Senin, 18 Juli 2016. Merupakan hari pertama masuk sekolah bagi siswa-siswi sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA). Antusiasme dan semangat terpancar bukan hanya dari siswa-siswi yang akan sedang menduduki bangku dan kelas yang baru, melainkan para orang tua yang mengantarkan putera-puterinya ke sekolah.

Momentum hari pertama masuk sekolah ini seharusnya juga menjadi momentum masyarakat dalam memahami pendidikan sebagai proses belajar. Bahwa pendidikan sebagai proses mendewasakan emosional, meneguhkan karakter, dan menumbuh kembangkan empati sosial, yang sejatinya memberikan kontribusi kehidupan manusia yang beradab. Bukan malah berkiblat pada proses pendidikan yang praktis.

Antusiasme tersebut seharusnya tidak boleh kosong, pemahaman dan partisipasi setiap elemen dalam membangun pendidikan yang baik di negera ini menjadi sangat penting.

“Pendidikan adalah senjata terampuh yang dapat digunakan untuk merubah dunia,” begitu ungkap Nelson Rolihlahla Mandela, seorang rovolusioner anti-apartheid dari bumi Afrika. Kita mengakui pendidikan memiliki peranan penting dalam rekam jejak peradaban manusia.

Tidak sedikit manusia di muka bumi ini yang berbekal restu ilmu pengetahuan mampu merubah dunia. Sebut saja: Nelson Mandela, Aung San Suu Kyi, B.J. Habibie, dan sederet peraih nobel yang telah berkontribusi pada pembangunan peradaban dewasa ini.

Patut kita untuk bertanya, “Bagaimana ilmu pengetahuan mampu memberikan perubahan pada diri mereka?” Sistem pendidikan seperti apa yang mereka terima sehingga mampu membentuk pola pikir dan sikap mereka sedemikian rupa? Namun, sebelum kita menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, perlu kita ketahui beberapa tren pendidikan yang terjadi di Indonesia dewasa ini.

Masih ada anggapan bahwa peningkatan produktivitas ekonomi juga dipengaruhi oleh peningkatan pendidikan pada setiap SDM yang ada. Namun, miris, data BPS pada bulan agustus 2015 mengungkapkan jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,56 juta orang, tentu bukan angka yang kecil jika setiap angka membutuhkan sandang, pangan, dan tempat tinggal yang layak.

Parahnya lagi 6,40 persennya adalah sarjana dan 2, 74 persen adalah tamatan sekolah dasar. Menjadi pertanyaan tersendiri melihat tingkat pendidikan tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja. Lalu, masihkah kita percaya bahwa dengan bekal pendidikan tinggi mampu menjadi jaminan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji yang cukup besar.

Pengangguran terdidik, begitu sebutan bagi mereka yang berpendidikan tinggi yang tidak bekerja. Sebetulnya titik temu antara pendidikan dengan pangsa pasar kerja adalah produktivitas kerja. Produktivitas kerja mengacu kepada penguasaan seseorang terhadap suatu keterampilan yang didapatkan dari pendidikan formal, pelatihan maupun pembelajaran secara autodidak. Dengan penguasaan keterampilan yang baik maka faktor produksi mampu lebih bergeliat.

Fenomena pengangguran terdidik ini dapat kita lihat dari dua sisi. Pertama, pengangguran terdidik sebagai fenomena persediaan, yang melihat bahwa sektor pendidikan formal tidak mampu memenuhi permintaan pasar kerja sehingga tidak sedikit yang memiliki pendidikan tinggi namun tidak dibutuhkan oleh pasar kerja.

Kedua, dapat kita lihat sebagai fenomena permintaan, bahwa fenomena pengangguran terdidik tidak hanya sebagai ketidakmampuan sektor pendidikan formal menyediakan pekerja yang diinginkan, namun, juga karena pasar kerja tidak mampu menyediakan sistem kerja yang sesuai, ataupun, ketidaksesuaiaan pendapatan yang diberikan tidak sesuai.

Selanjutnya, perbedaan pendidikan akademis dengan pendidikan kejuruan juga menjadi pertimbangan pangsa pasar dalam menyerap tenaga kerja. Pendidikan akademis lebih menitikberatkan pemahaman pembelajar tentang suatu teori maupun konsep. Berbeda dengan sekolah-sekolah kejuruan yang memang menyiapkan siswa-siswanya sebagai tenaga kerja.

Lalu, bagaimana dengan nasib para pembelajar lulusan sekolah akademis? Apakah mereka tidak memiliki kesempatan kerja yang sama seperti lulusan sekolah kejuruan setelah mereka lulus? Hal ini patut dibicarakan, apakah pendidikan memiliki keharusan dalam menyediakan tenaga kerja yang terampil?

Karena ketika kita masih berfikir bahwa pendidikan memiliki responsibility dalam pemenuhan pasar kerja, sama saja kita mengukur suatu pemahaman terhadap disiplin keilmuan dalam sistem ekonomi, yang sebetulnya sistem ekonomi juga dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran dalam penyerapan tenaga kerja. Parahnya lagi, ketika menggunakan tolak ukur sistem ekonomi ini, pendidikan cenderung hanya menyediakan SDM yang siap jadi “Karyawan”.

Pendidikan formal merupakan tempat bagi seseorang untuk menambah pemahaman terhadap suatu disiplin ilmu pengetahuan maupun teknologi, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kapasitas personal. Namun, apakah hanya cukup sebatas pemahaman terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi saja.

Sering kita mendengar ungkapan “Ilmu pengetahuan tanpa keberanian itu sia-sia”, sebut saja Galileo Galilei dihukum mati karena penemuannya bahwa pusat tata surya itu matahari dan bumi itu bulat. Aung San Suu Kyi yang harus menjadi tahanan rumah berpuluh-puluh tahun karena keberaniaanya melawan rezim diktator yang sedang berkuasa.

Hal tersebut merupakan bukti bahwa pendidikan juga hendaknya menumbuhkan keberanian dalam mengungkapkan kebenaran, menumbuhkan empati kemanusiaan, karena pada aspek itulah makna pendidikan memiliki urgensi dalam proses pembangunan manusia yang beradab. Selain itu, proses pendidikan juga menjadi sarana muda-mudi mendefinisikan identitas diri atau jati diri, yang akhirnya secara Personality, para pembelajar matang secara emosioal.

Masa remaja khususnya, masa dimana secara emosional dan fikiran masih belum dewasa. Sering kita mendengar ungkapan “Masa remaja merupakan masa penentu sikap dan perilaku di masa mendatang”. Aspek afektif dalam pendidikan memiliki peranan penting dalam membentuk jati diri.

Pemahaman yang baik tentang sebuah ilmu pengetahuan cenderung akan membentuk sikap yang taat pada nilai dan norma komunal, selain itu, mealalui penanaman nilai dalam proses pendidikan, seseorang dikenalkan dengan seperangkat etika yang menjadi tolak ukur berperilaku yang baik dan tidak. Hal seperti ini akan lebih bermanfaat bagi seseorang di kehidupan sosialnya kelak.

Tentunya aspek-aspek karakter yang teguh, jati diri yang baik, empati sosial yang tinggi dan pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi yang mapan sehingga muncullah sosok seperti Nelson Mandela, B.J. Habibie, maupun Aung San Suu Kyi, bahkan seorang remaja Malala yang mendapatkan nobel dengan usia yang relatif muda.

Melihat hal tersebut, tentu seharusnya pendidikan di Indonesia tidak hanya mengejar pemenuhan pangsa pasar kerja semata, melainkan juga menjadikan pendidikan sebagai proses yang membangun karakter, meneguhkan jati diri, maupun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang baik. Karena disitulah letak jiwa pembelajar yang menjadi ruh pendidikan.