Akses media telah menjadi kebutuhan salah satu kebutuhan primer dari setiap orang. Itu dikarenakan adanya kebutuhan akan informasi, hiburan, pendidikan, dan akses pengetahuan dari belahan bumi yang berbeda. 

Kemajuan teknologi dan informasi serta makin canggihnya perangkat-perangkat yang diproduksi oleh industri seperti menghadirkan dunia dalam genggaman. Istilah ini sejajar dengan apa yang diutarakan oleh Thomas Friedman (2007) sebagai the word is flat bahwa dunia makin rata dan setiap orang bisa mengakses apa pun dari sumber mana pun. 

Juga, sebagaimana diulas Richard Hunter (2002), dengan kehadiran media baru (new media) menjadikan informasi sebagai sesuatu yang mudah dicari dan terbuka. Media tradisional seolah-olah mendapatkan pesaing baru dalam mendistribusikan berita (Davison, 2012).

Jika selama ini institusi media sebagai lembaga yang mendominasi pemberitaan, kehadiran internet dan media sosial memberikan keleluasaan bagi khalayak untuk ikut dalam berkompetisi menyebarkan informasi atau peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Institusi media bisa saja menyembunyikan peristiwa. Namun sebaliknya, melalui internet, khalayak mendapatkan peristiwa tersebut dari khalayak lainnya (Nasrullah, 2017: 1).

Artinya, kehadiran media sosial menjadi sangat fenomenal. Facebook, Twitter, Instagram, hingga WhatsApp menarik minat banyak orang. Media sosial tersebut kemudian tidak hanya digunakan untuk mendistribusikan informasi yang bisa dikreasikan oleh pemilik akun (user) itu sendiri, tetapi juga memiliki dasar sebagai portal untuk membuat jaringan pertemanan secara virtual dan medium untuk berbagi informasi (Gilardi, 2009).

Merujuk pada data yang dirilis Asosiasi Pengguna dan Perilaku Internet (APJI) tahun 2018, menyebutkan jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini adalah 143,26 juta atau setara dengan 54,68% jumlah penduduk Indonesia yang jumlahnya 262 juta orang. Di mana untuk Sumatra Utara, pengguna internetnya adalah 3,5 juta orang dengan sebaran terbanyak ada di Kota Medan, yaitu 994.000 orang dan Kabupaten Deli Serdang sebesar 670.000 pengguna.

Besarnya angka pengguna internet ini tentu menjadi potensi sekaligus tantangan bagi masyarakat Kabupaten Deli Serdang. Potensinya tentu berkaitan dengan pertumbuhan bisnis pasar industri digital yang berkontribusi besar untuk ekonomi Kabupaten Deli Serdang menjadi pusat pertumbuhan untuk Sumatra Utara. 

Lebih lanjut, di era sekarang, konektivitas internet menjadi syarat bagi pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Namun, tantangannya juga demikian, apalagi dengan marak beredarnya berita-berita palsu (hoaks) di masyarakat (Davidson, 2012).

Hal ini pula yang harus disikapi di Kelurahan Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang. Perkembangan internet di Kelurahan Tanjung Anom cukup pesat yang hal ini disebabkan jarak antara wilayah ini dengan Kota Medan sangat dekat dan berbatasan langsung secara teritorial.

Luas wilayah Kelurahan Tanjung Anom adalah 5.260 ha yang juga merupakan salah satu wilayah terbesar di Kecamatan Pancur Batu. Di mana jumlah penduduk Kelurahan Tanjung Anom adalah laki-laki sebanyak 5.663 jiwa dan perempuan sebanyak 5.505 jiwa dengan jumlah keseluruhan adalah 11.168 jiwa. Kemudian untuk anak-anak muda di Kelurahan Tanjung Anom yang umurnya 15-39 tahun adalah 4.847 jiwa.

Lebih lanjut, jarak antara Universitas Sumatra Utara (Medan) dengan Keluarahan Tanjung Anom 11 km yang dapat ditempuh dengan lama perjalanan 29 menit. Sejak era digitalisasi masuk ke Kelurahan Tanjung Anom, rata-rata penduduk anak-anak muda yang umurnya 15-39 tahun tersebut aktif menggunakan media sosial Facebook, Instagram, Path, dan Twitter untuk mengakses informasi mengenai ekonomi, sosial, gaya hidup, hingga politik.

Hal ini disebabkan, di samping akses internet lebih mudah, murah, dan efisien, kecenderungan masyarakat Kelurahan Tanjung Anom memperoleh informasi aktual dari koran terbatas. Jika harus memperoleh informasi yang tersaji dari radio atau televisi, umumnya masyarakat urban lainnya memiliki keterbatasan waktu karena harus bekerja. Belum lagi penduduk Kelurahan Tanjung Anom yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas; rata-rata sudah menggunakan telepon seluler (gadget). 

Lebih lagi, rata-rata masyarakat, anak-anak remaja dan dewasa Kelurahan Kelurahan Tanjung Anom menempuh pendidikan tinggi di Kelurahan Tanjung Anom banyak melakukan aktivitas di daerah mereka.

Namun, intensitas penggunaan media sosial internet oleh masyarakat Kelurahan Tanjung Anom tidak disertai oleh pendidikan mengenai kelebihan dan bahaya penggunaan media sosial. Hal ini disebabkan sangat minimnya pengetahuan mereka tentang dampak bila salah menggunakan media sosial. 

Penyebabnya, anak-anak muda Kelurahan Tanjung Anom jarang mendapatkan sosialisasi mengenai penggunaan media sosial oleh berbagai institusi, lembaga dan pelatihan seperti yang banyak dilakukan secara swadaya atau dilakukan lembaga pemerinath.

Padahal ketertarikan para pengguna media sosial di Kelurahan Tanjung Anom yang kebanyakan menggunakan Facebook kerap menghampiri lini masa beranda Facebook dengan berbagai pendapat yang terkadang belum tentu benar dan menyesatkan. Fenomena ini tentu sangat berbahaya jika salah menyampaikan informasi atau melanggar privasi orang lain bisa terkena pidana.

Hal ini terdapat di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 sebagai  Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dalam salah satu bagian di pasal 26 ayat 1 Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan. 

Belum lagi bila salah membagikan konten pemberitaan yang berhubungan dengan tindakan asusila (pornografi), penghinaan, penistaan agama/suku/ras atau perbuatan tidak menyenangkan bisa dikenakan pidana penjara dan denda yang disesuaikan hasil putusan pengadilan. 

Terbukti secara empirik beberapa kasus pidana di berbagai wilayah di Indonesia, utamanya wilayah Provinsi Sumatra Utara yang diakibatkan kesalahan penggunaan media sosial yang mayoritas terkait konten politik dan fornografi.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat USU

Sumber daya manusia turun ke lapangan merupakan staf pengajar di departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatra Utara, yaitu Munzaimah sebagai ketua dan Yovita Sabarina Sitepu sebagai anggota Tim pengabdian dengan judul Pengabdian kepada Masyarakat: Pendidikan Bijak Media Sosial di Kelurahan Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang.

Tim pelaksana mempunyai wawasan dan pengetahuan serta terlatih dalam melakukan suatu kegiatan pendampingan masyarakat dengan masing-masing spesialisasi keahlian. 

Sementara itu, Tim Pengabdian USU merupakan staf pengajar di lingkungan departemen Komunikasi USU yang saat ini sedang giat-giatnya meningkatkan kajian dan riset terkait media sosial dan komunikasi massa. Pendidikan bijak media sosial salah satu sub-bagian dalam pengembangan ilmu komunikasi sebagai salah satu pengembangan komunikasi terkait media sosial, internet, digitalisasi, dan Revolusi Industri 4.0.

Tim Pengabdian USU juga telah membuat strategi pelatihan ini bersifat bertahap dengan mempertimbangkan perkembangan UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) terkait penggunaaan bijak media sosial, dampak buruk salah penggunaan media sosial, transaksi elektronik dan akses adalah kegiatan melakukan interaksi media sosial dalam jaringan internet.

Kemudian pelatihan di ke Kelurahan Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang ini ke depannya mampu meningkatkan masyarakat dalam upaya kampanye positif bijak media sosial. Tidak hanya itu, ke depannya hal yang mendukung juga menjauhkan tindak pidana bagi para pengguna media sosial karena salah penggunaan.

Adapun target dari pengabdian masyarakat dalam wujud Pendidikan Bijak Media Sosial di Kelurahan Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang adalah:

1. Kelompok mitra lebih terampil dan paham mengenai media sosial sehingga lebih bijak dalam penggunaan media sosial.

2. Pengabdian masyarakat dalam wujud pendidikan politik bijak media sosial di era digital  ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan tentang dampak baik dan buruk penggunaan media sosial.

3. Dalam skala yang luas di tengah era digitalisasi yang dampak buruknya, seperti yang ada dalam UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dalam skala yang sempit bisa menghindarkan dan menjauhkan masyarakat Kelurahan Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu lepas dari potensi pidana, yaitu pelecehan, panistaan dan perbuatan tidak menyenangkan.

4. Kelompok mitra juga memiliki pemahaman yang kuat tentang digitalisasi, komunikasi massa, internet dan potensinya dalam proses kehidupan bermasyarakat.

5. Ke depannya, pendidikan politik bijak media sosial di Kelurahan Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu ini akan membantu para pemangku kepentingan lainnya, seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM dan lembaga swasta yang konsen di bidang media sosial dan digitalisasi.

Harapannya ke depan, lewat pendidikan bijak media sosial ini juga akan menghindarkan konflik horizontal di masyarakat karena perbedaan pendapat, utamanya terkait pilihan politik dan isu-isu sensitif lainnya. Pendidikan politik bijak media sosial ini dalam skala yang luas juga menjadi bagian yang penting, utamanya terkait Indonesia akan memperoleh bonus demografi tahun 2025-2035. 

Di mana menurut prediksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia saat itu adalah 305,6 juta jiwa dengan persentase angkatan kerja produktif mencapai 66,6%. Kategori angkatan kerja produktif yang dimaksud BPS adalah orang-orang yang umurnya 15-64 tahun, sementara angkatan kerja tidak produktif umur 0-14 tahun dan umur di atas 65 tahun. 

Tentu kita tentu tidak ingin bahwa bonus demografi kita akan di isi oleh generasi hoaks. Bayangkan pula apa jadinya Indonesia di tahun tersebut jika saat ini saja pergerakan dunia digital makin tidak terkendalikan.

Daftar Rujukan ;

Ardianto, Elvinaro., Lukiati Komala., dan Siti Karlinah. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa  Rekatama  Media.

Davison P, 2012, “The language of Internet Memes”, In M Mandiberg (Ed), The Social          Media Reader, New York: New York University Press.

Gilardi, Fabrizio, 2009,  Digital Democracy How Digital Technology Is Changing Democracy and Its Study, UZH Department of Political Science.

Nasrulllah, Rulli, 2017, Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya dan Kotemporer, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Data Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJI) Oktober tahun 2018.