Pendidikan merupakan upaya bagi seseorang untuk berkembang. Perkembangan seseorang tersebut dapat ditinjau dari segala aspek, seperti olah tubuh, olah pemikiran, maupun olah mental. Dengan adanya perkembangan tersebut, orang-orang dapat beradaptasi dan memajukan lingkungan di sekitarnya.

Pendidikan merupakan pilar penting bagi majunya sebuah bangsa. Tanpa adanya pendidikan, sebuah bangsa akan mengalami kemunduran secara keseluruhan. Pendidikan memiliki peranan penting untuk membangun mental, pemikiran, kebiasaan, dan kemajuan bangsa. 

Untuk membangun bangsa yang  baik, diperlukan pendidikan yang baik pula.

Pada era globalisasi ini, sudah tidak ada batasan yang pasti mengenai akses ke dunia luar. Tidak ada jaminan pasti mengenai pengaruh mana yang lebih dominan masuk ke dalam diri seseorang. Tidak ada juga kepastian bahwa seseorang bisa membedakan mana pengaruh yang positif dan mana juga pengaruh yang negatif.

Kemerosotan mental merupakan hal yang sering ditemui pada era ini. Bila hal ini dibiarkan saja, bangsa ini akan mengalami kesulitan untuk memperbaiki dirinya.

Contoh dari penurunan kualitas mental yang ringan, seperti berkata kotor, sikap individualis, dan kurangnya sopan santun sudah melekat di era ini.

Memudarnya kebiasaan baik juga merupakan salah satu contoh. Pada zaman ini, mereka yang menerapkan kebiasaan baik di dalam kehidupannya justru dianggap sebagai orang yang “kolot” dan ketinggalan jaman. Kebiasaan baik seperti memberi salam dianggap sebagai hal yang tidak diperlukan. “Terima kasih” akan perbuatan baik seseorang pun juga semakin berkurang.

Hal inilah yang meredupkan semangat seseorang untuk berbuat dan menerapkan kebiasaan baik. Perbuatan baik yang tulus ikhlas sudah jarang ditemukan. Banyak masyarakat yang memiliki konsep untuk berbuat baik jika ada keuntungan yang akan didapat.

Melunturnya kebiasaan baik ini dianggap remeh oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh pandangan masyarakat modern yang lebih individualis. Sikap baik tidak lagi diperlukan dan kepentingan diri sendirilah yang lebih diutamakan.

Tentu saja pemikiran tersebut tidak benar. Justru sikap dan perilaku yang baiklah yang memiliki peranan besar dalam majunya sebuah bangsa.

Meskipun begitu, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan pihak-pihak yang melakukan dan memikirkan hal-hal tersebut. Ketidaktahuan mereka akan segala yang benar dan salah beserta risikonya merupakan salah satu alasan di balik tindakan mereka. Kebiasaan yang diajarkan dalam kehidupan sehari-harilah yang bisa mengurangi tindakan-tindakan tersebut di masa depan.

Oleh karena itu, pendidikan karakter dibutuhkan untuk memperbaiki mental sebuah bangsa.

Kendati kata “pendidikan” erat kaitannya dengan pengajaran akademik, pendidikan karakter tidak kalah penting dengan pendidikan akademik. Kedua ilmu ini diperlukan secara beriringan untuk membentuk masa depan yang baik bagi seseorang.

Pendidikan akademik diperlukan untuk membentuk pemikiran yang sistematis serta pengetahuan yang luas untuk beradaptasi di lingkungan. Sementara pendidikan karakter diperlukan untuk membentuk mental seseorang menjadi lebih berkualitas.

Dengan kedua jenis pendidikan ini, generasi penerus diharapkan dapat memajukan sebuah bangsa menjadi lebih baik. Pendidikan karakter dapat memperbaiki kebiasaan buruk yang telah menjadi sebuah hal normal di masyarakat. Dengan adanya pendidikan karakter, generasi penerus bangsa dapat dibentuk menjadi sosok-sosok yang bisa dijadikan tolok ukur dalam bersikap.

Pendidikan karakter memberikan kebiasaan-kebiasaan yang baik pada pengajar dan yang diajar. Sehingga hal ini tidak hanya berfungsi untuk membentuk para generasi penerus, namun juga dapat memperbaiki kebiasaan buruk para pengajar.

Dengan harapan tersebut, pendidikan karakter dapat dianggap sebagai hal yang penting bagi perbaikan bangsa.

Pendidikan karakter dapat menanamkan kebiasaan yang baik. Kebiasaan yang ditanamkan dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti kebiasaan berkata sopan dan kebiasaan memberi salam. Dari kebiasaan-kebiasaan tersebut, dapat diteruskan dengan hal yang lebih besar seperti kemauan untuk membantu orang lain.

Pendidikan ini juga dapat menghentikan pengaruh negatif yang sudah beredar. Dengan pemikiran dasar yang terus ditanamkan bahwa sesuatu tidak boleh dilakukan, maka seseorang akan terbiasa menganggap bahwa hal yang dilarang adalah hal yang tabu dan harus dihindari.

Seperti contoh bila seseorang secara terus menerus diberi larangan mengenai pornografi, maka orang tersebut akan secara naluriah menganggap bahwa pornografi merupakan hal yang dilarang dan tidak boleh disentuh olehnya.

Dengan pendidikan karakter yang mulai diberikan kepada siswa, pengajar juga dituntut untuk memiliki sikap yang baik pula. Seperti peribahasa, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” kebanyakan dari siswa akan meniru segala tingkah laku dan kebiasaan yang dimiliki oleh pengajar.

Sehingga seorang pengajar diharapkan akan memberikan contoh yang baik dan mengurangi contoh yang buruk ketika sedang berhadapan dengan murid-muridnya

Pendidikan karakter bukanlah sebuah hal yang kaku yang hanya dapat diberikan di lembaga pendidikan formal. Pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan yang dimulai dari rumah.

Ungkapan, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” merupakan hal yang perlu diberi perhatian khusus. Baik secara disadari atau tidak, sifat dan kebiasaan dari orang-orang di dalam rumahlah yang membentuk karakter dasar anak. Peran orang tua untuk memberi pendidikan karakter yang layak juga dibutuhkan.

Namun, tentunya, peran seorang guru juga tidak kalah pentingnya. Kerja sama dari kedua pihak inilah yang dapat menyukseskan pendidikan karakter bagi anak dan diharapkan seorang anak akan terhindar dari pengaruh negatif era globalisasi.

Perlu disadari juga bahwa pembentukan karakter yang kuat merupakan hal yang tidak mudah, berkesinambungan, dan pada saat yang sama, sangat rapuh.

Pendidikan karakter yang tidak cukup kuat akan kalah dengan pengaruh negatif yang mana akan semakin kuat ketika seseorang beranjak dewasa. Demikian pula dengan pendidikan karakter yang terputus di tengah jalan, akan menghasilkan karakter seseorang yang tidak lengkap.

Dengan adanya berbagai pengaruh negatif, pendidikan karakter tanpa pengawasan yang layak juga akan menjadi hal yang sia-sia karena tidak ada jaminan akan kejujuran seseorang.

Meskipun begitu, para pengajar dan orang tua sudah selayaknya tidak menyerah dalam membentuk generasi penerus mereka.

Kesadaran akan hal yang baik dan benar bukanlah sesuatu yang secara otomatis didapatkan. Tidak akan ada kesadaran di dalam diri seseorang bila mereka tidak diberi pengertian yang benar.

Generasi penerus yang telah diberi pendidikan akademis dan karakter yang layaklah, merupakan para generasi yang diharapkan patut untuk memimpin negeri ini.

Tanpa adanya pendidikan karakter yang layak, degradasi bangsa merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan hal yang layak diperjuangkan, baik di dalam lingkungan pendidikan formal, maupun di lingkungan rumah.

Diharapkan dengan adanya pendidikan karakter dan akademis yang baik bagi generasi muda bangsa ini, dapat membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan dapat dihargai oleh negara-negara lain.