Segala sesuatu dari yang ter-abstrak macam ideologi hingga yang ter-material macam pakaian tanpa henti dengan terpaksa maupun sukarela diimpor dari dunia tempat di mana segalanya berbanding terbalik dengan dunia Islam, yaitu barat. Dalam tulisan ini, yang menjadi titik fokus penulis adalah di lahan pendidikan.

Kita tahu benar di era pra-Renaissance masyarakat menengah ke bawah di Eropa terpasung oleh supremasi kongkalikong gereja dengan penguasa. Hasilnya, penguasa mendapat legitimasi kuat dari gereja kolot yang begitu ditaati oleh masyarakat kala itu dan gereja pun mendapat suntikan materi yang tak sedikit dari penguasa.

Dapat dilihat di sini bahwa agama bagi Eropa dulu bukanlah sarana pembebasan, lalu pertentangan antarkelas ini melahirkan beberapa tokoh yang nantinya menjadi cikal bakal menyalanya era Renaissance yang gemilang macam keluarga Medici, Leonardo da Vinci, Michelangelo dan lainnya. Dengan konsekuensi dicerabutnya akar-akar agama yang sedari dulu mencengkram lahan kehidupan Eropa, menyerap habis sari-sari kreativitas dan rasionalitas manusianya.

Pelita Renaissance terus dipompa dengan bahan bakar filsafat Yunani, melahirkan berbagai mahakarya seni, teori-teori monumental dan penemuan-penemuan penting. Dengan ini, Eropa telah jadi pelita dunia, dan agama tak berandil barang secuilpun, hingga saat ini.

Hingga kini pendidikan barat tak berkurang benderanngnya, bahkan terlalu menyilaukan mata, termasuk mata pendidikan Islam, yang bagai terhipnotis karena seakan pendidikan barat itu berbisik, “Kau akan berhasil macam kami jika kau ikuti langkah-langkah kami. Jangan lewatkan barang sekecilpun.”

Sehingga hasilnya kini dapat kita lihat, betapa mudahnya buku-buku barat ditemukan di perpustakaan perguruan tinggi Islam dan makin lapuknya buku-buku karya para pendahulu kita sendiri, dilahap rayap peradaban, yang, barangkali karena mulai malasnya pemikir dunia Islam untuk berpikir karena dalam bayangan seperti segalanya sudah dipikirkan oleh pendidikan barat.

Konsekuensi lanjutan dari disadurnya pendidikan barat oleh pendidikan Islam telah membuat dia (pendidikan Islam) tak dapat berkembang. Karena bagaimana dapat berkembang jika dia hidupi oleh bahan bakar yang tak sesuai dengan mesinnya? 

Eropa berkembang dengan Filsafat Yunaninya karena agama Kristen pada masa dulu hanya menjadi cairan asam merusaki mesin peradaban Eropa. Tapi bukankah pada masa dulu pendidikan Islam berhasil dengan bahan bakar dari agamanya sendiri? Itulah yang jadi distingsi.

Maka yang dikatakan oleh pemikir Islam kontemporer, yaitu Ismail Raji al-Farouqi, bahwa pendidikan Islam hanyalah karikatur pendidikan barat adalah benar adanya. Karikatur hanya sketsa lucu dari hal yang dikarikaturkan, maka takkan mungkin karikatur itu menyamai atau bahkan bersaing dengan yang dikarikaturkan itu. Jangan mimpi.

Baca Juga: Peradaban Barat

Pendidikan Eropa pada masa dulu menurut hemat penulis berjuang di medan perang yang lebih mudah lantaran musuh jelas terlihat yaitu supremasi agama dan penguasa yang belit-membelit. Namun pendidikan Islam masa kini menghadapi pertarungan yang lebih sukar karena sang musuh tak memasung, namun memberi berbagai kemudahan nan memanjakan. Memangnya siapa yang mau lepas dari hal yang memanjakan? Bukankah setiap orang mencarinya?

Namun kita semestinya dapat disadarkan oleh apa yang dikatakan Gus Dur dalam sebuah artikelnya bahwa muslim menjadi beban sejarah karena tak mampu berpikir tentang arah masa depannya sendiri, dan menurut hemat penulis membuatnya mudah untuk dijadikan lahan konsumen bagi apapun prodak keluaran mereka yang meng-hegemoni.

Mungkinkah kita mengharapkan Renaissance di dunia pendidikan Islam? Tanpa pasungan yang benar-benar bisa terlihat seperti halnya yang terjadi di Eropa di mana penduduk Eropa yang benar-benar dipasung oleh supremasi agama dan kekuasaan. Renaissance dapat disamakan dengan revolusi, dan bukankah revolusi yang terjadi selama ini selalu dipicu oleh buruknya keadaan ekonomi, keamanan dan kesejahteraan?

Melihat paparan di atas, bukankah memang sulit rintangan-halus-runcing-memanjakan yang belit-membelit pendidikan Islam? Dan jika memang pendidikan islam sudah sadar, siapkah menyediakan dana yang berkali lipat besarnya dari yang dahulu? Sebab untuk mengembangkan dunia ilmu pengetahuan dan dapat memberi sumbangan kepadanya butuh biaya yang tak sedikit, belum lagi faktor eksternal yang tak ingin pendidikan islam berkembang.

Sebagai penutup, ada hadist Nabi Muhammad yang bersabda kurang lebih bahwa Nabi memerintah umatnya bahwa dia akan membanggkan umatnya di hari kiamat? Pertanyaannya, karena apa Nabi membanggakan umatnya? Karena kuantitas? Atau karena alasan yang lebih rasional yaitu kualitas?