Pendidikan adalah aspek penting dan sangat esensial keberadaannya dalam kehidupan. Apalagi di zaman sekarang, seolah-olah menjadi syarat mutlak seseorang bisa sukses. Lalu, apa itu pendidikan dan untuk apa?

Dilansir dari Wikipedia, pendidikan berasal dari bahasa Latin “ducare”, yaitu menuntun dan “educare”, yaitu keluar. Jadi, pendidikan adalah kegiatan menuntun keluar. Tujuan pendidikan tidak jauh beda dengan pengertiannya, yaitu menuntun murid untuk mengeluarkan kemampuannya. Namun, pendidikan di Indonesia belum mampu mencapainya.

Sistem pendidikan Indonesia yang direalisasikan melalui sekolah menitikberatkan pada penyeragaman. Selain pakaian yang seragam, kemampuan akademik pun juga diseragamkan. Kita semua tahu bahwa setiap orang memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Ada yang suka berhitung, ada yang suka seni, dan sebagainya. Tak terkecuali murid-murid di sekolah.

Sistem sekolah mengharuskan murid untuk mempelajari semua mata pelajaran, bahkan pelajaran yang mereka tidak suka sekalipun. Belum lagi jika diberi banyak PR. Hal itu sama saja menuntut murid untuk tahu banyak dari banyak hal, sehingga mereka tidak mampu fokus pada satu hal.

Akibatnya, murid tidak tahu minatnya dan sulit untuk mengembangkan karena tidak mendapat dukungan dari lingkungannya. Jika murid dituntut tahu banyak dari sedikit hal, beda lagi ceritanya. Mereka akan mendalami hal tersebut sampai mereka yakin bahwa ilmu yang mereka butuhkan sudah dikuasai dengan baik.

Contohnya datang dari adik saya. Ia masih bersekolah di jenjang sekolah dasar. Hobinya adalah main TikTok. Tetapi dari hobinya itu, ia menemukan sesuatu yang ia sukai yaitu editing. Ia mengembangkan kemampuannya dengan membuat video lalu diedit sendiri. Ketika saya melihat video tersebut, saya tidak menyangka bahwa kemampuan editing-nya sangat bagus.

Memang masih sederhana, tetapi ia mau berproses. Namun, sekolahnya menilai kemampuannya hanya melalui angka yang tercetak di atas kertas rapor. Sebenarnya angka tersebut tidak kalah penting, tetapi jangan lupa, bahwa ada calon editor yang tidak perlu mengerti matematika.

Ya, angka itulah nilai yang diperoleh murid dari ujian. Pendidikan Indonesia sangat akrab dengan ujian. Satu hal yang kononnya penting ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa sudah sejauh mana ia memahami suatu materi dan kerap menjadi salah satu indikator penilaian untuk masuk ke perguruan tinggi atau melamar pekerjaan.

Namun, menurut saya, ujian justru menilai anak secara instan. Mereka akan diberikan materi sebanyak mungkin yang kemudian akan dipaksa menuliskannya di kertas ujian. Kalau nilainya bagus berarti murid sudah memahami materi. Jika sebaliknya, maka mereka harus mengulang sampai mendapat nilai yang sesuai standar di sekolahnya.

Tanpa disadari, sekolah justru mengajarkan tentang kompetisi. Murid-murid harus bersaing untuk mendapat nilai yang bagus. Jika tidak, mereka bisa merasa tertekan, baik dari sekolah maupun orang tua. Dampaknya akan menyebabkan siswa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Kalau dengan belajar lebih giat itu bagus. Bagaimana jika menyontek?

Sebagian besar orang pasti pernah menyontek dan guru juga tahu itu. Dilansir buffalo.edu, salah satu alasan untuk menyontek adalah takut gagal mendapat nilai yang tinggi. Walaupun menyontek, asal tidak ketahuan dan nilainya bagus, murid pasti lulus. Jadi, untuk apa menjadikan ujian sebagai syarat kelulusan jika kejujuran sudah kehilangan pamornya?

Sistem pendidikan Indonesia hanya menghasilkan pekerja industri. Murid-murid disiapkan untuk menjadi buruh penurut otoritas. Sekolah juga tidak mengajarkan tentang kegagalan. Sekolah hanya mengajarkan tentang kesuksesan dan bagaimana menjadi sukses yaitu dengan bekerja disini atau disana. Padahal sukses bagi setiap orang itu berbeda-beda. Lalu, apa solusi untuk pendidikan Indonesia?

Sebenarnya, solusinya adalah mengubah sistem pendidikan yang ada. Tetapi itu wewenang pemerintah yang tidak bisa diganggu. Jadi, lebih baik dimulai dari hal yang bisa dilakukan oleh sekolah dan masyarakat, seperti:

Merekrut guru-guru yang berkualitas

Pendidikan yang berkualitas dimulai dari tenaga pendidik yang berkualitas. Jurusan pendidikan di Indonesia memang tidak se-elite jurusan hukum, kedokteran dan ekonomi karena persaingannya tidak terlalu ketat.

Dilansir leverageedu.com, negara Finlandia, negara yang paling maju soal pendidikan, memiliki jurusan pendidikan yang terkenal sangat sulit dan hanya sedikit lulusan yang bisa terpilih menjadi guru.

Namun, di Indonesia, guru sering dipandang sebelah mata karena gajinya yang tidak sesuai dengan tanggung jawabnya. Sekolah juga tidak selektif dalam memilih guru. Sebaiknya sekolah memilih guru yang benar-benar profesional dalam mencerdaskan murid, karena merekalah yang menanamkan fondasi yang benar supaya murid juga memiliki pola pikir yang benar.

Fokus pada passion

Jika kualitas pengajar sudah terpenuhi, maka untuk mencapai tujuan pendidikan, anak perlu diarahkan kepada minat dan bakatnya. Jangan dituntut mengerti segala hal dengan seabrek PR.

Sekolah dan orang tua perlu bekerja sama mendukung minat tersebut dengan memfasilitasi dan memberikan sarana yang diperlukan anak untuk mengembangkan passion-nya. Melalui semua itu, maka anak memiliki satu titik fokus dan tidak akan terlalu pusing memikirkan ujian.

Jangan nilai murid dari nilai ujiannya

Persoalan ujian memang tidak ada habisnya. Hanya ada tiga solusi untuk menyelesaikannya. Datang, kerjakan, lupakan. Nilai tidak perlu dipikirkan, itu hanya sebuah angka. Hargai proses dalam mencapainya.

Masa depan tidak ditentukan dari nilai ujian, tetapi dari murid itu sendiri. Jika mereka menyukai suatu hal, berikan dukungan. Dengan begitu ia akan menghasilkan karya dan bermanfaat bagi sesama. Bukankah kehidupan sesederhana itu?

Sebenarnya masih banyak, sih, masalah pendidikan di Indonesia. Kalau saya jabarkan satu-satu takut jadi panjang. Intinya cuma satu, pendidikan Indonesia butuh perbaikan dan itulah yang menjadi tugas seluruh masyarakat, khususnya pemerintah untuk meningkatkan mutu murid, guru, dan sekolah.

Pendidikan punya banyak sisi positif. Salah satu yang paling penting adalah mengajarkan tentang sosialisasi. Anak-anak dengan latar belakang yang berbeda-beda disatukan dalam satu bingkai pendidikan dan mau tidak mau harus saling mengenal sehingga mereka akan belajar cara berkomunikasi dan bertingkah laku yang baik untuk menjalin pertemanan.

Mengutip nasehat dalam Serat Wedhatama, karya Pakubuwono IV, “ngelmu iku kalakone kanthi laku”, artinya ilmu dapat dipahami dengan benar melalui penerapan. Jadi, esensi dari ilmu itu sendiri adalah ketika ilmu bisa diterapkan dalam kehidupan dan berguna dalam membangun masyarakat.