Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia untuk mencapai cita-cita menjadi negara maju adalah membangun sumber daya manusia. Melalui program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), pemerintah berharap keterbatasan pendapatan tidak menutup akses penduduk untuk mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai.

Kebijakan di bidang pendidikan diharapkan dapat mengurangi jumlah penduduk yang buta ilmu pengetahuan. Namun demikian, mestinya tidak hanya dari sisi kuantitas, pemerintah juga perlu memberi tekanan pada aspek kualitas, terutama jika dikaitkan dengan tantangan kehidupan saat ini dan masa yang akan datang, yaitu era digital dan Revolusi Industri 4.0.

Ciri utama Revolusi Industri 4.0 adalah makin berperannya teknologi dalam setiap jengkal kehidupan manusia. Banyak pekerjaan, terutama yang bersifat keterampilan berulang, digantikan mesin. 

Hal yang sudah terjadi di negara-negara maju, dan sebuah keniscayaan di Indonesia dalam waktu tak lama lagi. Pada era itu, jenis pekerjaan yang masih ‘tersisa’ untuk tenaga kerja manusia adalah yang mengandalkan daya pikir kritis, dan kreatif.

Sayangnya cara pembelajaran di (sebagian besar) sekolah-sekolah Indonesia umumnya masih menitikberatkan pada pengembangan ranah kognitif dengan pendekatan menghafal. Situasi yang justru membunuh daya kritis dan kreativitas. 

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dari pucuk pimpinan pemerintahan di sektor pendidikan sampai pelaksana pendidikan di lapangan (baca: guru-guru sekolah) tentang perlunya merombak cara pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia.

Kebiasaan Bertanya dan Bersikap Kritis

Belajar dengan cara menghafal, drilling pada peserta didik selalu bertumpu pada semboyan ‘pokoknya’, pembelajaran yang bersifat dogmatis, yang menutup kemungkinan pertanyaan dari si pembelajar (baca: murid dan mahasiswa). Padahal daya kritis perlu diasah dengan kebiasaan ‘selalu bertanya’. 

Jika kesempatan mempertanyakan materi belajar sudah ditutup dengan semboyan ‘pokoknya’, lewat cara belajar menghafal, maka kebiasaan bertanya menjadi hilang.

Jika peserta didik tak lagi gemar bertanya, jangan harapkan mereka akan menjadi manusia kritis ketika mereka lulus. Nilai bagus di mata pelajaran, bagi si penghafal ini, merupakan cerminan bahwa mereka telah sukses sebagai penurut. Tak lebih seperti robot. Maka, jangan berharap ide-ide kreatif akan lahir dari mereka.

Salah satu ciri kehidupan di era digital adalah berlimpahnya informasi. Lewat smartphone, semua informasi dapat dicari dari genggaman tangan, dalam waktu sekejap. Masalahnya adalah, tidak semua informasi tersebut benar, banyak pula yang termasuk hoax. Bahkan ada pihak-pihak yang sengaja menggunakan hoax demi tujuan keuntungan pribadi atau kelompoknya.

Dengan membanjirnya informasi, baik yang benar mapun yang hoax, maka bekal yang harus diberikan pada peserta didik adalah kemampuan memilah antara informasi yang benar dan yang hoax

Apa yang bisa diharapkan dari peserta didik yang terbiasa menurut, menerima saja semua materi belajar, tidak pernah (dan tidak dibiasakan) mempertanyakannya, dan kemudian (hanya sekedar) menghafalnya untuk mendapatkan nilai bagus? Termakan hoax

Tak perlu heran jika kita menemukan si A yang dulu terkenal pintar waktu sekolah, ketika dewasa dan tua tidak tersisa jejak kecerdasannya, karena begitu mudah percaya hoax

Dengan rekam jejak kesuksesan di bidang akademis di masa lalu, mereka menjadi lebih sulit ‘disadarkan’, bersikap sangat militan, cenderung keras kepala. Lihat sekeliling kita, begitu mudah menemukan orang seperti ini!

Mengasah Rasa

Salah satu sisi manusia yang tak tergantikan oleh mesin adalah ‘rasa’. Sikap memuliakan kehidupan, peduli terhadap sesama dan alam, adalah faktor yang sangat penting untuk menjalani kehidupan sosial yang tenteram, dan damai. Itu semua hanya dapat diasah lewat rasa, berlatih bersikap afektif.

Dari sisi kebijakan, pemerintah sebenarnya telah mengakui perlunya mengembangkan aspek ‘rasa’ peserta didik, tetapi pelaksanaan di lapangan tidak mendorong internalisasi nilai-nilai keluhuran budi tersebut.

Keberhasilan pembelajaran aspek rasa hanya dapat dilihat dari tindakan peserta didik. Meskipun di banyak sekolah tidak ada lagi sistem peringkat (ranking), tetapi sampai saat ini penghargaan hanya diberikan kepada siswa yang berprestasi dari sisi kognitif. Nilai UN tertinggi, nilai Matematika tertinggi, nilai IPA tertinggi, dan seterusnya.

Saya belum mendengar ada penghargaan pada siswa yang dianggap: memiliki sifat suka menolong (most helpful), paling antusias belajar, paling perhatian pada kebersihan sekolahnya, dan masih banyak lagi kategori yang dapat dicari, yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan universal. Pengakuan terhadap nilai-nilai luhur budi pekerti akan mengirimkan pesan pada siswa bahwa budi pekerti sama pentingnya dengan nilai akademik.

Aspek rasa juga harus dikaitkan dengan budaya nusantara. Betul bahwa kini murid-murid belajar tentang kebudayaan lokal di sekolah mereka, tetapi mengapa harus dengan cara menghafal materi (lagi)! Nyanyikan lagu-lagu daerah, mainkan alat-alat musik daerah, ajak belajar tarian-tarian tradisional, ajak mengenal keluhuran budaya Nusantara dengan berkunjung dan belajar ke museum dan tempat-tempat peninggalan sejarah. Kegiatan-kegiatan itu akan memupuk rasa kecintaan pada tanah airnya, menumbuhkan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia, bukan yang lain.

Melatih Kesadaran

Teknologi ibarat pisau bermata dua, berpengaruh positif dan negatif. Era digital selain meningkatkan efisiensi, juga membuat pemakainya sering berada dalam kondisi ‘tidak sadar’. 

Tidak sulit menunjukkan buktinya. Berapa orang yang hampir sepanjang waktunya melekat pada gawai mereka, bukan untuk bekerja, tetapi melakukan hal-hal yang kurang berguna (anda bisa membuat daftarnya sendiri), sehingga lupa dengan keadaan sekeliling mereka, lepas dari kenyataan di sekitarnya?

Jika hal ini menjadi kebiasaan, mereka tidak terlatih menghadapi kenyataan hidup, yang sering jauh dari bayangan yang mereka dapatkan dari dunia maya. Untuk mengimbanginya, sekolah perlu juga mengajarkan latihan menjaga kesadaran (mindfulness), agar terbentuk manusia Indonesia yang senantiasa waspada.

Tak sulit menemukan referensi tentang apa dan bagaimana berlatih kesadaran. Bahkan jika kita cermat, beberapa di antaranya justru berakar pada kebudayaan timur (termasuk Indonesia), dan (ironisnya) sekarang makin populer dikaji secara ilmiah dan diajarkan di lembaga pendidikan negara-negara barat.

Penutup

Untuk bekal hidup di era digial dan menghadapi Revolusi Industri 4.0, pendidikan harus bertujuan mencetak manusia Indonesia paripurna, yang kritis, kreatif, senantiasa waspada, dan berbudi luhur.

Mengembangkan ranah kognitif peserta didik, apalagi dengan pendekatan menghafal, sangat tidak memadai untuk mencapai tujuan tersebut, bahkan justru bertentangan. Alih-alih kritis dan kreatif, manusia ‘penurut’ biasanya juga mudah dipengaruhi, karena tidak memiliki kemampuan secara mandiri untuk menemukan hal-hal yang mereka yakini.

Untuk menyiapkan lulusan yang kritis dan kreatif, pupuk terus sikap ingin tahu siswa dengan memberi ruang dan kesempatan pada mereka untuk selalu mempertanyakan materi belajarnya, hindari pendekatan dogmatis bersemboyankan ‘pokoknya’.

Selain itu, tumbuhkan nilai-nilai luhur budi pekerti yang sifatnya universal dan cinta tanah air dengan memberikan penghargaan dan melakukan kegiatan-kegiatan yang jauh dari ‘menghafal’. Ini akan membuat bersemainya nilai-nilai budi pekerti luhur dalam jiwa mereka. 

Berlatih kesadaran (mindfulness) perlu pula dilatih agar senantiasa waspada dalam hidupnya. Bekal yang bukan hanya diperlukan untuk bertahan hidup secara individual, tetapi juga untuk kelestarian negara Indonesia; bukan hanya demi kejayaan Nusantara, tetapi juga keutuhan Indonesia.