Sudah lama absen. Padahal idealnya sebuah proses pendidikan selalu menjadi sempurna dan berhasil karena kehadiran (presence). 

Hampir kurang lebih tujuh bulan, proses distribusi pendidikan diusahakan melalui sistem "order." Karena pandemi, semua ritme hidup didaringkan. Jika selama ini Anda dan saya sering "order" makanan, grab atau gojek, sekarang mekanisme "order" berlaku dalam dunia pendidikan.

Akhir-akhir ini, beberapa pelajar dan mahasiswa mendapat banyak "orderan" berupa tugas dari dosen dan guru. Dosen titip dan kirim tugas via online. Lalu, mahasiswa dan pelajar akan membuat "orderan balas" ke dosen dengan kode-kode pengiriman tertentu agar tugasnya diberi nilai. Unik, inovatif, menarik, tapi menjenuhkan. Ini wajah pendidikan kita sekarang. Bukan "kurikulum darurat," tapi "kurikulum dengan sistem order."

Sejak Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi, semua sektor kehidupan pun berbenah. Pemerintah Indonesia – melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 – mengatur strategi dan kebijakan. Beberapa sektor di jantung kota pun ikut berbenah.

Di sektor ekonomi, aktivitas produksi dihentikan sementara dan beberapa perusahaan akhirnya membuat kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) atas karyawannya. Di lini keagamaan, kegiatan ibadah dialihkan ke rumah. Selain itu, institusi pendidikan dinilai sebagai salah satu sektor yang cepat menanggapi gelombang penyebaran virus corona ini.

Institusi pendidikan membuat reaksi cepat karena dinilai potensial meningkatkan penyebaran. Sekolah-sekolah dengan basis jumlah murid yang cukup banyak sangat berpengaruh terhadap proses penyebaran Covid-19. Selain sekolah-sekolah, universitas pun ditutup untuk sementara. 

Perkuliahan dialihkan ke sistem daring. Semuanya pun berlangsung dari rumah. Proses belajar-mengajar akhirnya tersendat mengingat metode distribusi pengetahuan dirasa kurang optimal dan memadai. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pun menerapkan kebijakan sistem belajar dari rumah.

Belajar dari rumah membuat slogan merdeka belajar semakin kelihatan. Apa maksud merdeka dalam konteks belajar dari rumah? Dari fenomena dan kesan umum yang terlihat, proses belajar justru di luar kendali. Belajar dari rumah untuk konteks pelajar SD-SMA, mungkin saja adalah liburan. 

Kita tidak bisa menyangkal bahwa efektivitas kegiatan belajar dengan pantuan jarak jauh oleh para pendidik dan bimbingan langsung dari orangtua hanya berlangsung di pekan awal. Setelah itu, orang mulai jenuh. Orang justru merasa bebas-merdeka untuk belajar. 

Dalam hal ini, ia menerapkan prinsip “semau gue.” Belajar dari rumah adalah sebuah tameng yang dipakai untuk menahan tuduhan bahwa selama Covid-19 sistem pendidikan vakum.

Pada jenjang yang lebih tinggi, seperti Perguruan Tinggi (PT), kebijakan belajar dari rumah ditopang kuat dengan optimalisasi penggunaan sarana teknologi komunikasi. Dari sini, kemudian kita mengenal istilah “belajar online.” Sistem belajar ini diperkuat lagi dengan istilah “e-learning.” Mekanismenya pun sepenuhnya diberikan kepada teknologi. 

Kuliah online dengan aplikasi “video-conference,” penilaian dan pengiriman tugas dengan sistem online, hingga absensi kehadiran juga dilakukan dengan sistem virtual-online. Dalam sistem belajar berbasis online ini diandaikan bahwa semua peserta didik dan pendidik paham tentang teknologi dan fitur-fitur yang dioperasikan. Jika tidak, masalah baru muncul karena ingnorance dalam proses belajar.

Lalu, seberapa efektif model pembelajaran online ini berpengaruh bagi proses belajar para pelajar dan mahasiswa? Dari fenomena yang terlihat, intensitas ketertarikan peserta didik dalam mengikuti kuliah online sangat kecil. Bahkan, kebanyakan menciptakan kejenuhan dalam proses belajar. 

Beberapa mahasiswa merasa kehilangan momen perjumpaan langsung dengan dosen-dosen favorit. Seperti tak ada yang dipelajari selama semester ini. Ini reaksi-reaksi spontan yang disampaikan mahasiswa terkait sistem belajar virtual-online.

Intensitas ketertarikan pada sistem belajar online tentunya membuat seseorang tidak produktif dan memilih absen. Padahal, kehadiran (presence) merupakan salah satu tolok ukur dalam membantu proses internalisasi pendidikan dalam kegiatan belajar. Dari sharaing para mahasiswa, kebanyakan telah memilih pulang kampung dan berlibur. Tak ada kuliah. K

uliah memberatkan karena memerlukan data dan harus mencari tempat yang baik agar terkoneksi. Kuliah online dengan kata lain menambah beban perkuliahan karena harus membeli data agar bisa masuk dalam kelas video-conference dan mendownload-upload tugas perkuliahan.

Idealnya, proses pendidikan berlangsung dalam koridor interaksi. Proses interaksi dilakukan dalam “setting” yang memadai. Dalam hal ini, latar dan fasilitas proses distribusi pengetahuan dalam kegiatan belajar menjadi prioritas. “Kami diutus untuk belajar di universitas. 

Tapi dalam kurun waktu hampir tiga bulan, kami tidak pernah melihat ruang perkuliahan, tidak pernah bertemu dosen, tidak ada kerja kelompok. Ingin mengisi waktu dengan kerja, tapi semua lapangan kerja juga ditutup. Akhirnya, kami memilih pulang kampung, daripada tinggal di kos, tapi tidak kuliah dan kerja,” kata salah seorang mahasiswa.

Tapi semua ini adalah usaha agar pendidikan tetap berjalan. Teknologi dan internet tentunya menjadi tulang punggung pergerakkan sistem pendidikan saat ini. Beberapa universitas atau lembaga pendidikan lainnya menerapkan kebijakan “kurikulum darurat”.

Dalam kotak “kurikulum darurat,” semuanya tidak pasti. Konsepnya, tetap produktif meski dirumahkan. Sistem pendidikan tahun ini memang unik. Nikmatin aja, toh kita dalam transisi “merdeka belajar.”