Membicarakan pendidikan merupakan salah satu topik yang sangat menarik. Begitu pun dengan pendidikan yang berlatarbelakang pendidikan Islam. Diskusi mengenai pendidikan selalu berorientasi kepada bagaimana mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan yang baik.

Pendidikan yang bukan hanya memberikan mengisi perkembangan otak anak, melainkan mengembangkan dan memberikan nilai kepada seluruh aspek kehidupan terhadap peserta didik. Selain itu membicarakan pendidikan juga, akan mengantarkan kepada kita, berbagai gagasan dalam pengembangannya.

Beberapa pengamat pendidikan seperti Emilda Sulasmi menitikberatkan kepada menjadikan pendidikan sebagai subjek yang di dalamnya terdapat manusia yang perlu di didik. Sehingga pada dasarnya dalam pendidikan, bukan hanya menjadikan anak didik sebagai objek pendidikan, melainkan juga menjadikan sebagai subjek agar terjadi keserasian dalam memahami proses mendidik.

Dalam perkembangannya, pendidikan Islam yang terjadi saat ini masih menunjukkan kekakuan dalam proses pembelajaran (mendidik). Kekakuan itu, diakibatkan kurangnya pemahaman pendidik terhadap dinamika yang terjadi dalam dunia pendidikan, terkhusus dalam pembelajaran.

Ada dua kecenderungan yang dialami oleh pendidik sehingga tidak memahami bagaimana peran pendidikan bekerja. Yang pertama adalah, pendidik yang merasa bahwa ia hanya memiliki otoritas dalam proses pembelajaran, seorang gurulah yang memahami semua apa yang diajarkan.

Akibatnya terjadi pendidikan ala Bank, seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire yang seorang anak diibaratkan sebagai nasabah yang selalu mendengarkan arahan dari teller bank itu sendiri. 

Kecenderungan kedua, pendidik tidak menghadirkan pendidikan nilai dalam artian bahwa pendidikan tidak memperhatikan psikologi peserta didik, karakteristik peserta didik, tingkah laku dan sebagainya.

Peran penting pendidik (guru) ini sudah banyak di bicarakan oleh para tokoh pendidikan Islam. Termasuk seperti Ki Hajar Dewantara, Ahmad Dahlan, Para ulama yang konsen pada pendidikan dan sebagainya. Pemberian penekanan terhadap pendidik agar benar-benar memperhatikan keadaan ini, karena menunjukkan perannya yang begitu penting.

Ki Hajar Dewantara telah memberikan konsep bagaimana seharusnya pendidik belaku. Sebagaimana juga yang dikatakan oleh Paulo Freire bahwa pendidik memiliki tugas yang sangat penting, bukan hanya mentransfer ilmu melainkan memberikan kesadaran kepada peserta didik untuk dapat memahami keadaan dirinya dan keadaan pada masyarakat sekitarnya.

Pada pengertian tersebut, pendidik memiliki tugas untuk menjadi peserta didik manusia yang holistic, manusia yang mampu menyadari fitrahnya sebagai manusia yang tidak boleh tergadaikan oleh apa pun. Maka dasarnya, pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berfokus kepada perubahan menuju manusia yang ideal (insal kamil).

Adapun tujuan pendidikan Islam sesungguhnya banyak mengarahkan kepada pembinaan manusiannya agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah, berbudi pekerti luhur dan menjalankan perintah Allah dengan menumbuhkan rasa kemanusiaan kepada sesama yang mengalami penindasan ataupun termarjinalkan.

Manusia ideal yang dimaksud dalam pendidikan Islam ialah peserta didik (manusia) yang memiliki kesadaran atas hakikat ia diciptakan dan apa tugas dan kewajibannya selama berada di dunia ini. Kesadaran itulah yang akan membawa pendidikan Islam menjadi pendidikan yang humanis. Pendidikan yang sejatinya memanusiakan (humanizing) manusia.

Pendidikan Islam Humanis

Perkembangan teknologi yang semakin canggih, memberikan dampak buruk kepada peserta didik jika tidak di berikan control atas penggunaan teknologi yang berlebihan. Kita menyadari bahwa, saat ini manusia hamper tidak bisa lagi menjauh dari namanya teknologi.

Bahkan menurut Emilda Sulasmi teknologi yang di buat oleh manusia, sejatinya manusialah yang mengontrol teknologi tersebut. Namun pada realitasnya bukan lagi manusia yang mengontrol teknologi, melainkan sudah teknologi ciptaan manusia yang menguasai penciptanya.

Akhirnya ada nilai yang hilang dari bergesernya manusia dari homo sapiens menjadi homo digitalis. Dampak tersebut bukan hanya menggeser perilaku manusia, melainkan juga menggeser cara pikir manusianya. Sehingga peran pendidik di sini justru juga harus bergeser kepada bagaimana menanamkan nilai moralitas kemanusiaan kepada peserta didik.

Sebab pada realitasnya, walaupun teknologi mempunya segalanya, namun satu hal yang tidak bisa diajarkan oleh teknologi yaitu moralitas. Tugas pendidik dalam pendidikan Islam ialah bagaimana pendidik mengubah peserta didik menjadi manusia yang baik dan menyadari perannya sebagai manusia.

Hal demikianlah yang membuat Kuntowijoyo menginginkan agar Islam menjadi ilmu pengetahuan, sehingga pendidikan Islam mampu memberikan kesadaran ilahi bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara dan akhirat adalah kehidupan yang abadi.

Setidaknya ada beberapa konsep yang menjelaskan pentingnya pendidikan Islam menjadi pendidikan yang humanis di era saat ini. konsep tersebut cenderung memberikan pandangan kepada manusia secara umum.

Pertama ialah, manusia sebagai hamba (abdullah) ialah manusia memiliki tugas yang diemban secara individu. Manusia bukan hanya belajar mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya sampai ke negeri China. Ilmu pengetahuan tersebut akan menjadi sia-sia apabila ilmu pengetahuan yang dimiliki tidak dijadikan sebagai alat untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada orang-orang yang membutuhkan.

Tugas sebagai hamba dalam pendidikan Islam memastikan pendidik melaksanakan tugas mendidik dan peserta didik memastikan menggali pengetahuan agar keduanya mampu dimanifestasikan pada kehidupan bermasyarakat.

Kedua ialah sebagai khalifah fil ard. Sebagai khalifah manusia dalam instansi pendidikan Islam menjalankan tugasnya untuk memastikan ilmu pengetahuan yang diajarkan bukan menjadi alat untuk merusak bumi ataupun membuat kerusakan.

Manusia yang sudah terdidik harus memiliki kesadaran kolektif untuk Bersama-sama menjaga Amanah untuk memakmurkan bumi dengan ilmu pengetahuan Islam. Maka dari itu, pada dasarnya pendidikan Islam yang humanis ialah pendidikan yang mengarahkan dan mengamalkan manusia kepada kehidupan yang baik dan juga mengangkat derajat nilai kemanusiaan.

Karena merendahkan manusia lainnya dengan membedakan kualitas pendidikan ialah kesalahan yang besar. Karenanya Allah tidak melihat sebanyak apa pangkat, pengetahuanmu, kekayaanmu, melainkan Allah melihat hambanya dari kualitas taqwanya kepada sang pencipta.