Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur dalam keberhasilan suatu negara dalam mengelola tata negaranya. Dengan menjadi tolak ukur ini maka negara akan berbondong-bondong menciptakan pendidikan terbaik di dalam negaranya sendiri.

Pendidikan sendiri mempunyai tujuan agar terciptanya humanisasi, yang di mana dengan pendidikan nantinya masyarakat bisa melakukan pemberdayaan untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Dengan tujuan tersebut memang menjadi penting bagaimana seseorang untuk memperoleh pendidikan yang baik.

Pendidikan-pendidikan baru selalu bermunculan dengan tujuan humanisasi ataupun dehumanisasi. Pendidikan yang bertujuan humanisasi akan selalu mengembangkan nalar berfikir terhadap kondisi sosial, sedangkan pendidikan yang bertujuan dengan dehumanisasi akan mematikan nalar berfikir terhadap kondisi sosial yang ada.

Pendidikan Gaya Bank

Kritikan terhadap dunia pendidikan di tuangkan oleh Paulo Freire, salah satu pendidikan di Brazil yang mengkritik konsep pendidikan seperti pendidikan gaya bank. Menurut Freire konsep pendidikan gaya bank ini menjadikan murid sebagai tabungan dan guru sebagi orang yang menabung.

Konsep pendidikan gaya bank ini sangat meminimalisir ruang gerak para siswa yang dimana siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. Konsep pendidikan ini juga mematikan daya kreatif siswa karena semua tersentral oleh guru tanpa melibatkan siswa dalam menentukan konsep pembelajaranya.

Dalam konsep pendidikan gaya bank ini sangat terikat karena menempatkan siswa sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa. Selain itu juga menempatkan seorang guru sebagai sumber ilmu yang tidak tertandingi.

Guru sebagai pemberi pengetahuan dan secara sadar mengarahkan siswa untuk bisa menghafalkan apa yang telah guru berikan kepada para siswanya. Guru sebagai nasabah dan siswa sebagai tabungan yang sewaktu-waktu nasabah tersebut bisa mengambil apa yang dia tabung.

Pendidikan gaya bank ini akan menekankan pada kemampuan ingatan para siswanya, karena siswa dituntut bisa menghafalkan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh gurunya. Ini menunjukan bahwa tolak ukur siswa hanya berbasis pada penghafalan bukan pada penalaran yang dilakukan oleh siswanya.

Secara sederhana konsep pendidikan gaya bank ini mengubah anak-anak menjadi bejana-bejana atau wadah kosong yang akan diisi oleh guru. Anak-anak ini juga tidak bisa menentukan isi dari bejana mereka, karena mereka dianggap sebagai wadah yang tidak berhak untuk menentukan isinya.

Pendidikan gaya bank yang menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran. Guru masih menganggap siswa sebagai sebagai kertas kosong dan gurulah yang akan memberikan coretan-coretan di kertas tersebut.

Pada konsep pendidikan gaya bank ini memanglah sangat menindas waulupun anak-anak ini tidak merasa tertindas. Freire juga mengkritik pendidikan gaya bank ini dengan mengatakan bahwa pengetahuan merupakan anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan, kepada mereka yang tidak memiliki pengetahuan apa-apa.

Dengan konsep pendidikan gaya bank ini akan menciptakan manusia-manusia yang memenuhi tuntutan pada zaman bukan menciptakan manusia-manusia yang kritis terhadap zamanya.

Konsep pendidikan gaya bank ini tidak hanya terjadi lingkup pendidikan dasar akan tetapi hingga diranah kampus. Dengan konsep pendidikan gaya bank ini yang sudah tertananm sejak pendidikan dasar, maka tidak salah ketika sudah perguan tinggi yang memang harusnya mengedepankan nalar kritis mahasiswa hanya sebagai angan belaka.

Pendidikan Hadap Masalah

Pendidikan gaya bank diatas memanglah tidak bisa menjadi acuan metode pendidikan yang baik, karena sebagai manusia yang merdeka secara tidak sadar mereka telah direnggut kemerdekaanya dalam belajar.

Salah satu tokoh pendidikan dari Brazil yaitu Paulo Freire memberikan solusi atas konsep pendidikan gaya bank ini dengan konsep pendidikan Problem Possing Education (pendidikan hadap masalah). Konsep pendidikan ini mengedepankan proses dialogis antara guru dan siswa yang dimana nantinya tidak hanya guru saja yang berbicara akan tetapi siswa mempunyai peranan aktif dalam pembelajaran tersebut.

Konsep pendidikan hadap masalah merupakah salah satu cara untuk bisa mengembangkan kreativitas siswa agar daya nalar mereka selalu berkembang dan tidak terbelenggu. Konsep pendidikan ini juga akan mengubah realitas yang dimana guru tidak menjadi satu-satunya sumber pengetahuan yang ada.

Konsep pendidikan ini mengedepankan penalaran kritis setia anak daripada hanya sekedar hafalan saja. Konsep pendidikan ini juga menuntut untuk guru bisa berinteraksi dua arah dengan siswanya agar guru tidak menjadi Teacher Center Learning.

Pola pendidikan hadap masalah ini mengedepankan interaksi guru dan murid bisa berjalan dua arah dengan baik dengan cara pada setiap pembelajaran selalu mencoba memberikan kesan nyata terhadap realitas yang ada di sekitar. Untuk menjadi pembelajaran yang dialogis maka guru pun harus tau mana realitas yang memang perlu di diskusikan mana yang tidak perlu didiskusikan.

Secara sederhana ketika dalam pembelajaran sedang membahas perihal sumber daya alam hewani maupun nabati, seorang guru pun harus memberikan penggambaran yang mereka pernah melihat untuk menjadi bahan dialog antara guru dan siswa. Akantetapi ketika guru memberikan penggambaran yang siswa belum pernah melihatnya maka proses dialog nya akan berjalan satu arah dan tidak tercipta proses pembelajaran yang dialogis.

Konsep pembelajaran dua arah ini akan membantu untuk mengembangkan nalar kritis dari anak-anak tersebut. Konsep pembelajaran yang dua arah ini juga akan melatih siswa untuk bisa berinteraksi serta peka dengan kondisi sosial untuk menunjang kehidupanya.

Dengan konsep pendidikan ini maka untuk menjadikan manusia menjadi makhluk yang humanis akan tercapai, karena pola pendidikan ini yang mengedepankan interaksi dua arah dan mengedepankan realitas akan sangat membantu untuk menjadi makhluk yang humanis