Pendidikan yang ada selama ini mampu menjawab tantangan dan kebutuhan kompetensi siswa abad 21? Sementara kita tengah berpacu memasuki abad 21 ini, ditambah dengan makin derasnya arus digital sebagai barometer era industri 4.0 yang harus kita hadapi bersama juga.

Fakta di lapangan masih terjadi kekurangan guru di banyak wilayah di Indonesia, serta guru yang ada pun masih belum memiliki kualifikasi dan kompetensi guru hebat, banyak yang masih gaptek pada dunia teknologi maupun digital.   

Mayoritas guru masih sulit menggunakan komputer/laptop membuat RPP, belum bisa menggunakan power point untuk membuat presentasi pelajaran, dan terlebih sangat kesulitan membuat video pembelajaran.

Bagaimana mungkin guru yang tidak kompeten akan menghasilkan produk belajar yang berkualitas dan kompeten? Sementara dunia dengan persaingan globalnya berkembang cepat dan kita berpacu dengan waktu untuk mengejar ketertinggalan ini.  Bagaimana pendidikan ini harus diakselerasi?

Pendidikan sebagai aspek yang sangat krusial dalam menentukan kualitas sumber daya manusia, membangun tatanan masyarakat berbudaya, dan membangun struktur berpikir individu dalam komunitas global. Memang tidaklah mudah dan sederhana berbicara tentang pendidikan dan problematikanya.

Kesiapan pendidikan melakukan sebuah proses dalam memberikan bimbingan, melatih, mengajar, dan menanamkan nilai-nilai dasar, norma, etika, sikap, dan pandangan hidup untuk memiliki perilaku yang memanusiakan manusia lainnya serta bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. 

Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia, memiliki banyak ragam suku (714)/bahasa daerah (1001), letak geografis yang luas, dan aspek demografi yang besar.

Tentu ini menambah kerumitan dan keluasan kajian aspek pendidikan yang ada di Indonesia yang harus dipandang sebagai sebuah potensi dan kekuatan pendidikan di Indonesia.  

Kompetensi siswa abad 21

Kompetensi siswa yang harus dimiliki abad 21 adalah Kompetensi kreatif dan inovatif yang merupakan kemampuan untuk mencipta sesuatu yang baru atau merakayasa/mengembangkan sesuatu  yang sudah ada menjadi sesuatu yang berbeda atau ada unsur kebaruannya.

Kreativitas dan inovasi yang lahir dari keterbatasan akan mampu keluar dari tekanan-tekanan keadaan, karena mampu mencari solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi.  

Membuat sesuatu dengan menggunakan bekas kardus untuk menggantikan kertas karton yang harus dibeli. Atau membuat hasta karya tertentu dari koran bekas.  Selain itu bisa juga menggunakan batu, kerikil, daun, dan ranting untuk belajar berhitung pada matematika.

Lantas kita berpikir apakah kebijakan pemerintah, kurikulum (kurikulum 13) dalam pendidikan Indonesia, sumber daya guru dan fasilitas pendidikan yang ada mampu membentuk sikap tersebut?  

Apakah pendekatan pembelajaran di sekolah sudah mengarah pada pembentukan kompetensi siswa yang  kreatif inovatif, mandiri, kerja keras, dan cara berpikir out of the box

Tentu jawabannya belum karena pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah masih berorientasi pada hapalan yang masih berkutat pada cara belajar konvensional dengan menganggap guru sebagai satu-satunya informasi dalam belajar dan cara mengajar guru yang memasung keaktifan siswa. 

Kompetensi komunikasi juga sebagai kecakapan siswa yang harus disiapkan. Ini sangat kontradiktif sekali dengan realitas pembelajaran yang ada yang lebih cenderung pasif dalam belajar. Apakah guru sudah mengembangkan active learning dan questioning skills yang dapat menstimulasi kompetensi komunikasi siswa?

Padahal keterampilan bertanya adalah kemampuan dasar mengajar yang harus dimiliki guru untuk mendorong siswa aktif berkomunikasi menggali pengetahuannya.  

Dalam aktif learning ini pun guru bisa menempati posisi sebagai mediator, fasilitator, motivator menumbuhkan petualangan belajar siswa dalam mengkontruksi cara berpikir dan pengetahuan yang diperoleh.

Selanjutnya kompetensi kolaboratif harus disiapkan juga untuk menghadapi abad 21 yaitu kemampuan untuk bekerjasama antara satu dengan yang lainnya dalam sebuah kelompok maupun komunitas dalam membangun jaringan. 

Kemampuan kerjasama merupakan pengejawantahan manusia sebagai makhluk sosial, yang harus berinteraksi satu sama lain dan saling membutuhkan dalam komunitas pembelajar di sekolah. 

Dalam kolaborasi akan menumbuhkan kebersamaan, justru malah saling memunculkan potensi dan kontribusi masing-masing.  Jelas kontradiktif dengan kompetisi yang hasil akhirnya adalah 1 pemenang dan menggugurkan banyak potensi yang lainnya, walaupun dalam keadaan tertentu kompetisi tetap dibutuhkan untuk tujuan tertentu.

Nah, seperti yang kita tahu, sistem kompetisi masih ada di sekolah kita dalam bentuk rangking. Hal ini perlu dikritisi jangan sampai sistem rangking melahirkan sistem kasta, yaitu kasta anak pintar dan anak tidak pintar yang mendapat rangking di luar 3 atau10 besar.

Lantas apakah kita harus bangga ketika siswa menjadi rangking 1 tetapi tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, tidak bisa bekerja dalam kelompok? Sementara dunia kerja dan masyarakat meniscayakan untuk bekerja dalam kelompok, bekerja dalam tim, dan berinteraksi dengan anggota tim lainnya.

Kompetensi berpikir kritis penting dalam pembelajaran di sekolah yang merupakan kemampuan kritis dari proses berpikir secara ilmiah. Hal ini terbentuk dari proses kemampuan mengamati, bertanya, analisis, dan komunikasi.  Rasa ingin tahu yang dalam terhadap sesuatu semakin memberikan ruang untuk mengasah kemampuan berpikir. 

Ironis sekali kalau pola pembelajaran di sekolah masih menggunakan LOT (Low Order Thinking) yaitu berpikir tingkat rendah seperti konsep menghapal saja atau hanya mengembangkan kata tanya  “Apa” yang  menghendaki satu jawaban yang benar.  

Seharusnya yang dikembangkan adalah cara berpikir HOT (Hight Order Thinking) yaitu berpikir tingkat tinggi, seperti mengembangkan kata tanya “Mengapa” dan “Bagaimana” yang membutuhkan uraian berbeda, panjang, dan lebar. Dan tidak menuntun jawaban satu dan seragam.   

Apakah ini bisa dicapai dengan metode ceramah yang masih menjadi metode pembelajaran favorit di sekolah-sekolah? Tentunya kita sepakat, bahwa dengan cara itu tidak akan mencapai pembelajaran HOT.

Sejatinya sistem pendidikan di Indonesia ini harus mampu membangun dan menciptakan siswa/lulusan sekolah yang memiliki 4 kompetensi abad 21 tersebut. Kompetensi kreatif inovatif, komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis masih belum diimplementasikan di tataran sekolah-sekolah. 

Walaupun 4 kompetensi sudah masuk ke dalam kurikulum 13, tapi pemerintah masih belum maksimal  mempersiapkan implementasi, monitoring, dan evaluasinya di lapangan.  Siap tidak siap, mampu tidak mampu, 4 kompetensi ini mutlak dibutuhkan harus menjadi kompetensi inti dalam pembelajaran jengjang tingkat usia dini, dasar, menengah, dan atas.

Semua stakeholder pendidikan dan pemerintah harus merumuskan bersama dan melibatkan semua  tokoh masyarakat peduli pendidikan menyiapkan semua instrument/perangkat lunak maupun kasar untuk pendidikan Indonesia lebih progresif.