempat lebih dalam padatnya kurikulum. Mengingat krisis moral yang makin hari makin menjadi-jadi. Pendidikan Islam menjadi jawaban untuk penguatan karakter siswa sebagai bekal kehidupannya.

Fenomena hubungan negatif yang berkembang di masyarakat banyak mengubah konsep diri dan kepribadian seseorang. Hal tersebut tidak jauh dari globalisasi yang menerjang segala batas ruang dan waktu. Akses informasi dari berbagai penjuru dunia membawa berbagai pandangan dan pilihan bagi seseorang.

Akibatnya, terjadilah pengikisan jati diri dari lingkungan tempat ia berasal. Contoh nyata dari hal ini adalah seorang player game online yang gemar berkata-kata kasar. Padahal pada kebudayaan masyarakat Indonesia, berkata kasar adalah hal yang tabu. Namun di zaman sekarang sudah menjadi hal biasa untuk mengucapkan kata-kata kasar kepada siapa pun.

Pandangan seperti ini bisa jadi dari pendidikan, oleh pendidikan, kembali ke pendidikan. Di mana terdapat pergeseran tujuan pendidikan yang berkembang di masyarakat. Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk mendapatkan materi, kekayaan, kekuasaan. Maka substansi dari pendidikan itu sendiri dilupakan, yaitu proses mendidik.

Inilah asal mula terbentuknya masyarakat kapitalis dan liberal. Pendidikan ditujukan untuk mencapai tingkat kehidupan tertinggi di dunia. Pendidikan agama yang mempelajari tentang kehidupan yang tak terlihat dianggap kurang penting. Imbasnya terkena pada generasi penerus yang amoral.

Pendidikan semacam ini membentuk pribadi liberal. Pendidikan yang berorientasi pada skill tanpa attitude. Pendidikan yang diajarkan untuk menguasai bukan mengelola. Pendidikan yang membentuk orang-orang pintar namun tak bermoral.

Padahal tujuan pendidikan sejatinya telah dijelaskan dalam Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi: Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepadaku.

Kemudian pada Quran surat Al-Baqarah ayat 30: Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat; “Sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di bumi”.

Dari kedua ayat tersebut, dijelaskan bahwa tugas manusia ialah sebagai hamba Allah yang beribadah kepadaNya (abdullah) dan wakil Allah di bumi untuk menjaga dan memakmurkan bumi (khalifatullah). Maka tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan manusia sejati sebagai abdullah dan khalifatullah.

Abdullah diibaratkan sebagai hubungan vertikal dengan Allah atau sering disebut dengan istilah hablum minallah. Sedangkan khalifatullah ialah hubungan horizontal antara manusia dengan makhluk di bumi yang berupa manusia dan alam, disebut dengan istilah hablum minannas dan hablum minal alam.

Pendidikan yang sempurna ialah pendidikan yang mampu membentuk karakter abdullah dan khalifatullah pada peserta didik. Dengan itu, maka terbentuklah insan kamil atau manusia yang baik, yang seimbang antara ibadah dan sosial. Keseimbangan tersebut dapat difilosofikan sebuah tanda positif/plus (+).

Pendidikan yang mengajarkan tentang pemenuhan ukhrawi, ibadah kepada Allah, maka telah memenuhi garis vertikal. Sedangkan pendidikan yang hanya mementingkan duniawi, hubungan sosial sesama manusia, dan kepentingan manusia di bumi, maka telah memenuhi garis horizontal. Pendidikan yang hanya memenuhi garis horizontal tanpa diimbangi vertikal, jatuhnya ialah negatif (-).

Saat seseorang memahami arti penting dari abdullah, hamba yang mengabdi pada Allah, maka tercipta ihsan (merasa selalu diawasi Allah) dalam hatinya. Senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan Allah.

Saat seseorang memahami arti penting khalifatullah, ia tidak akan membuat kerusakan di bumi. Ia akan melaksanakan tanggung jawabnya sebagaimana Allah memberinya petunjuk. Maka dari sinilah tercipta insan kamil, manusia yang selalu membawa kebaikan dan manfaat dimanapun ia berpijak di bumi.

Pendidikan karakter yang demikian dapat menjadi benteng dan pondasi moral bagi generasi bangsa menghadapi tantangan globalisasi. Islam adalah agama rahmatan lil alamin, tidak akan termakan oleh waktu. Pendidikan karakter yang bersumber dari nilai-nilai islam dibutuhkan demi menghadapi pandangan hidup yang memunculkan hubungan negatif.

Dengan demikian, pandangan pendidikan Islam perlu ditegakkan demi menata ulang pola pikir masyarakat yang salah kaprah. Adanya pemisahan pendidikan sejak abad pertengahan membuat jurang antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Klimaksnya dirasakan pada generasi masa kini, ditandai dengan parahnya krisis moral saat globalisasi menyerang.

Tidak boleh tidak, pendidikan karakter berbasis hikmah perlu ditanamkan pada seluruh mata pelajaran yang ada. Harus mulai dilaksanakan integrasi pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan agama memiliki peran sentral, yakni permainan filosofi hidup berdasarkan cara pandang agama.

Tidak hanya Islam, namun seluruh agama tentu mengandung nilai kebaikan. Hanya saja, pandangan sekularisme tidak sengaja telah memasuki tatanan hidup masyarakat beragama di Indonesia. Akibatnya, banyak warga negara yang agamanya sebatas KTP saja.

Inovasi bottom-up lebih menjanjikan dalam upaya integrasi pendidikan. Seorang pendidik merupakan pemegang kuasa akan perkembangan pemikiran siswa. Ditanamkan nilai karakter lewat hikmah keagamaan menjadi langkah pertama menata ulang moral generasi penerus bangsa.

Guru dari segala mata pelajaran memberikan hikmah-hikmah bersifat keagamaan dan pendidikan karakter. Sebagai contoh dalam pelajaran sosiologi tentang komunikasi, pendidikan menambahkan cerita bahwa Allah menyukai orang-orang yang berkata baik dan menepati janji, serta melaknat orang-orang yang berkata bohong.

Apabila tumbuh emosi dalam penanaman karakter ini, dapat menjadikan siswa terhindar dari menyebarkan hoaks, menggosipkan teman, atau menjaga agar tidak berkata kasar.

Sebagaimana Allah mengutus Rasul-Nya untuk membacakan kitab-Nya, mengajarkan hikmah, kemudian menyucikan umat, serta mengajarkan hal-hal yang belum dipahami. Tujuan utamanya, menemukan jalan kembali menuju Allah. Mengingat Allah, syukur akan nikmat-Nya, dan mendapatkan kebahagiaan sejati yang lebih dari sekedar materi.

Indonesia memiliki banyak warga negara yang cerdas, terampil, berpendidikan tinggi. Namun semua itu tidaklah bermanfaat apabila tidak diimbangi dengan moral perilaku terpuji. Munculnya koruptor dari kalangan atas adalah bukti yang terlihat sangat jelas

Maka dari itu, untuk mencegah kerusakan yang lebih jauh, perlu ditegakkan kembali prinsip-prinsip agama dalam pendidikan. Demi membentuk karakter bangsa. Demi menyejahterakan kehidupan bangsa.